Pagi itu Jakarta basah oleh hujan semalam, tapi yang membanjiri gedung Astra bukan air. Dari jendela Lantai 8, Nadine melihat trotoar di bawah berubah jadi lautan kepala. Wartawan. Puluhan, mungkin lebih dari seratus. Mobil-mobil bertanda stasiun televisi berjejer dua baris di sepanjang jalan, antena parabola mereka teracung seperti tombak. Lampu blitz menyala-nyala walau matahari sudah terang, memantul di dinding kaca gedung dua belas lantai itu.
"Mereka tahu," kata Maya pelan di sampingnya. Rambut hitam pendeknya masih basah dari hujan. "Semalam dokumennya disebar ke mana-mana. Grup wartawan, akun-akun gosip, semuanya. Pagi ini jadi berita utama."
Nadine memegang teralis jendela. Telapak tangannya dingin. Ia memang melemparkan dokumen-dokumen itu di hadapan Renata kemarin malam, di aula, di depan tim Lúmin. Tapi ia tidak pernah mengirimnya ke media. Slip pembayaran, daftar potongan, utang fiktif yang berbunga — semua itu ia kumpulkan untuk membela diri, bukan untuk meledakkan gedung ini. Lalu siapa?
"Bukan kamu yang sebar?" Vania berdiri di pintu, lengannya bersedekap. Wajahnya yang biasanya sinis kini pucat. "Aku pikir kamu."
"Bukan." Nadine menggeleng. "Aku cuma membawanya ke aula. Tidak ke wartawan."
Mereka saling pandang. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap: kalau bukan Nadine, lalu siapa yang membocorkan ratusan halaman kontrak Astra ke seluruh negeri dalam satu malam?
Di lorong, suara langkah tergesa terdengar. Pintu-pintu kamar asrama yang biasanya tertib kini terbuka semua. Model-model muda berkerumun, sebagian menggenggam ponsel, membaca berita tentang agensi mereka sendiri. Seorang gadis baru — mungkin enam belas tahun, baru dua bulan di Astra — duduk di tangga sambil menangis. "Aku belum bayar utang investasiku," isaknya. "Kalau Astra tutup, aku harus bayar ke siapa? Bapakku sudah jual sawah buat ke sini."
Nadine berlutut di depannya. "Dengar," katanya, "utang itu tidak nyata. Itu cuma angka yang mereka karang supaya kamu tidak bisa pergi. Kamu tidak berutang apa-apa."
"Bener?" Mata gadis itu basah, penuh harap dan takut sekaligus.
"Aku akan buktikan," kata Nadine. Ia tidak tahu bagaimana, tapi ia tahu kalimat itu harus diucapkan.
Telepon di ruang depan berdering tanpa henti. Resepsionis sudah pergi entah ke mana. Renata mengunci diri di kantornya sejak subuh; lewat celah pintu Nadine melihat sosoknya berdiri membelakangi, telepon menempel di telinga, suaranya tertekan tapi tajam. "...kendalikan beritanya... aku tidak peduli berapa biayanya... jangan biarkan nama itu disebut..."
Nama itu. Nadine menahan langkah. Nama siapa? Renata tidak menyebut Astra. Ia menyebut nama lain — seseorang yang harus dilindungi, seseorang yang lebih takut disebut daripada skandal itu sendiri.
Di luar, seorang reporter berteriak ke arah kamera, suaranya menembus kaca: "...terungkap praktik kontrak yang diduga eksploitatif di salah satu agensi model terbesar di ibu kota. Sumber kami menyebut seorang model muda berinisial N sebagai pihak yang membongkar..."
Maya menarik napas. "Mereka sudah tahu inisialmu."
"Biar," kata Nadine. Tapi jantungnya berdebar. Inisial hari ini, nama esok, lalu wajah, lalu desa, lalu ayahnya. Badai yang ia kira hanya akan menghantam Astra ternyata punya angin yang bisa berbalik ke arahnya.
Vania melangkah ke jendela, menatap kerumunan di bawah. "Ayahku punya kenalan di tiga stasiun itu," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kalau mereka tahu aku ikut... " Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Madame Sylvia muncul di ujung lorong, masih dengan postur tegak khasnya, dagu terangkat seolah ini hari latihan biasa. Tapi matanya menyapu kerumunan model dengan ekspresi yang sulit dibaca — bukan dingin, bukan pula iba. Sesuatu yang lebih tua. Seperti seseorang yang pernah melihat badai ini sebelumnya, di tempat lain, di masa lain.
"Kalian semua," kata Sylvia, suaranya menggema di lorong. "Berhenti menangis. Berhenti panik. Yang menangis di depan badai akan tersapu lebih dulu." Ia berjalan mendekati Nadine. Untuk sesaat, sangat singkat, ia menunduk — hampir tak kentara — sebuah isyarat hormat dari guru yang selama ini tak pernah memberi pujian. "Kau membuka sesuatu yang sudah bertahun-tahun dikunci, Nak. Sekarang kau harus cukup kuat untuk berdiri di pintunya."
Telepon di kantor Renata terbanting. Pintu terbuka. Renata keluar, wajahnya yang biasa tanpa cela kini retak oleh kemarahan dan — Nadine baru menyadarinya — ketakutan.
"Konferensi pers," kata Renata, suaranya datar berbahaya. "Sore ini. Aku akan bicara pada mereka. Dan kau," matanya menusuk Nadine, "akan duduk diam dan membiarkan aku menjelaskan bahwa semua ini cuma salah paham seorang gadis desa yang tidak mengerti bisnis."
Nadine berdiri. Tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeternya kini terasa seperti milik orang lain — bukan gadis yang tersandung di hak tinggi sebulan lalu, melainkan seseorang yang baru tahu betapa jauh suaranya bisa sampai.
"Saya akan duduk di konferensi pers itu," kata Nadine pelan. "Tapi saya tidak akan diam."