Butik itu bernama "Sekar", menempati ruko sempit di gang belakang pasar, menjual baju muslim dan gamis dengan bordir tangan. Pemiliknya, Bu Sekar, perempuan paruh baya berkerudung dengan kacamata baca yang selalu melorot, menyambut mereka dengan campuran ramah dan curiga.
"Kalian model yang di berita itu, kan?" tanyanya, mengamati Nadine dari balik kacamatanya. "Yang melawan agensi besar itu?"
"Iya, Bu," jawab Nadine jujur. Ia sudah belajar bahwa berbohong soal identitas hanya menumpuk masalah. "Kami sekarang bekerja sendiri. Berkelompok. Kami dengar Ibu mungkin perlu model untuk katalog baju Lebaran."
Bu Sekar melepas kacamatanya, mengusapnya dengan ujung kerudung. "Saya jujur saja, Nak. Saya pemilik usaha kecil. Pelanggan saya ibu-ibu sekitar sini. Kalau saya pakai kalian, dan ada yang ribut soal 'model pembuat onar', dagangan saya bisa sepi. Saya tidak punya uang banyak untuk ambil risiko."
Itu kalimat yang sama yang sudah mereka dengar dari lima agensi. Tapi kali ini Nadine tidak menunggu pintu tertutup. Ia melangkah maju.
"Bu, boleh saya bicara terus terang?" Ia menunjuk gamis bordir yang tergantung di etalase. "Bordir Ibu ini buatan tangan, kan? Bukan mesin."
Mata Bu Sekar berbinar sedikit. "Saya yang kerjakan sendiri. Sudah dua puluh tahun. Tidak ada mesin yang bisa menandingi tangan."
"Saya juga menjahit, Bu," kata Nadine, dan dari tasnya ia mengeluarkan peralatan jahit ibunya. "Ibu saya penjahit. Beliau yang mengajari saya. Beliau sudah meninggal." Ia membiarkan kalimat itu menggantung sebentar, tulus, tanpa dibuat-buat. "Saya tahu rasanya membuat sesuatu dengan tangan dan takut tidak ada yang menghargai. Itu sebabnya kami datang ke Ibu, bukan ke butik besar. Kami sama-sama bekerja dengan tangan. Kami sama-sama dianggap kecil."
Bu Sekar terdiam.
Maya menambahkan dengan lembut, "Begini, Bu. Kami tidak minta bayaran besar. Bahkan kalau Ibu mau, untuk yang pertama ini kami minta separuh saja di muka, separuh kalau dagangan Ibu naik setelah katalog jadi. Kalau tidak naik, Ibu tidak rugi banyak. Risiko kita tanggung bersama."
Itu tawaran yang tidak mungkin ditolak penjual mana pun. Bukan karena murah, tapi karena adil. Bu Sekar memandang keempat perempuan muda di tokonya yang sempit, perempuan-perempuan tinggi yang seharusnya berjalan di runway berlampu sorot, kini berdiri di gang yang bau ikan asin dari pasar, menawarkan diri dengan rendah hati.
"Kenapa," kata Bu Sekar pelan, "kalian mau repot-repot untuk butik kecil seperti saya?"
Nadine menjawab tanpa ragu. "Karena tidak ada yang terlalu kecil untuk dihargai, Bu. Itu yang kami pelajari dengan cara yang pahit."
Bu Sekar memasang kembali kacamatanya, melorot lagi, dan untuk pertama kalinya ia tersenyum. "Ya sudah. Saya coba. Tapi awas, kalau dagangan saya sepi, kalian harus bantu saya jualan." Ia tertawa, dan tawa itu mencairkan ketegangan di ruko sempit itu.
Mereka bekerja keras tiga hari penuh. Tidak ada studio, jadi Nadine menyulap halaman belakang ruko jadi lokasi pemotretan, menggantung kain putih murah sebagai latar. Vania, yang ternyata punya mata bagus untuk komposisi, mengatur cahaya matahari pagi yang masuk lewat genteng kaca. Maya menata gamis, menyematkan peniti di tempat yang tak terlihat agar jatuh kainnya sempurna. Kirana, dengan tangannya yang rapi, merapikan bordir yang sedikit kusut.
Dan Nadine berpose. Bukan pose dingin ala billboard mewah. Pose hangat, pose perempuan yang mengenakan gamis untuk salat Idul Fitri, untuk bertemu keluarga, untuk pulang kampung. Ia membayangkan ibunya, membayangkan andai ibunya masih hidup dan memakai gamis seperti ini. Ekspresinya hidup, sama seperti dulu di editorial Metamorfosis, tapi kali ini bukan untuk majalah mewah. Untuk Bu Sekar.
Ketika foto-foto itu jadi dan ditunjukkan ke Bu Sekar, perempuan tua itu menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca.
"Gamis saya," bisiknya. "Gamis saya tidak pernah sebagus ini. Ini... ini seperti gamis di majalah."
"Itu memang gamis di majalah, Bu," kata Nadine lembut. "Cuma majalahnya belum tahu saja."
Bu Sekar tertawa di sela air matanya, dan saat itu Nadine tahu, sekecil apa pun langkah ini, Akar baru saja menumbuhkan akar pertamanya.