Tiga hari menjelang sidang lanjutan, strategi pembelaan mereka bocor.
Bu Laras mengetahuinya saat Pak Hendra, di persidangan, membantah persis argumen yang baru mereka susun semalam di asrama — kata demi kata, seolah ia membaca catatan mereka sendiri. Wanita itu mengatupkan rahang dan tak berkata apa-apa di ruang sidang. Tapi sepulangnya, ia mengumpulkan mereka.
"Ada yang membocorkan," katanya datar. "Dari kita."
Hening menusuk. Nadine memandang wajah-wajah di sekelilingnya: Maya, Vania, Kirana, dan tiga model lain yang ikut berjuang. Tidak mungkin salah satu dari mereka. Tidak mungkin.
Tapi malam itu, Nadine tidak bisa tidur, dan ia turun ke dapur asrama untuk minum. Di sanalah ia melihatnya — sosok perempuan di balkon belakang, berbisik ke ponsel. Asisten pribadi Renata. Dewi. Perempuan yang selama ini berada di sekitar mereka, membantu mengurus jadwal sisa, dianggap netral karena ia juga "korban" Astra.
"...ya, mereka akan pakai pasal ketenagakerjaan. Bu Laras sudah siapkan saksi ahli..." Dewi berhenti saat melihat Nadine di ambang pintu.
Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri. Lalu Dewi menurunkan ponselnya, dan alih-alih lari, ia duduk di kursi plastik, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku tahu kamu akan menemukanku cepat atau lambat," katanya.
Nadine menarik kursi, duduk berhadapan. Ia tidak berteriak. Ia hanya menunggu.
"Renata punya anakku," kata Dewi akhirnya, suaranya retak. "Bukan— bukan secara fisik. Tapi aku punya utang ke Astra. Utang yang sama seperti kalian, akumulatif, nggak pernah lunas. Aku punya anak perempuan, lima tahun, tinggal sama nenekku di kampung. Renata bilang kalau aku nggak jadi matanya, dia akan tuntut aku sampai aku nggak bisa kirim uang ke anakku. Dia akan pastikan aku nggak bisa kerja di mana pun lagi."
Nadine merasakan amarah dan kasihan bertarung di dalam dadanya. Ia teringat ayahnya, teringat bagaimana orang berkuasa selalu menemukan apa yang paling kau cintai dan menjadikannya borgol.
"Berapa lama kamu membocorkan informasi kami?" tanya Nadine pelan.
"Sejak awal." Dewi menatapnya, mata berair. "Tapi Nadine— ada yang harus kamu tahu. Dua hari lalu Renata menyuruhku melaporkan strategi pembelaan. Aku lakukan. Tapi kemarin, dia menyuruhku sesuatu yang lain. Sesuatu yang nggak bisa aku lakukan."
"Apa?"
Dewi menelan ludah. "Dia menyuruhku menemukan kelemahan kamu. Bukan untuk sidang. Untuk... orang di atasnya. Dia bilang, 'Bos butuh tahu di mana Nadine bisa ditekan. Keluarganya. Apa pun.'" Suaranya hampir tak terdengar. "Aku punya foto-foto yang kamu kirim ke teman-teman. Aku tahu kamu dari desa nelayan. Aku tahu ada ayahmu di sana."
Darah Nadine terasa beku.
"Aku belum kasih ke dia," kata Dewi cepat. "Aku— aku berhenti. Aku punya anak, Nadine. Dan kemarin aku sadar, kalau aku serahkan ayahmu ke mereka, aku nggak ada bedanya sama orang yang mau ambil anakku dariku." Ia menangis sekarang, terisak pelan. "Maafkan aku. Maafkan aku untuk semua yang sudah aku bocorkan."
Nadine duduk diam lama sekali. Ia bisa membenci perempuan ini. Ia punya semua hak untuk membenci. Tapi ia teringat Vania, yang dulu musuhnya, yang juga hancur oleh sistem yang sama sebelum berbalik.
"Dewi," kata Nadine akhirnya, "kamu mata-mata mereka selama berbulan-bulan. Itu nyata, dan itu menyakiti kami." Ia menarik napas. "Tapi kamu berhenti di garis yang benar. Kamu menolak menyerahkan ayahku. Itu juga nyata."
Dewi mengangkat wajah.
"Aku nggak akan menyerahkanmu ke Renata," kata Nadine. "Tapi aku butuh kamu sekarang berdiri di pihak yang benar. Sepenuhnya. Karena kamu tahu lebih banyak tentang orang di atas Renata daripada siapa pun di ruangan ini. Dan ayahku — ayahku dalam bahaya."
Dewi mengusap air matanya, dan untuk pertama kalinya, mengangguk dengan punggung tegak.