Keesokan paginya, Nadine dipanggil ke kantor Renata lebih awal dari biasanya. Suasana di ruangan itu berbeda. Lebih dingin. Renata duduk di balik mejanya dengan jari-jari yang saling bertaut, dan di sampingnya berdiri seorang pria berjas yang tidak Nadine kenal.
"Nadine," kata Renata, suaranya manis berbahaya. "Aku mendengar kau punya... pemikiran menarik akhir-akhir ini. Tentang kontrak. Tentang potongan. Tentang melawan."
Jantung Nadine mencelos. Asisten pribadi Renata pasti telah mendengar dan melaporkan percakapannya di tangga darurat semalam.
"Aku hanya berbicara dengan teman, Bu," kata Nadine hati-hati.
"Tentu, tentu." Renata tersenyum tipis. "Tapi mari kita perjelas sesuatu. Kontrak yang kau tandatangani itu sah secara hukum. Pak Hendra di sini adalah pengacara Astra. Dia bisa menjelaskan dengan detail berapa banyak yang harus kau bayar jika kau memutuskan untuk... pergi sebelum waktunya. Lima ratus juta penalti, ditambah utang akumulatifmu, ditambah ganti rugi atas reputasi."
Nadine menelan ludah, tetapi tidak menunduk.
"Namun," lanjut Renata, dan nadanya berubah, "aku bukan orang jahat, Nadine. Aku melihat potensimu. Aku tidak mau membuang aset berhargaku hanya karena sedikit pemberontakan kecil. Jadi aku punya tawaran untukmu."
Renata mendorong sebuah map ke arah Nadine. "Sebuah merek mewah internasional, Lúmin Paris, sedang masuk ke pasar Indonesia. Mereka mencari satu wajah untuk menjadi duta merek mereka. Wajah Asia Tenggara yang akan menjadi bintang regional. Kampanye besar. Billboard di seluruh kota. Iklan televisi. Bayaran yang bisa melunasi seluruh utangmu dan membuatmu kaya."
Nadine menahan napas. Lúmin Paris. Bahkan ia, gadis desa yang tidak tahu apa-apa tentang mode setahun lalu, pernah melihat nama itu di billboard merah pada malam pertamanya di Jakarta. Itu adalah merek dari billboard impiannya.
"Mereka tertarik padamu setelah Elegan," lanjut Renata. "Tapi ada syarat."
"Syarat apa?" tanya Nadine, suaranya nyaris berbisik.
Renata membuka map dan mengeluarkan beberapa foto, gambar simulasi digital wajah Nadine. Tetapi itu bukan wajah Nadine yang sebenarnya. Kulit sawo matangnya telah dipucatkan beberapa tingkat. Hidungnya dibuat lebih mancung. Tulang pipinya yang khas dihaluskan. Rambut hitamnya diubah menjadi cokelat terang. Gadis di foto itu cantik, tetapi ia adalah orang asing.
"Lúmin punya citra global yang harus dijaga," jelas Renata. "Mereka ingin wajah yang... universal. Lebih terang. Lebih halus. Tim mereka mengusulkan beberapa penyesuaian. Pemutihan kulit permanen. Operasi kecil di hidung. Mungkin tulang pipi. Dan tentu saja, cerita latar baru. Mulai sekarang, kau bukan gadis nelayan dari desa. Kau Nadine, model kosmopolitan dari keluarga terpandang."
Nadine menatap foto itu lama-lama. Gadis asing yang menatap balik kepadanya. Cantik, sempurna, dan kosong.
"Mereka ingin aku mengubah... wajahku?" tanyanya pelan.
"Bukan mengubah. Menyempurnakan," koreksi Renata. "Nadine, ini kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup. Gadis-gadis di luar sana rela memberikan apa saja untuk berada di posisimu. Ini akan menjadikanmu bintang internasional. Semua impianmu, terwujud."
Nadine teringat ayahnya di tepi jalan tanah merah. Jangan pernah lupa siapa dirimu. Apa pun yang mereka katakan di sana, kau anak nelayan dari Pasir Putih. Itu bukan aib.
Ia teringat tulang pipinya, yang Madame Sylvia sendiri katakan tidak bisa diajarkan, yang membuat Pak Bram terpana, yang membuat Bu Anjani memberinya kesempatan. Tulang pipi pemberian ibunya yang telah tiada. Kulit sawo matang yang sama dengan ayahnya, dengan tanahnya, dengan lautnya.
Mereka ingin ia menghapus semua itu. Untuk menjadi boneka yang sempurna.
"Berapa lama saya boleh berpikir, Bu?" tanya Nadine.
Renata menutup map dengan tegas. "Kau punya waktu tiga hari. Tim Lúmin terbang dari Paris akhir pekan ini untuk bertemu denganmu. Kalau kau setuju, prosedur pertama dijadwalkan minggu depan." Ia menatap Nadine tajam. "Dan Nadine, pikirkan baik-baik. Tawaran ini bukan hanya tentangmu. Ini menyelamatkan kariermu, melunasi utangmu, dan membuat Astra senang. Menolaknya berarti..." ia membiarkan kalimat itu menggantung, ancaman tak terucap di udara, "...berarti kau membuat banyak orang sangat kecewa. Dan orang yang membuat Astra kecewa, biasanya tidak bertahan lama di industri ini."
Nadine keluar dari ruangan dengan kepala berputar. Di lorong, Maya menunggunya dengan wajah cemas. "Bagaimana? Apa yang mereka mau?"
Nadine menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Mereka menawariku segalanya, Maya. Semua yang pernah kuimpikan." Ia menelan ludah. "Tapi dengan harga... aku harus berhenti menjadi diriku sendiri."