Dua lilin menyala di tangan keluarga itu, dan untuk sesaat singkat ruang tamu memiliki batas lagi—lingkaran cahaya yang menahan kegelapan di tepinya. Arsa berlutut di lantai, satu tangan mendekap buntelan tulang Wulan ke dadanya, tangan yang lain menjaga nyala. Dingin masih menekan dari segala arah, tapi tidak maju.
Arsa memberikan satu lilin pada Nita dan menyimpan yang lain untuk dirinya, menutupi nyalanya dengan punggung tangan. Ia bisa merasakan rumah itu di sekelilingnya seperti makhluk yang menahan napas—dinding yang berkeringat, langit-langit yang berdenyut samar, papan lantai yang sesekali berderit sendiri di kegelapan di luar lingkaran cahaya. Tak ada satu pun yang bergerak ke arah mereka, tapi tak ada satu pun yang diam. Rumah itu menunggu, dan Arsa tahu menunggu adalah hal yang paling dikuasainya.
Lalu bau melati membanjir, kuat sekali, dan Wulan ada di antara mereka.
Ia tidak masuk lewat tangga. Ia hanya ada, tiba-tiba, berdiri di tepi lingkaran cahaya, rambut basahnya menjuntai, kebayanya menguning. Tetesan air jatuh dari ujung rambutnya ke lantai tanpa suara, tanpa bekas. Bila, di pelukan Nita, mengangkat wajah dan—untuk pertama kalinya malam itu—tersenyum kecil, lelah. "Mbak," bisiknya, dan dalam satu kata itu ada kepercayaan total seorang anak yang tahu mana yang ingin menyakitinya dan mana yang tidak.
"Kamu membawaku." Suara Wulan muncul di kepala Arsa, dan kali ini terdengar nyaris seperti kelegaan. Matanya yang kosong jatuh ke buntelan di dada Arsa. "Semua bagianku? Tidak ada yang tertinggal?"
"Semua," kata Arsa, dan suaranya bergetar. "Aku ambil semua. Aku rasa aku ambil semua. Aku raba sampai ke dasar lubang. Sampai jari-jari yang paling kecil."
Wulan menundukkan kepalanya, dan untuk sesaat rambut basah itu menyibak, dan Arsa melihat lagi wajah gadis sembilan belas tahun itu, sedih dan lelah dan, untuk pertama kalinya, hampir berharap. "Kalau begitu," kata Wulan, "berdiri. Ke pintu. Sekarang, selama dia masih takut padaku. Selama tulangku masih hangat oleh tanganmu, dia akan mundur."
Arsa bangkit, lututnya lemas, mendekap tulang. Nita berdiri di sisinya dengan Bila di gendongan dan satu lilin terangkat. Mereka bergerak bersama ke pintu depan—pintu yang sama yang di malam saat rumah bangun tak mau terbuka, yang menyatu dengan kusennya sekokoh tembok. Wulan melayang di depan mereka, dan di belakang, di tepi gelap ruangan, Arsa merasakan sosok di sudut mengikuti, dingin murni, kekosongan yang lapar, tawa yang kini berubah menjadi geraman rendah yang berkelanjutan.
Di pintu, Wulan mengangkat tangannya yang mati dan meletakkannya pada kayu. Tidak ada bunyi, tidak ada gemuruh. Hanya, perlahan, sebuah retak—garis tipis muncul di tempat daun pintu bertemu kusen, garis yang tadinya tak ada, seakan kayu yang menyatu kini mengingat bahwa ia pernah berupa pintu. Garis itu melebar. Sejengkal. Lalu sedikit lebih. Dari celah itu masuk udara—udara basah, dingin, berbau hujan dan tanah lorong, udara dari luar, udara nyata—dan masuk pula suara: gerimis, di luar, di dunia tempat malam hanyalah malam.
"Celah," bisik Wulan, dan suaranya menegang seperti orang mengangkat beban di luar batas. "Hanya selebar ini yang bisa kubuka. Hanya selama aku bisa menahannya. Pergi. Bila dulu. Lewat celahnya. Cepat."
Tapi saat Nita mendorong Bila ke arah celah, dingin di belakang mereka meledak menjadi sesuatu yang lebih dari dingin. Lilin di tangan Nita padam—ditiup oleh tarikan udara yang datang bukan dari celah pintu melainkan dari arah sudut, ditarik ke dalam kekosongan itu—dan satu lilin di tangan Arsa membungkuk hampir mati. Sosok di sudut bergerak, meluncur, dan kali ini ia tidak menuju Arsa. Ia menuju Bila.
Wulan menjerit—suara yang tak masuk lewat telinga tapi memenuhi seluruh kepala Arsa, ratapan yang mengandung lima puluh lima tahun—dan melemparkan dirinya di antara sosok itu dan anak kecil itu. Untuk sesaat dua kegelapan bertabrakan di ambang lingkaran cahaya yang menyusut, melati busuk melawan kekosongan murni, korban melawan yang memburunya, dan rumah itu mengerang di sekeliling mereka, dinding-dinding berderak, langit-langit meneteskan air berbau tanah.
"Pergi!" jerit Wulan. "Aku tidak bisa menahannya lama! Bawa aku keluar dan dia kehilangan cengkeramannya pada celah—PERGI!"
Arsa tak berpikir lagi. Ia mendorong Nita ke celah pintu—"Bila dulu, Nit, dorong Bila dulu!"—dan Nita menyorongkan tubuh kecil anak mereka lewat garis sempit itu lebih dahulu, ke dalam gelap basah di luar, lalu memeras tubuhnya sendiri menyusul, kebayanya menyangkut sekejap di tepi kayu yang kasar sebelum lepas. Arsa terakhir. Ia menyelipkan tubuhnya lewat garis sempit itu sambil mendekap buntelan tulang ke dadanya seperti perisai, kayu menyerempet bahunya hingga sobek bajunya, dingin mencakar punggungnya seperti kuku yang mencoba menahannya kembali masuk—dan lalu udara gerimis menamparnya, basah dan nyata, dan tanah berlumpur lorong ada di bawah kakinya, dan ia jatuh berlutut di luar rumah untuk pertama kalinya dalam apa yang terasa seperti seumur hidup, paru-parunya menghirup udara malam yang dingin tapi bukan dingin yang lapar.
Di belakangnya, celah pintu mulai menyempit kembali, kayu merangkak menyatu lagi. Dan di balik celah yang menutup itu, dalam gelap di dalam rumah, Arsa melihat untuk sekejap terakhir sosok perempuan berambut basah berdiri membelakangi pintu, menghadap kegelapan yang lebih dalam, menahannya, sementara di tangan Arsa buntelan tulangnya menjadi lebih ringan, lebih dingin, seakan sebagian dari dirinya kini benar-benar ikut keluar bersama mereka ke dalam hujan.