Suara Bila menembus lantai dan menusuk dada Arsa lebih tajam daripada apa pun yang menunggu di koridor. "Om datang." Datar. Bukan rengekan, bukan tangis. Suara yang dipinjam dari mulut anaknya.
Di lantai bawah, Nita berdiri di tengah lingkaran cahaya lilin yang menyusut, satu lengan mendekap Bila ke pinggangnya, tangan yang lain mengangkat lilin setinggi mungkin. Arsa tak bisa melihatnya dari atas, tapi ia bisa membayangkannya, dan saat ia mulai menuruni tangga dengan buntelan tulang di dada, ia melihat nyala kecil itu—bukan tegak lagi, melainkan membungkuk, menari liar ke satu sisi seakan ada angin yang meniupnya, padahal udara di rumah itu mati tak bergerak.
"Nita!" Arsa berseru. "Jaga apinya! Tutupi dengan tanganmu!"
Tapi Nita tak menjawab. Saat Arsa turun beberapa anak tangga lagi dan ruang tamu masuk ke pandangannya, ia melihat istrinya berdiri kaku, matanya melebar, menatap sesuatu di seberang ruangan yang tak bisa Arsa lihat dari sudutnya. Dan di pinggangnya, Bila telah berhenti menangis. Anak itu berdiri tenang, terlalu tenang, kepalanya sedikit miring, menatap ke sudut gelap ruang tamu dengan ekspresi yang bukan ekspresi anak tujuh tahun.
"Bila bilang om datang," kata Bila lagi, masih dengan suara datar itu. Lalu ia mengangkat tangan kecilnya dan menunjuk ke sudut, ke kegelapan di balik lemari tua, dengan gerakan pelan seperti orang yang setengah tidur. "Om bilang lilinnya harus mati. Om bilang gelap lebih enak. Gelap lebih hangat."
"Bila." Nita mengguncang bahu anaknya, suaranya pecah. "Bila, lihat Mama. Lihat Mama, Nak."
Tapi Bila tidak menoleh. Anak itu terus menatap sudut, dan saat ia bicara lagi, nada suaranya melambat, melengkung naik-turun seperti orang yang mulai menyanyi. "Gelap nggak nakal, Ma," gumamnya. "Gelap cuma laper. Om bilang kalau Bila mau, Bila bisa nemenin Om. Biar Om nggak laper lagi."
Lilin membungkuk lagi, lebih rendah, nyalanya menipis menjadi garis biru. Dingin merayap masuk ke lingkaran cahaya dari segala arah; Arsa, masih di tangga, merasakannya menjalari kakinya. Sudut tempat Bila menunjuk seakan menjadi lebih gelap dari gelap di sekelilingnya, sebuah kepekatan yang punya kedalaman, dan dari kepekatan itu suhu turun begitu tajam sampai napas Nita keluar sebagai kabut putih.
"Nita, dengarkan aku." Arsa memaksa suaranya tenang walau ia ingin berlari. "Jangan biarkan lilin itu mati. Lindungi nyalanya dengan tubuhmu. Punggungi sudut itu. Jangan lihat ke sana, dan jangan biarkan Bila lihat ke sana."
Nita bergerak seperti orang dalam mimpi buruk, tapi ia bergerak. Ia memutar tubuhnya sehingga punggungnya menghadap sudut gelap, melindungi lilin dengan tubuhnya dan lengkung tangannya, dan menarik Bila erat ke dadanya sehingga wajah anak itu terbenam di bahunya, tak lagi menghadap sudut. "Lihat Mama," bisiknya berulang-ulang ke rambut Bila. "Cuma Mama. Cuma Mama."
Untuk sesaat lilin menegak kembali, nyalanya pulih sedikit. Tapi lalu Arsa melihat masalahnya—lilin itu sudah tinggal sepertiga, dan tetesan lilin cair menumpuk di tangan Nita, dan nyala itu tak akan bertahan lama lagi. Mereka butuh api lain.
"Korek!" seru Arsa, menuruni anak tangga terakhir dengan setengah jatuh, buntelan tulang terdekap erat. "Apa masih ada korek? Di laci, di dapur—Nita, ada korek lagi nggak?"
Nita menggeleng panik, lalu—mata berkilat—mengangguk. Tangannya yang gemetar merogoh saku celananya sendiri dan mengeluarkan sebuah kotak korek kecil, kusut, yang entah sejak kapan ada di sana. Ia menggoyangnya; ada bunyi, beberapa batang tersisa. Korek terakhir di rumah ini.
Tapi tangannya terlalu gemetar untuk menyalakannya sambil memegang Bila dan melindungi lilin sekaligus. Saat ia mencoba, kotak itu hampir terlepas dari jarinya. Dan di seberang ruangan, sudut gelap itu bergerak—kepekatan itu bergeser maju, satu langkah, dan lilin yang sudah tinggal sepertiga membungkuk hampir rata dengan sumbunya.
Arsa menjatuhkan diri di sisi Nita, menaruh buntelan tulang di pangkuannya sendiri, dan merebut kotak korek. "Pegang lilinnya. Aku yang nyalakan."
Ia menggeretkan satu batang. Patah. Batang korek itu mematah di antara jarinya yang basah keringat, kepala merahnya terlepas tanpa nyala. Ia membuangnya, mengambil yang berikutnya, memaksa tangannya berhenti gemetar—tak bisa. Menggeretkan yang kedua. Bunga api melompat tapi tak menyala, hanya percikan oranye yang mati seketika di udara dingin. Di belakang mereka, dingin mencapai tengkuknya, menjalar naik ke kulit kepalanya seperti tangan tak kasatmata yang merayap, dan ia mendengar—dekat sekali, di telinganya seperti napas—tawa yang pelan dan sabar itu, dan suara Bila yang teredam di bahu Nita bergumam dalam tidur yang bukan tidur: "Om bilang... percuma. Om bilang Papa capek. Om bilang gelap aja, biar nggak capek lagi."
Arsa menggeretkan korek ketiga. Nyala menyala, oranye dan hidup. Ia memindahkannya ke sumbu lilin baru yang ia sambar dari atas meja—lilin cadangan, separuh terpakai, yang mereka pasang di hari kepindahan—dan sumbu itu menangkap api, membesar, dan lingkaran cahaya di sekeliling mereka melebar kembali, mendorong dingin mundur satu langkah. Dua lilin sekarang menyala di tangan keluarga itu.
Sudut gelap itu menggeram, surut. Dan di pelukan Nita, Bila mengangkat kepalanya, matanya berkedip, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, suaranya kembali menjadi suara anak kecil yang ketakutan. "Papa," isaknya. "Aku mau pulang. Tapi ini rumah kita. Kenapa aku mau pulang?"
Arsa mendekap mereka berdua, buntelan tulang di antara mereka, dua lilin menyala. "Sebentar lagi, Nak," bisiknya, walau ia tak tahu apakah itu benar. "Papa janji. Sebentar lagi."