Tiga hari itu terasa seperti tiga tahun. Nadine nyaris tidak tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat dua wajah, wajahnya sendiri dengan tulang pipi tegas dan kulit sawo matang, dan wajah asing yang sempurna dari foto simulasi itu.
Ia menelepon ayahnya dari telepon umum di luar asrama, satu-satunya cara agar agensi tidak menyadap percakapan mereka. Mendengar suara serak ayahnya membuat air matanya langsung tumpah.
"Nadine? Ada apa, Nak? Kau sehat?"
"Pak..." suaranya tercekat. "Kalau aku harus mengubah wajahku, kulit ku, semuanya, supaya jadi sukses... apakah aku masih anak Bapak?"
Hening sejenak di ujung telepon. Lalu suara ayahnya, tenang dan dalam. "Nadine, dengar Bapak. Wajahmu itu wajah ibumu. Kulitmu itu kulit Bapak, kulit laut, kulit tanah kita. Tapi kalaupun kau ubah semuanya, kau tetap anak Bapak. Yang Bapak takutkan bukan wajahmu yang berubah. Yang Bapak takutkan adalah hatimu yang berubah. Apa pun yang kau pilih, jangan sampai kau kehilangan dirimu di dalam sini." Nadine bisa membayangkan ayahnya menunjuk dada. "Sukses yang membuatmu membenci cermin bukanlah sukses, Nak. Itu penjara."
Kata-kata itu meresap ke dalam tulangnya.
Malam terakhir sebelum pertemuan dengan tim Lúmin, Nadine duduk di aula latihan yang gelap, tempat ia pertama kali jatuh dan bangkit. Maya dan, mengejutkan, Vania, datang menemaninya.
"Kalau kau menolak," kata Vania pelan, "Renata akan menghancurkanmu. Aku tahu cara kerjanya. Dia akan mencoretmu dari semua pekerjaan, menyebarkan kabar buruk, membuatmu tidak bisa bekerja di agensi mana pun."
"Dan kalau aku menerima," sahut Nadine, "aku akan menatap cermin selama sisa hidupku dan melihat orang asing. Aku akan menang, tapi aku kalah pada hal yang paling penting."
Maya menggenggam tangannya. "Apa pun keputusanmu, kami di belakangmu."
Nadine menatap kedua gadis itu, satu sahabat sejak awal, satu mantan musuh yang kini berdiri di sisinya. Sesuatu telah berubah di antara mereka, dan di antara model-model lain yang diam-diam mulai mendengarkan cerita Nadine tentang potongan dan utang dan sistem yang memeras.
Pagi itu tiba. Ruang rapat Astra ditata mewah. Tim Lúmin Paris hadir, tiga orang berpakaian elegan dengan ekspresi profesional. Renata duduk di ujung meja, tersenyum penuh percaya diri. Di tengah meja, map berisi foto simulasi wajah baru Nadine dan kontrak duta merek bernilai miliaran rupiah.
"Nona Nadine," kata pemimpin tim Lúmin dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan asistennya. "Kami sangat terkesan dengan editorial Anda. Kami percaya Anda bisa menjadi wajah Lúmin untuk seluruh Asia Tenggara. Kontrak ini akan mengubah hidup Anda. Yang kami butuhkan hanya kesediaan Anda untuk beberapa... penyesuaian, seperti yang sudah dijelaskan."
Semua mata tertuju pada Nadine. Renata menatapnya dengan pandangan yang berkata, jangan berani-berani.
Nadine berdiri. Tangannya gemetar, tetapi suaranya jernih.
"Terima kasih atas kesempatan luar biasa ini," katanya. "Sungguh, ini lebih dari yang pernah saya impikan." Ia mengambil napas dalam-dalam. "Tapi saya tidak bisa menerimanya."
Ruangan membeku. Senyum Renata menghilang seketika.
"Kalian melihat sesuatu dalam foto editorial saya," lanjut Nadine, suaranya semakin mantap. "Sesuatu yang membuat kalian terbang dari Paris ke sini. Tahukah kalian apa itu? Itu adalah saya. Wajah ini. Kulit ini. Tulang pipi pemberian ibu saya yang sudah meninggal. Cerita seorang gadis nelayan dari Pasir Putih yang datang ke kota dengan koper rafia. Kalau saya menghapus semua itu untuk menjadi wajah yang kalian sebut universal, kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Kalian hanya akan mendapatkan satu boneka lagi dari ribuan boneka yang sudah ada. Yang membuat saya berharga justru adalah hal-hal yang kalian minta saya buang."
Pemimpin tim Lúmin terdiam, lalu saling berpandangan dengan rekan-rekannya.
"Nadine!" Renata berdiri, wajahnya merah padam. "Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Kau baru saja membakar kariermu sendiri! Aku akan memastikan kau tidak akan pernah—"
"Sebelum Ibu melanjutkan," potong Nadine, dan kini ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, setumpuk dokumen yang telah ia kumpulkan bersama Maya selama berminggu-minggu. Slip pembayaran. Catatan potongan. Bukti utang yang dibuat-buat. "Saya rasa tim Lúmin, dan mungkin pihak berwenang, akan tertarik melihat bagaimana Astra memperlakukan modelnya. Empat puluh persen komisi. Utang fiktif. Denda yang tidak masuk akal. Pemerasan terselubung. Saya bukan satu-satunya. Ada belasan gadis di asrama itu yang mengalami hal yang sama."
Wajah Renata berubah pucat pasi. Tim Lúmin yang tadinya tenang kini saling berbisik dengan ekspresi cemas. Reputasi adalah segalanya bagi merek mewah.
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Maya melangkah masuk, diikuti Vania, lalu Kirana, lalu satu per satu, model-model lain dari asrama Astra. Mereka berdiri di belakang Nadine, sebuah barisan yang tak terbantahkan.
"Kami semua punya cerita yang sama, Bu Renata," kata Maya, suaranya bergetar tetapi tegas.
Renata terhuyung mundur, mencari kata-kata yang tidak datang. Pemimpin tim Lúmin berdiri perlahan, menatap Nadine dengan ekspresi yang sama sekali baru, bukan menilai aset, tetapi menghormati manusia.
Lalu telepon di saku jas pengacara Astra berdering nyaring, memecah keheningan. Ia mengangkatnya, mendengarkan, dan wajahnya berubah ngeri.
"Bu Renata," bisiknya, tangannya menutupi gagang telepon, suaranya bergetar. "Ini dari... wartawan. Mereka bilang foto-foto dokumen kontrak Astra sudah tersebar. Sekarang sudah viral di mana-mana."
Semua kepala berputar ke arah Nadine.
Nadine menatap Renata dengan tenang, jantungnya berdebar keras. Ia tahu pertaruhan terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai, dan tidak ada jalan untuk kembali.
"Apa yang sudah kau lakukan?" bisik Renata.
Nadine hanya tersenyum samar. "Saya memilih jadi manusia, Bu. Bukan boneka."