Vania tidak tidur malam itu. Nadine tahu, karena ia juga tidak. Mereka berdua duduk di ruang latihan sampai subuh, tidak banyak bicara, hanya menemani.
Pukul lima pagi, ketika langit Jakarta mulai kelabu dan suara azan terbawa angin dari masjid jauh, Vania mengeluarkan ponselnya. "Aku mau telepon ayahku," katanya. "Sebelum aku memutuskan, dia harus tahu kebenarannya. Dari aku. Bukan dari Hendra."
Nadine bangkit hendak keluar memberi ruang, tapi Vania menahan lengannya. "Tetap di sini. Tolong."
Telepon tersambung di dering ketiga. Suara berat seorang laki-laki paruh baya, kantuk bercampur cemas karena ditelepon sepagi itu. "Vania? Ada apa, Nak? Kamu sakit?"
"Pa," suara Vania bergetar, lalu menguat. "Papa pernah dengar berita tentang agensi modelku di Jakarta?"
Hening. "Papa dengar. Ada keributan. Papa pikir kamu tidak terlibat. Papa pikir kamu cuma model di sana."
"Aku terlibat, Pa." Vania menarik napas. "Aku terlibat karena aku korban. Aku dipotong gaji, ditipu utang yang tidak nyata, ditekan terus-menerus selama tiga tahun. Dan sekarang aku jadi saksi melawan mereka. Tadi malam pengacara mereka menelepon. Mereka mengancam akan menghancurkan bisnis Papa kalau aku tidak diam."
Hening yang panjang dan berat di seberang.
"Papa," lanjut Vania, dan kali ini air matanya jatuh, "selama tiga tahun aku bohong. Aku bilang semua baik, karierku menanjak, aku model sukses. Aku tidak mau Papa kecewa. Aku tidak mau pulang sebagai anak yang gagal di Jakarta. Tapi yang sebenarnya... aku terjebak, Pa. Aku takut. Dan aku menyakiti orang lain karena aku takut." Ia menatap Nadine sekilas. "Sekarang aku punya kesempatan benar-benar melakukan sesuatu. Tapi itu mungkin akan menghancurkan bisnis Papa. Jadi aku menelepon untuk minta maaf, dan untuk bertanya... apa Papa mau aku diam?"
Suara di seberang serak ketika akhirnya bicara. "Vania. Dengar Papa baik-baik." Hela napas berat. "Papa membangun bisnis tekstil ini supaya kamu tidak pernah harus tunduk pada siapa pun. Itu seluruh alasannya. Kalau sekarang bisnis itu yang dipakai untuk membuatmu tunduk pada penjahat — maka bisnis itu sudah gagal pada tugasnya, dan Papa rela ia hancur."
Vania menangis terisak, telapak tangan menutup mulut.
"Pabrik bisa dibangun lagi, Nak," kata ayahnya, suaranya juga bergetar sekarang. "Rekanan yang lari karena takut kebenaran memang tidak pantas jadi rekanan. Tapi anak yang menjual nuraninya untuk menyelamatkan pabrik bapaknya — itu yang tidak bisa Papa bangun lagi. Bicaralah, Vania. Bersaksilah. Dan kalau mereka berani menyentuh bisnis Papa, Papa sendiri yang akan ke Jakarta dan duduk di sampingmu di pengadilan."
Telepon ditutup. Vania menggenggam ponsel di dadanya, menangis lega bercampur takut, tapi sekarang lebih banyak lega. "Tiga tahun aku takut pulang sebagai gagal," bisiknya, "ternyata yang Papa takutkan justru aku pulang sebagai pengecut. Aku salah membaca ayahku sendiri selama ini."
"Banyak dari kita salah membaca orang yang menyayangi kita," kata Nadine pelan. "Karena kita terlalu sibuk takut mengecewakan mereka, sampai lupa bertanya apa yang sebenarnya mereka inginkan."
"Aku akan bersaksi," katanya pada Nadine, suaranya pecah tapi mata yang menyala. "Dengan namaku. Vania, anak Hartono Surya dari Surabaya. Biar mereka tahu siapa yang melawan mereka."
Nadine memeluknya. Di luar jendela, matahari pertama menyentuh atap-atap Jakarta. Gadis yang dulu memposting "petani jadi model" untuk mempermalukannya, kini memilih mempertaruhkan nama keluarganya — nama yang selama ini jadi bebannya — untuk membela kebenaran yang sama.
Ketika mereka kembali ke kamar, Bu Laras sudah menunggu di lobi, datang pagi-pagi membawa berkas. Vania langsung menghampirinya.
"Bu," kata Vania, mengusap wajahnya yang masih basah, "tambahkan satu nama lagi ke daftar saksi. Nama saya. Dan tolong catat: saya bersaksi bukan karena saya korban yang paling menderita. Tapi karena saya juga pernah jadi alat mereka untuk menjatuhkan orang lain. Saya mau menebusnya."
Bu Laras menatapnya lama, lalu menulis dengan hati-hati di buku catatan ribuannya. "Kesaksian dari orang yang dulu di dalam sistem," gumamnya, "selalu yang paling menghancurkan untuk sistem itu sendiri." Ia mengangkat wajah. "Selamat datang, Vania. Kau baru saja jadi senjata yang paling mereka takutkan."