Telepon itu datang pukul setengah enam sore, saat matahari Jakarta mulai jingga di balik gedung-gedung.
Nadine mengenali nomor warung Pak Karim, satu-satunya telepon di Pasir Putih yang bisa dipakai memanggil ke luar. Jantungnya melompat sebelum ia bahkan mengangkat.
"Nadine?" Suara ayahnya, parau di sela gemeresik sambungan. "Ini Bapak."
"Pak! Bapak baik-baik aja?" Nadine berdiri dari kursi, menjauh dari teman-teman.
"Bapak... Bapak sehat, Nak." Tapi ada sesuatu dalam nada itu yang membuat Nadine memegang ponsel lebih erat. "Cuma Bapak mau tanya. Beberapa hari ini ada orang asing di desa. Dua orang. Naik mobil. Mereka tanya-tanya soal keluarga kita."
Lantai terasa miring di bawah kaki Nadine. "Tanya apa, Pak?"
"Mereka bilang dari agensi. Mau kasih kabar baik soal kamu, katanya. Mereka tanya di mana rumah Bapak, kamu anak siapa, ibumu dulu kerja apa, kita punya tanah berapa." Ayahnya berhenti. "Bu Minah yang cerita ke Bapak. Bapak nggak ada waktu itu, lagi melaut. Tapi Nak — orang baik nggak datang sampai ke desa kecil cuma buat kasih kabar baik. Kabar baik bisa lewat telepon."
Nadine memejamkan mata. Dewi benar. Renata — atau orang di atas Renata — sudah menjangkau ke Pasir Putih.
"Pak," katanya, menjaga suaranya setenang mungkin agar ayahnya tak panik, "dengar Bapak. Kalau orang itu datang lagi, jangan kasih informasi apa pun. Jangan tanda tangan apa pun. Jangan terima uang dari siapa pun. Sekecil apa pun."
"Bapak nggak akan." Ada baja dalam suara nelayan tua itu. "Bapak udah hidup enam puluh tahun, Nak. Bapak tahu mana ombak yang bawa ikan, mana ombak yang bawa karang. Mereka ini ombak karang."
Nadine tersenyum sedih di balik air mata yang mulai menggenang. "Pak, ini bahaya. Mereka melakukan ini karena aku melawan agensi besar. Aku... aku mungkin sudah bawa masalah ini sampai ke rumah kita."
Hening sejenak di seberang. Lalu ayahnya berkata, suaranya lembut tapi kokoh seperti karang yang ia sebut tadi:
"Nadine. Waktu kamu naik bus oranye itu, Bapak takut. Bapak takut Jakarta menelan kamu. Tapi kamu pergi karena kamu yakin ada yang harus kamu lakukan. Sekarang kamu lagi lakukan hal yang benar — melawan orang yang menyakiti banyak gadis seperti kamu. Bapak nggak akan minta kamu berhenti supaya Bapak aman. Bapak lebih malu kalau anak Bapak mundur karena takut, daripada Bapak harus hadapi dua orang asing di desa."
Nadine menutup mulutnya dengan tangan agar isaknya tak terdengar.
"Tapi, Nak," lanjut ayahnya, "Bapak juga sudah tua. Dan Bapak kangen. Kalau kamu sempat — pulanglah sebentar. Bukan karena takut. Cuma supaya Bapak bisa lihat wajah kamu masih wajah anak Bapak."
"Iya, Pak," bisik Nadine. "Aku pulang. Sebentar lagi aku pulang."
Sambungan terputus. Nadine berdiri lama di koridor asrama, ponsel masih menempel di telinga meski sudah sepi.
Maya mendekat. "Ayahmu?"
Nadine mengangguk, mengusap pipinya. "Mereka sudah sampai ke desaku, Maya. Mereka mencari titik lemahku, dan mereka menemukannya. Ayahku."
Vania, yang berdiri di belakang, berkata dengan suara dingin yang ditujukan bukan pada Nadine melainkan pada musuh yang tak terlihat: "Kalau mereka berani menyentuh keluargamu, mereka tidak tahu siapa yang mereka lawan sekarang."
"Aku harus pulang," kata Nadine. "Aku harus pastikan Bapak aman. Dan aku harus lihat sendiri siapa dua orang itu."