Telepon misterius itu menggantung di udara sepanjang sore, tapi rasa lapar dan tagihan sewa lebih nyaring daripada rasa penasaran. Nadine memutuskan untuk tidak menghabiskan energi pada suara yang menolak menyebut nama. Ada masalah yang lebih mendesak: bagaimana mereka berempat bisa makan minggu depan.
Maya menghamparkan kertas bekas di lantai, menjadikannya papan tulis dadakan. Ia menggambar dengan spidol yang hampir kering, garis-garis kotak dan panah, seperti seorang jenderal merancang serangan.
"Dengar," kata Maya, "selama ini kita selalu bertanya, 'Berapa potongan agensi?' Tiga puluh persen pelatihan, dua puluh persen akomodasi, empat puluh persen komisi. Sisa untuk kita berapa? Receh. Plus utang yang tidak pernah lunas." Ia mengetuk spidol ke kertas. "Sekarang lupakan agensi. Bayangkan ada model yang punya klien. Klien bayar, katakanlah, sepuluh juta untuk satu pemotretan. Tanpa agensi, ke mana uang itu?"
"Ke model," jawab Vania.
"Tepat. Semuanya. Dipotong cuma biaya nyata: transportasi, sewa lokasi, makan. Sisanya milik si model." Maya menatap mereka satu per satu. "Sekarang bayangkan bukan satu model, tapi sepuluh. Dua belas. Lima belas. Semua mantan Astra yang sekarang juga terlantar seperti kita. Mereka berbagi pekerjaan, berbagi peralatan, berbagi klien. Tidak ada bos yang mengambil empat puluh persen. Mereka mengatur diri sendiri."
Kirana mengangkat alis. "Itu bukan agensi."
"Bukan," kata Nadine pelan, dan ada getaran di suaranya, sesuatu yang mulai menyala. "Itu koperasi."
Kata itu jatuh di tengah ruangan seperti batu di kolam tenang. Koperasi. Bukan kata yang biasa terdengar di dunia mode yang dipenuhi kontrak rahasia dan komisi gelap. Itu kata desa, kata kampung, kata yang Nadine dengar sejak kecil ketika para nelayan Pasir Putih patungan membeli jaring dan berbagi hasil tangkapan ketika seseorang sakit dan tidak bisa melaut.
"Ayahku ada di koperasi nelayan," kata Nadine, hampir kepada dirinya sendiri. "Setiap nelayan menyetor sedikit dari hasilnya. Kalau ada yang perahunya bocor, koperasi yang memperbaiki. Kalau ada yang anaknya sakit, koperasi yang membantu. Tidak ada yang kaya sendirian, tidak ada yang jatuh sendirian." Ia mengangkat kepala. "Kenapa model tidak bisa begitu?"
"Karena tidak pernah ada yang melakukannya," kata Vania. "Karena industri ini dibangun supaya model selalu bergantung pada agensi. Supaya kita merasa tidak berdaya tanpa mereka."
"Justru itu kenapa ini akan berhasil," potong Maya, matanya berkilat. "Karena tidak ada yang menyangka kita berani."
Tapi Vania, yang lebih lama hidup di dunia uang besar, mengangkat tangan. "Tunggu. Idealisme itu indah. Tapi koperasi butuh modal awal. Butuh izin. Butuh kantor, walau kecil. Butuh klien yang mau ambil risiko memakai model yang dicap pembuat onar. Kita punya semua itu?"
Hening lagi. Itu pertanyaan yang benar, pertanyaan yang membuat ide indah jatuh ke tanah.
Nadine berjalan ke koper tua peninggalan ibunya, koper kulit imitasi yang kulitnya sudah terkelupas, yang dulu diikat tali rafia. Ia membukanya. Di dalam, terlipat rapi, ada peralatan jahit ibunya: gunting, peniti, jarum, benang aneka warna, dan pita ukur yang sudah pudar angkanya.
"Modal kita ada di sini," kata Nadine. "Kita tidak butuh ruang ganti mewah. Kita bisa menjahit pakaian kita sendiri, memperbaiki gaun bekas, merancang dari kain murah. Aku bisa menjahit. Maya bisa menjahit. Kita punya tangan." Ia menatap mereka. "Soal klien, kita mulai dari yang kecil. Butik gang, pedagang pasar, siapa pun yang berani. Kita tidak mulai dari atas. Kita mulai dari bawah, dari akar."
Kata itu keluar begitu saja. Akar.
Maya berhenti menulis. Vania menoleh. Bahkan Kirana, yang selalu menunduk, mengangkat wajahnya.
"Akar," ulang Maya pelan, mencicipi kata itu. "Itu nama yang bagus."
"Itu nama kita," kata Nadine. Ia merasakan jantungnya berdebar, debaran yang sama seperti malam ia menolak Lúmin, seperti pagi ia naik bus oranye meninggalkan desanya. Debaran orang yang tahu ia sedang melompat ke sesuatu yang bisa menghancurkannya, tapi melompat juga karena diam berarti tenggelam. "Bukan agensi. Kolektif. Akar."
Di luar, hujan mulai turun, menampar atap seng kontrakan. Tapi untuk pertama kalinya sejak putusan pengadilan, empat perempuan itu tidak merasa terlantar di tanah tak bertuan. Mereka merasa seperti baru saja menemukan tanah yang akan mereka tanami sendiri.