Mereka memulai dengan rapat di lantai kontrakan, dialasi tikar plastik, ditemani teh tawar dan satu toples kerupuk. Tiga belas orang berdesakan di ruangan yang muat untuk enam. Semua mantan model Astra, semua sama-sama terlantar, semua datang karena mendengar kabar dari mulut ke mulut bahwa Nadine punya gagasan.
Nadine berdiri di depan, gugup tapi mantap. Ia tidak punya proyektor, tidak punya slide. Hanya kertas bekas Maya yang ditempel ke dinding dengan selotip.
"Aku tidak akan berjanji uang banyak," kata Nadine membuka. "Aku tidak akan berjanji kalian akan terkenal. Yang aku tawarkan cuma ini: kita bekerja untuk diri kita sendiri, dan kita berbagi hasilnya secara jujur. Tidak ada yang mengambil empat puluh persen dari keringat kalian. Tidak ada utang yang tumbuh diam-diam. Semua angka terbuka, semua orang bisa melihat."
Seorang model bernama Tika, yang dulu jarang bicara di asrama, mengangkat tangan. "Tapi siapa yang mengatur? Kalau tidak ada bos, siapa yang memutuskan?"
"Kita semua," jawab Maya, berdiri di samping Nadine. "Setiap keputusan besar diambil lewat suara. Satu orang satu suara. Nadine bukan bos. Aku bukan bos. Kita semua pemilik. Itu artinya koperasi."
Vania, yang paling mengerti uang, menjelaskan mekanismenya dengan papan kertas. "Begini. Setiap pekerjaan yang masuk, lima persen disisihkan untuk kas bersama, untuk sewa, untuk peralatan, untuk dana darurat kalau ada anggota sakit atau kena masalah. Sisanya untuk yang bekerja, dibagi adil sesuai peran. Model dapat bagian, yang menjahit dapat bagian, yang cari klien dapat bagian. Semua tercatat. Semua bisa diperiksa siapa saja, kapan saja."
"Lima persen?" seseorang berbisik tak percaya. "Astra ambil empat puluh."
"Karena Astra membangun gedung dua belas lantai dari keringat kita," sahut Vania tajam. "Akar tidak butuh gedung. Akar butuh kalian utuh."
Diskusi berlangsung sampai larut. Ada yang skeptis, ada yang takut, ada yang menangis karena untuk pertama kalinya merasa dihargai sebagai manusia, bukan aset. Mereka memperdebatkan nama secara resmi, dan ketika Nadine mengusulkan "Akar", tidak ada yang menolak. Akar, karena pohon paling tinggi pun jatuh kalau akarnya dicabut. Akar, karena mereka semua datang dari tanah, dari kampung, dari keluarga yang menabung untuk mengirim mereka ke Jakarta dengan mimpi.
Mereka menyusun aturan sederhana, ditulis tangan oleh Kirana yang ternyata punya tulisan paling rapi: bagi hasil transparan, satu orang satu suara, larangan menjelekkan sesama anggota, dan kewajiban saling menjaga. Tidak ada penimbangan. Tidak ada denda. Tidak ada larangan punya medsos. Mereka manusia, bukan boneka, dan aturan mereka mencerminkan itu.
Malam itu, ketika tamu-tamu pulang, hanya tersisa empat orang inti dan tikar yang penuh remah kerupuk. Maya merebahkan diri ke lantai sambil tertawa lelah.
"Kita benar-benar melakukannya," katanya. "Kita benar-benar mendirikan agensi tanpa agensi."
"Kolektif," koreksi Nadine, tersenyum.
"Apa pun namanya." Maya menatap langit-langit. "Kamu tahu yang paling menakutkan? Tiga belas orang itu sekarang menggantungkan makan mereka pada gagasan kita. Kalau kita gagal, mereka kelaparan karena kita."
Senyum Nadine memudar sedikit. Beban itu nyata. Tapi ia teringat ayahnya, teringat koperasi nelayan yang bertahan puluhan tahun di desa kecil yang sering dilupakan negara. Bertahan bukan karena kuat, tapi karena tidak ada yang dibiarkan sendirian.
"Kalau begitu kita tidak boleh gagal," kata Nadine. Ia memandang peralatan jahit ibunya yang tergeletak di sudut, gunting yang masih mengilap. "Besok kita mulai cari klien. Siapa pun. Sekecil apa pun."
Kirana, yang sudah hampir tertidur di pojok, bergumam pelan, "Tika tadi bilang sepupunya punya butik kecil. Di gang sebelah pasar. Mungkin... mungkin mau coba."
Nadine menoleh. Itu kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari Kirana. Ia menyimpannya. Ada sesuatu pada gadis pendiam itu yang belum terungkap, sesuatu yang sabar menunggu waktunya.
"Butik kecil di gang," ulang Nadine, dan ia tersenyum. "Sempurna. Akar memang seharusnya tumbuh dari tanah, bukan dari menara."