Lilin di tangan Nita berkedip satu kali, dan dari puncak tangga Arsa melihat nyala kecil itu seakan menyusut sejengkal—satu titik kuning yang gemetar di lautan gelap di lantai bawah. Ia memaksa dirinya berbalik dari pemandangan istri dan anaknya, menghadap koridor lantai dua, ke arah pintu paling ujung yang menganga seperti mulut.
Hanya tinggal beberapa langkah, pikirnya. Ia sudah menghafal koridor ini—dua pintu, papan lantai yang berderit di tengah, kamar Wulan di ujung dengan lubang dan tulang yang menunggu di bawah papan terbuka. Tapi saat ia melangkahkan kaki pertama ke koridor, lantai di bawahnya terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Pintu ujung itu, yang tadi sedekat tujuh-delapan langkah, kini tampak lebih jauh, menyurut ke belakang seperti benda yang dilihat lewat ujung teropong yang salah.
Ia melangkah lagi. Pintu itu menjauh lagi. Lantai kayu di bawah telapaknya terasa basah dan dingin, dan setiap papan yang ia injak berderit dengan nada yang sedikit berbeda, seakan koridor itu memainkan tangga nada turun yang tak pernah sampai ke nada terakhirnya.
"Tidak," bisik Arsa pada dirinya sendiri. Keringat dingin membasahi punggungnya meski udara membeku. "Ini cuma di kepala. Cuma takut." Ia mengulanginya seperti mantra, tapi suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, teredam, seakan ia mengucapkannya dari dalam sumur.
Di sampingnya, dingin tubuh Wulan menyentuh lengannya, dan suaranya muncul langsung di dalam tempurung kepalanya, lemah, seperti seseorang yang berbicara sambil menahan beban. "Jangan percaya matamu di rumah ini. Mata yang dia setir. Hitung langkahmu. Jangan hitung jaraknya."
Arsa menutup matanya separuh. Ia berhenti memandang pintu ujung dan mulai memandang kakinya sendiri. Satu langkah. Dua. Papan ketiga yang berderit—ia mengenali bunyinya, derit yang sama yang dulu membuatnya naik menyelidik di malam-malam awal. Tapi kali ini, setelah papan yang berderit, ada papan lain, lalu papan lain lagi, dan koridor yang panjangnya tak lebih dari empat meter seakan memanjang menjadi lorong tanpa ujung, dinding-dindingnya merapat lalu meregang, plester mengelupas menampakkan bilah kayu di baliknya seperti tulang rusuk.
Dari bawah tanah, jauh di bawah lantai bawah, tawa itu menguat. Bukan lebih keras—lebih dekat. Pelan, dalam, sabar, naik melalui pondasi rumah seperti air merembes naik. Setiap kali tawa itu berdenyut, lantai di depan Arsa seakan menumbuhkan satu petak baru, satu meter baru kegelapan yang harus ia tempuh.
"Dia menahanmu di sini," kata Wulan, dan untuk pertama kalinya ada nada panik di suaranya yang mati. "Selama gelap, koridor ini miliknya. Dia bisa membuatnya sepanjang yang dia mau."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Arsa nyaris terisak. Pintu ujung itu kini hanya bintik pucat di kejauhan yang mustahil.
"Berhenti berjalan ke arahnya." Suara Wulan menajam. "Cahaya. Kamu punya cahaya."
Arsa baru sadar bahwa ia masih menggenggam sesuatu di tangan kiri—bukan lilin, lilin ada pada Nita di bawah—melainkan korek api, kotak korek yang tadi ia sambar dari laci bersama lilin. Tangannya gemetar hebat saat ia membukanya. Hanya tersisa beberapa batang. Ia menggeretkan satu. Bunyi gesekan itu nyaring sekali di keheningan, lalu nyala kecil melompat, oranye dan rapuh, dan untuk sekejap koridor di sekelilingnya mengkerut kembali ke ukuran sebenarnya—dinding sempit yang lembap, dua pintu, dan pintu ujung yang dekat, hanya beberapa langkah saja.
Dan di tepi cahaya korek itu, di ujung koridor yang tadi tampak jauh, ada sosok yang menunduk.
Arsa membeku. Sosok di sudut. Ia berdiri tepat di antara Arsa dan pintu kamar Wulan, tinggi dan kurus, kepalanya tertunduk sehingga yang Arsa lihat hanya rambut hitam basah yang menjuntai menutupi wajah yang tak ada. Dingin meruap darinya, dingin murni yang membuat nyala korek di tangan Arsa membungkuk menjauh seakan takut.
"Jangan tatap dia." Wulan melayang ke depan, menempatkan tubuhnya yang mati di antara Arsa dan sosok itu, persis seperti di tangga tadi. Bau melati—busuk tapi nyata, penanda kehadirannya—menyergap hidung Arsa, dan anehnya bau itu menenangkan, karena bau itu berarti Wulan ada, Wulan di pihaknya. "Tatap aku. Ikuti aku. Selama korek itu nyala, dia tidak bisa membuat lorong lebih panjang."
Arsa melangkah, mata terpaku pada punggung Wulan yang basah, korek menyala di tangannya yang terangkat. Satu langkah. Sosok di sudut tidak bergerak, tapi saat Arsa mendekat, ia mendengar geraman itu—bunyi yang terasa di gigi, di tulang dada, bukan di telinga. Nyala korek mulai memendek; api menjalar turun ke jarinya.
"Cepat," desis Wulan. "Sebelum mati."
Arsa berlari. Tiga langkah, empat, melewati Wulan, melewati tempat sosok itu berdiri—dan untuk sepersekian detik ia merasakan dingin yang menyengat seperti tercebur ke air es, kekosongan yang menyedot di dadanya, suara tawa membengkak memenuhi seluruh koridor—lalu ia menubruk daun pintu kamar Wulan, terjatuh masuk ke dalam, dan korek di tangannya padam tepat saat lututnya menghantam papan lantai yang terbuka di sisi lubang. Rasa sakit tajam menjalar dari tempurung lututnya, dan untuk sekejap ia bersyukur pada rasa sakit itu—rasa sakit yang nyata, yang berarti tubuhnya masih tubuhnya, masih di dunia yang punya aturan.
Dalam gelap total, napasnya memburu, putih dan beruap di udara yang membeku. Ia mengulurkan tangan, meraba ke bawah, ke dalam lubang yang menganga di lantai, dan jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras dan rapuh.
Tulang.
Di belakangnya, di ambang pintu yang baru ia lewati, geraman itu berubah lagi menjadi tawa—pelan, sabar, sangat dekat sekarang—dan Arsa tahu, dengan kepastian yang membuat perutnya mual, bahwa ia telah masuk ke ruangan paling dalam di rumah ini, dan satu-satunya jalan keluar adalah kembali melewati sosok yang menunggunya di pintu.