Studio Majalah Elegan jauh lebih besar dan profesional daripada apa pun yang pernah Nadine lihat. Tim penata rias, penata gaya, pencahayaan, dan asisten bergerak dengan presisi seperti orkestra. Di tengah semua itu, Nadine berdiri dengan jantung berdebar, tetapi pikiran yang anehnya jernih.
Bu Anjani datang sendiri untuk mengawasi. "Konsepnya adalah 'Metamorfosis'," jelasnya. "Transformasi. Dari kepompong menjadi kupu-kupu. Kami ingin melihat kerentanan yang berubah menjadi kekuatan. Kau bisa menyampaikan itu?"
Nadine teringat perjalanannya sendiri. Dari gadis desa yang tersandung di hari pertama, menjadi seseorang yang kini berdiri di studio bergengsi ini. "Saya rasa saya mengerti, Bu. Lebih dari yang Ibu kira."
Penata rias mengubah wajah Nadine dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Penata gaya membungkusnya dalam gaun pertama, kain putih sederhana yang menempel di tubuhnya seperti kepompong.
Pemotretan dimulai. Untuk seri pertama, Nadine harus memancarkan kerapuhan, ketakutan, kesendirian. Ia memejamkan mata dan teringat malam pertamanya di Jakarta, berdiri sendirian di terminal yang dingin dan asing, mencengkeram koper rafia seolah itu satu-satunya jangkar. Ia membiarkan perasaan itu mengalir ke wajahnya.
Klik. Klik.
"Sempurna," gumam fotografer. "Ada cerita di matanya."
Untuk seri kedua, gaun berganti menjadi sesuatu yang lebih tegas, struktur tajam dengan sayap kain yang melebar. Transformasi. Nadine mengingat momen ketika punggungnya menegak di ruang casting, ketika ia menatap Vania dan berkata, kau akan kalah taruhan. Ia membiarkan kekuatan itu memancar.
Klik. Klik. Klik.
Energinya menular ke seluruh ruangan. Para asisten berhenti bekerja untuk menonton. Bu Anjani, yang biasanya berwajah datar, mencondongkan tubuh ke depan.
Tetapi di tengah pemotretan, terjadi insiden. Saat Nadine berganti kostum di balik tirai, ia menemukan bahwa gaun terakhir, gaun penutup yang paling penting, telah ternoda. Cairan gelap, mungkin kopi, tumpah membasahi bagian depannya. Gaun rancangan eksklusif yang tidak ada gantinya.
"Ya Tuhan," penata gaya panik. "Ini gaun utama! Bu Anjani akan mengamuk!"
Nadine menatap noda itu, dan firasatnya langsung tertuju pada satu nama. Vania entah bagaimana telah menjangkau ke sini lagi. Tetapi ini bukan saat untuk marah. Ini saat untuk berpikir.
"Berapa lama lagi sebelum pemotretan terakhir?" tanya Nadine cepat.
"Sepuluh menit. Tidak mungkin mencari gaun pengganti dalam waktu—"
"Tidak perlu." Mata Nadine menyapu ruang penyimpanan kostum. Ia teringat sesuatu yang ibunya ajarkan dulu, saat mereka miskin dan harus mengubah pakaian lama menjadi sesuatu yang baru. "Gunting. Peniti. Dan kain itu." Ia menunjuk segulung kain sutra hitam di rak.
Dengan tangan yang cekatan, mengingat semua jahitan yang pernah ia bantu ibunya, Nadine memotong dan melilitkan kain hitam itu, menutupi noda, menciptakan siluet baru yang dramatis. Bukan gaun rancangan, tetapi sesuatu yang lahir dari keputusasaan dan kecerdikan. Penata gaya menatapnya dengan mulut ternganga.
"Bagaimana kau—"
"Ibu saya penjahit," jawab Nadine singkat. "Sekarang, bantu saya menyatukan bagian belakang."
Ketika Nadine melangkah ke depan kamera dengan kreasinya, Bu Anjani mengernyit. "Itu bukan gaun yang kami siapkan."
"Gaun aslinya rusak, Bu," jawab Nadine jujur, mengangkat dagu. "Saya membuat ini. Kalau Ibu tidak suka, saya bertanggung jawab penuh."
Keheningan mencekam. Lalu, perlahan, Bu Anjani berdiri dan mengelilingi Nadine, memeriksa kreasi dadakan itu dari segala sudut. "Improvisasi," gumamnya. "Di bawah tekanan. Dengan hasil yang... sebenarnya lebih menarik dari aslinya." Ia menoleh pada fotografer. "Potret. Sekarang. Sebelum dia berubah pikiran."
Seri terakhir itu menjadi yang terbaik. Nadine, dalam gaun buatannya sendiri, memancarkan sesuatu yang tidak bisa dipalsukan, kemenangan seseorang yang menolak dikalahkan oleh keadaan. Kupu-kupu yang akhirnya keluar dari kepompong.
Saat pemotretan selesai, seluruh ruangan bertepuk tangan. Bu Anjani menghampiri Nadine dan menjabat tangannya. "Aku sudah dua puluh tahun di industri ini. Jarang sekali aku menemukan seseorang yang bukan hanya cantik, tetapi punya ketenangan dan akal di bawah tekanan. Selamat datang di Elegan, Nadine. Editorial ini akan jadi sampul sisipan kami."
Sampul. Nadine nyaris tidak bisa bernapas.
Di perjalanan pulang, Maya memeluknya erat. "Kau berhasil! Kau benar-benar berhasil! Apa yang terjadi dengan gaun itu?"
Nadine menceritakan semuanya. Wajah Maya menggelap. "Itu pasti Vania. Dia sudah keterlaluan. Nadine, ini bukan lagi soal ejekan. Dia mencoba menghancurkan kariermu. Kau harus melaporkannya."
Nadine menatap keluar jendela, ke lampu-lampu kota yang mulai menyala. "Belum, Maya. Belum waktunya." Tetapi di dalam dirinya, ia tahu konfrontasi sudah tidak terhindarkan. Vania telah melewati batas. Dan Nadine tidak akan terus diam selamanya.