Telepon Vania berdering pukul satu dini hari.
Nadine terbangun karena mendengar Vania menjawabnya dengan suara tertahan di lorong gelap. Ia turun dari ranjang, mengintip. Vania berdiri menempel dinding, ponsel di telinga, tubuhnya kaku seperti baru disiram air es.
"...siapa ini?" suara Vania bergetar. Hening. Lalu: "Jangan bawa-bawa ayah saya."
Nadine mendekat. Vania menatapnya, lalu menekan tombol pengeras suara dengan tangan gemetar. Sebuah suara laki-laki mengalir keluar, tenang, dingin, terlatih untuk menakuti tanpa pernah meninggikan nada. Nadine mengenalinya. Pak Hendra.
"Vania, kamu anak yang pintar," kata suara itu. "Ayahmu punya bisnis tekstil yang baik di Surabaya. Banyak rekanan. Banyak kontrak dengan perusahaan besar. Akan sangat disayangkan kalau ada rumor — cuma rumor, tentu saja — bahwa keluargamu terlibat dalam skandal yang mempermalukan industri. Rekanan tidak suka skandal, Vania. Mereka menarik diri. Kontrak batal. Bisnis ayahmu yang dibangun puluhan tahun bisa goyah hanya karena anaknya keras kepala."
"Itu ancaman," kata Vania.
"Itu nasihat," jawab Hendra. "Tarik kesaksianmu. Bujuk teman-temanmu. Kau punya pengaruh di antara mereka. Lakukan itu, dan namamu, nama ayahmu, bisnis keluargamu — semuanya aman. Astra bahkan bisa memberimu kontrak besar yang selama tiga tahun ini tidak pernah kau dapat. Pikirkan, Vania. Kau bisa jadi pemenang di sini, bukan korban."
Telepon ditutup.
Vania menjatuhkan ponsel ke saku, lalu merosot ke lantai, punggung di dinding. Untuk pertama kalinya sejak Nadine mengenalnya, gadis yang dulu paling sinis, paling tajam lidahnya, itu tampak rapuh. Bukan model anak pengusaha kaya Surabaya. Hanya seorang gadis dua puluh tahun yang ketakutan di lorong gelap.
"Mereka tahu titik lemahku," bisik Vania. "Bukan aku yang mereka ancam. Ayahku. Dia... dia tidak tahu apa-apa soal semua ini. Dia cuma mengirimku ke sini supaya aku jadi 'orang'. Kalau bisnisnya hancur gara-gara aku—"
Nadine duduk di sampingnya di lantai dingin. Ia tidak langsung bicara. Ia tahu kalimat penghibur yang dangkal hanya akan terdengar palsu.
"Aku ingat," kata Nadine pelan setelah lama, "waktu kamu posting foto aku tersandung. Caption 'petani jadi model'. Aku marah berhari-hari. Aku pikir kamu jahat tanpa alasan."
Vania menutup mata. "Aku memang—"
"Tapi sekarang aku mengerti," lanjut Nadine. "Kamu juga ketakutan, dari dulu. Tiga tahun di sini, tidak pernah dapat kontrak besar, ayah yang menggantungkan harapan, takut pulang sebagai gagal. Kamu menyerang ke bawah karena tidak bisa menyerang ke atas." Ia menatap Vania. "Hendra tahu itu. Dia tahu kamu takut mengecewakan ayahmu. Itu sebabnya dia menelepon kamu, bukan aku."
Vania membuka mata, basah. "Jadi aku harus apa? Kalau aku diam, mungkin ayahku aman. Kalau aku bicara, mungkin ayahku jatuh — dan ayahku tidak pernah meminta apa-apa selain aku jadi orang sukses. Bagaimana aku menukar tiga puluh tahun kerja kerasnya dengan kesaksianku?"
Nadine teringat sesuatu. "Vania, kamu masih ingat malam aku menemukanmu menangis di tangga darurat? Waktu kamu mengaku semua sabotase itu — sepatu, timbangan, gaun Elegan?"
Vania mengangguk pelan, malu.
"Aku tidak membalasmu," kata Nadine. "Bukan karena aku baik. Tapi karena aku sadar kamu juga terjepit, sama seperti aku. Astra membuat kita saling menggigit supaya kita lupa siapa yang sebenarnya mengikat leher kita. Hendra menelepon kamu malam ini bukan karena kebetulan. Dia memilihmu karena dia tahu, dari laporan-laporan yang dikumpulkan asisten Renata, bahwa titik lemahmu adalah ayahmu. Mereka mempelajari kita, Vania. Setiap dari kita punya satu kabel yang kalau ditarik bisa membuat kita diam."
"Aku tidak akan menyuruhmu memilih," kata Nadine. "Itu pilihanmu, dan apa pun yang kamu pilih, aku tetap di sini. Tapi aku mau kamu tahu satu hal." Ia menggenggam tangan Vania yang dingin. "Mereka mengancam ayahmu karena ayahmu penting buatmu. Ayahku juga penting buatku. Bedanya, ayahku nelayan, tidak punya bisnis yang bisa dihancurkan, tidak punya apa-apa selain perahu tua dan satu kalimat: jangan pernah lupa siapa dirimu." Suaranya tersendat sedikit. "Kalau aku punya ayah yang masih bisa diancam, aku rasa aku akan lebih takut dari kamu sekarang. Jadi aku tidak akan menghakimi apa pun keputusanmu."
Vania menangis tanpa suara, bahunya berguncang. Lalu, perlahan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Nadine — gadis desa yang dulu ia hina, kini satu-satunya yang membuatnya merasa tidak sendirian di tengah malam terburuk dalam hidupnya.
Di ujung lorong, sosok berdiri di balik bayangan. Asisten pribadi Renata. Ia menyaksikan kedua gadis itu di lantai, lalu berbalik diam-diam, sepatunya tak bersuara di lantai. Tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang tahu apa yang akan ia laporkan, atau kepada siapa — Renata, atau seseorang yang bahkan Renata pun takut sebut namanya.