Arsa berlutut di kegelapan total, tangannya tenggelam dalam lubang di lantai kamar Wulan, jari-jarinya meraba sesuatu yang dingin, halus, dan tak boleh disebut apa pun selain apa adanya: tulang. Tulang lengan, mungkin. Lalu lengkung yang lebih besar—tulang rusuk, atau pinggul. Ia tak bisa melihat, hanya merasa, dan setiap sentuhan mengirim getaran ngeri sekaligus pilu menjalari lengannya. Lima puluh lima tahun gadis ini terbaring di sini, di bawah papan, di rumah yang menelannya.
Bau di lubang itu adalah bau tanah lembap dan sesuatu yang lebih tua—bukan busuk daging, daging sudah lama hilang, melainkan bau waktu itu sendiri, bau benda yang terkubur dan dilupakan. Lutut Arsa basah oleh lumpur dingin di tepi lubang, dan di luar lingkaran ketakutannya ia mendengar tetes air dari langit-langit kamar jatuh ke lantai dengan irama yang teratur, tuk, tuk, tuk, seperti jam yang menghitung mundur sesuatu yang ia tak tahu.
Tangannya gemetar terlalu hebat untuk bekerja. Ia menarik napas, dan dalam tarikan itu masuk bau melati—busuk, tapi pekat sekarang, mengelilinginya seperti selimut. Lalu dingin yang berbeda dari dingin tawa di koridor menyapu pergelangan tangannya. Dingin ini tidak menyedot. Dingin ini membimbing.
"Pelan," suara Wulan muncul di kepalanya, lebih lembut daripada tadi, hampir seperti orang yang menahan tangis. "Itu aku. Bagian itu adalah aku."
Arsa menelan ludah. "Maaf," bisiknya tanpa berpikir, lalu merasa konyol meminta maaf pada tulang. Tapi tidak konyol. Ini orang. Ini seseorang. Seseorang yang punya nama, punya wajah di foto kliping yang masih terselip di sakunya, punya ayah dan adik dan kamar dengan meja rias. "Aku akan hati-hati," ulangnya, lebih pelan. "Aku janji."
Sesuatu seperti tangan menutupi tangannya—dingin air es, menembus kulit bukannya menekan kulit—dan menuntun jari-jarinya. Ke kiri sedikit. Di sana ada kain. Arsa menariknya pelan; kain itu lapuk, hancur di sebagian tepinya, melepuhkan serat-serat halus yang menempel di jarinya yang basah, tapi masih utuh sebagai lembaran besar. Kebaya. Kebaya yang dulu dikenakan Wulan, yang ikut terkubur bersamanya, kini menjadi pembungkus yang disediakan waktu untuk tulangnya sendiri.
"Pakai itu," kata Wulan. "Bungkus aku dengan itu. Jangan ada yang tertinggal. Kalau ada satu pun bagianku tertinggal di rumah ini, aku tetap di sini. Dan kamu tidak akan bisa keluar."
Arsa bekerja dalam gelap, dituntun sentuhan dingin di punggung tangannya. Ia membentangkan kebaya lapuk itu di samping lubang, lalu satu per satu memindahkan tulang ke atasnya. Tengkorak—ia mengenalinya dari lengkung dan rongga, dan saat jarinya menyentuh tepi rongga mata, tangan dingin Wulan mencengkeram pergelangannya sekejap, bukan untuk menghentikan, tapi seakan untuk berkata terima kasih. Tulang-tulang panjang. Tulang-tulang kecil jari yang harus ia kumpulkan satu demi satu dengan kesabaran yang menyiksa, meraba dasar lubang yang berlumpur dingin, takut meninggalkan sebutir pun.
Di luar pintu, sosok di sudut menggeram di ambang. Arsa bisa merasakannya tanpa melihat—turunnya suhu di sisi ruangan yang menghadap pintu, kekosongan yang menekan seperti tekanan air di kedalaman. Tapi sosok itu tidak masuk. Ia berhenti di ambang, dan setiap kali Arsa mengangkat satu tulang ke dalam kebaya, geraman itu naik satu nada, marah, tapi tetap di luar. Sesekali angin dingin menyusup dari arah pintu dan mengaduk debu di lantai, dan dalam debu itu Arsa nyaris bisa membaca pola—garis-garis yang membentuk dan membongkar diri sendiri, seperti tulisan yang ditulis lalu dihapus berulang oleh tangan yang tak sabar.
"Kenapa dia nggak masuk?" bisik Arsa, jari-jarinya terus meraba dasar lubang yang dingin.
"Selama aku menutupimu, dia tidak bisa." Suara Wulan melemah, seakan upaya menahan sosok itu menguras apa pun yang tersisa dari dirinya. "Dan selama tanganmu menyentuh tulangku, kamu membawaku, dan dia takut pada apa yang aku tahu. Aku melihat malam itu, Arsa. Aku melihat siapa yang menyetir tangan yang membunuhku. Itu rahasia yang dia kubur lebih dalam dari kuburku. Dia tidak akan membiarkan rahasia itu keluar dari pintu depan."
Arsa mengikat sudut-sudut kebaya, menjadikannya buntelan, mengikatnya dengan lengan kain yang ia robek panjang. Buntelan itu lebih ringan dari yang ia bayangkan—begitu ringan sehingga ia harus menahan air mata, karena seluruh hidup seorang gadis sembilan belas tahun, seluruh tahun-tahun yang tak pernah ia jalani, kini muat dalam sebuah buntelan kain lapuk yang bisa ia dekap dengan dua tangan.
Ia berdiri, mendekap buntelan itu ke dadanya, terasa rapuh dan dingin lewat kain bajunya yang basah keringat. Dingin Wulan menyelimutinya, dan untuk pertama kalinya bau melati yang menyertainya tidak lagi sepenuhnya busuk—ada secercah wangi bersih di baliknya, samar, seperti janji. Di luar pintu, geraman itu meninggi menjadi raungan yang menggetarkan kaca jendela yang tak bisa pecah, lalu mereda, seakan sosok itu mengerti bahwa apa yang ia jaga selama lima puluh lima tahun kini terangkat dari tanah dan hendak dibawa keluar dari dindingnya.
"Sekarang," kata Wulan, suaranya tipis seperti benang yang hampir putus, "bawa aku turun. Ke pintu depan. Aku akan menahannya selama aku bisa. Tapi Arsa—" sentuhan dingin itu memegang wajahnya sekali lagi, memaksanya menatap pintu gelap tempat sosok itu menunggu, "—jangan berhenti. Apa pun yang dia perlihatkan padamu di tangga. Apa pun yang kamu dengar. Lilin istrimu masih menyala. Selama itu menyala, ada celah. Begitu padam, tidak ada lagi."
Dari bawah, tipis menembus lantai, Arsa mendengar suara Nita memanggil namanya, putus-putus, dan di balik suara itu, suara Bila yang berubah—datar, asing, bukan suara anak kecil—mengucapkan satu kalimat yang membuat darah Arsa membeku: "Om datang."