Editorial "Metamorfosis" terbit dua minggu kemudian. Foto Nadine memenuhi enam halaman Majalah Elegan, dengan namanya tercetak di bawah, Nadine, wajah baru yang menjanjikan. Dalam semalam, hidupnya berubah.
Telepon di kantor Astra berdering tanpa henti. Tiga merek pakaian, satu lini kosmetik, dan dua desainer untuk pekan mode mendatang menanyakan tentang Nadine. Renata, yang biasanya dingin, tersenyum lebar untuk pertama kalinya.
"Kau membuat kejutan, Nadine," katanya, menggeser setumpuk tawaran di mejanya. "Aku tidak menyangka secepat ini. Kau tahu apa artinya ini? Kau sekarang aset berharga Astra."
Aset. Kata itu lagi.
"Aku ingin tahu satu hal, Bu," kata Nadine. "Dari semua tawaran ini, berapa yang benar-benar masuk ke saya? Setelah semua potongan?"
Senyum Renata sedikit memudar. "Itu hitungan yang rumit. Tapi percayalah, kau sedang membangun nama. Uang akan datang nanti. Sekarang fokuslah membangun citra."
Nadine mengangguk, tetapi ia memutuskan untuk mulai mencatat. Setiap pekerjaan, setiap bayaran yang dijanjikan klien, setiap potongan yang diambil agensi. Maya membantunya diam-diam, mengajarinya cara membaca slip pembayaran yang sengaja dibuat membingungkan.
Dan apa yang mereka temukan membuat Nadine terkejut. Untuk editorial Elegan yang membuatnya terkenal, klien membayar Astra sejumlah besar. Tetapi setelah "biaya pelatihan", "biaya perawatan", "biaya manajemen", dan komisi empat puluh persen, yang masuk ke rekening Nadine hanyalah sebagian kecil. Bahkan, karena utang akumulatifnya pada agensi sejak masuk, secara teknis ia masih berutang.
"Aku bekerja sampai pingsan," bisik Nadine pada Maya malam itu, "dan aku masih berutang pada mereka?"
"Sekarang kau mengerti," kata Maya pahit. "Ini cara mereka menahan kita. Selama kita berutang, kita tidak bisa pergi. Dan selama kita tidak bisa pergi, mereka mengendalikan kita."
Sementara itu, kesuksesan Nadine memperburuk situasi dengan Vania. Pada penimbangan Senin, Vania, yang berat badannya tidak pernah turun, dimarahi Renata di depan semua orang. "Lihat Nadine," kata Renata tajam. "Dia datang dari nol dan sekarang masuk Elegan. Kau sudah tiga tahun di sini dan masih belum dapat apa-apa. Mungkin masalahnya bukan pada kesempatan, Vania. Mungkin masalahnya ada pada dirimu."
Wajah Vania memucat, lalu memerah. Ia menatap Nadine dengan kebencian yang murni. Dan Nadine, untuk pertama kalinya, merasa kasihan padanya. Karena ia mulai melihat bahwa Vania bukan sekadar penjahat. Vania adalah produk lain dari sistem yang sama, gadis yang telah dijanjikan bintang, lalu dibiarkan layu, dan kini melampiaskan keputusasaannya pada siapa pun yang bersinar.
Malam itu, Nadine menemukan Vania menangis sendirian di tangga darurat, tubuhnya yang biasanya angkuh kini meringkuk kecil.
Nadine ragu, lalu duduk di anak tangga di sebelahnya. Vania mendongak, matanya merah. "Mau menertawakanku? Silakan. Aku pantas mendapatkannya."
"Aku tidak datang untuk menertawakanmu," kata Nadine pelan.
"Kenapa kau baik padaku? Setelah semua yang kulakukan?" suara Vania bergetar. "Sepatumu, timbangan, gaun Elegan... itu semua aku. Kau tahu itu, kan?"
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
Nadine menatap ke kejauhan. "Karena aku tahu rasanya takut. Takut tidak cukup baik. Takut semua yang kau korbankan akan sia-sia." Ia berbalik menatap Vania. "Tapi kau salah menyalahkan orang yang salah, Vania. Bukan aku musuhmu. Lihat sekelilingmu. Lihat siapa yang mengambil empat puluh persen dari kerja kerasmu. Lihat siapa yang menjadikanmu berutang lalu memaksamu bersaing dengan sesama korban supaya kita tidak punya waktu untuk melawan mereka."
Vania terdiam, air matanya berhenti mengalir. Sesuatu dalam kata-kata Nadine menembus sesuatu yang lama membeku di dalam dirinya.
"Kau pikir kita bisa melawan mereka?" tanya Vania akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Astra terlalu besar. Renata punya pengacara, kontrak, koneksi. Kita cuma... daging."
"Mungkin sendirian kita memang cuma daging," kata Nadine. "Tapi kalau kita berhenti saling memakan, dan mulai melihat ke arah yang benar..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tetapi sebuah benih telah ditanam.
Vania menatapnya lama, lalu menyeka air matanya dan berdiri. "Aku masih tidak menyukaimu, Nona Desa," katanya, tetapi nada suaranya sudah berbeda. Lebih lunak.
Nadine tersenyum samar. "Itu permulaan yang bagus."
Apa yang tidak mereka sadari, di balik pintu tangga darurat, seseorang sedang menguping. Asisten pribadi Renata. Dan ia mendengar setiap kata tentang melawan, tentang empat puluh persen, tentang sistem yang memeras. Ia bergegas pergi untuk melaporkannya.