Katalog Bu Sekar laku. Bukan meledak, tapi cukup membuat dagangannya naik dua kali lipat menjelang Lebaran. Kabar menyebar dari mulut ke mulut di sepanjang gang pasar: ada kelompok model yang mau memotret dagangan orang kecil dengan harga masuk akal, dan hasilnya bagus seperti majalah. Tiga pedagang lain datang. Lalu lima. Lalu seorang penjual kebaya yang sudah hampir gulung tikar.
Maya, yang otaknya tidak pernah berhenti berputar, datang dengan ide baru suatu malam.
"Kita sudah punya banyak klien kecil di sepanjang gang ini," katanya, membentangkan peta gang yang ia gambar sendiri. "Penjual gamis, kebaya, batik, kerudung, bahkan tukang sepatu. Bayangkan kalau kita tidak memotret mereka satu-satu, tapi menyatukan semua. Satu acara besar. Peragaan busana."
Vania mengernyit. "Peragaan busana butuh panggung. Butuh gedung. Butuh izin. Kita tidak punya uang untuk sewa hotel."
"Siapa bilang harus di hotel?" Maya tersenyum lebar, senyum yang berbahaya. "Kita punya panggung di depan mata kita. Gang ini sendiri."
Hening sejenak. Lalu Nadine tertawa, tawa yang tulus, tawa yang sudah lama tidak ia keluarkan. "Peragaan busana di gang sempit. Runway di antara warung dan tukang sayur."
"Kenapa tidak?" kata Maya. "Catwalk cuma garis lurus, kata Madame Sylvia. Gang ini garis lurus. Kita bentangkan kain merah sebagai karpet, gantung lampu, dan model berjalan dari ujung ke ujung. Penonton ibu-ibu pasar, bapak-bapak ojek, anak-anak yang main bola. Semua orang yang tidak pernah diundang ke peragaan busana karena mereka dianggap bukan 'pasar mewah'."
Ide itu gila. Ide itu juga sempurna.
Mereka mengerjakannya selama dua minggu. Setiap pedagang menyumbang apa yang mereka bisa. Tukang listrik gang memasang lampu gratis. Warung nasi menyediakan minum untuk para model. Anak-anak gang dilatih jadi panitia kecil, membagikan kursi plastik pinjaman dari masjid. Bu Sekar menjahit spanduk dari kain sisa: "PERAGAAN BUSANA AKAR — DARI GANG, UNTUK SEMUA."
Malam peragaan tiba. Gang yang biasanya bau ikan asin disulap jadi runway. Karpet merah dari kain murah membentang dari ujung gang ke ujung lain. Lampu temaram bergelantungan di antara kabel listrik dan tali jemuran. Penonton berdesakan: ibu-ibu yang masih memakai daster, bapak ojek yang baru pulang narik, anak-anak yang naik ke atap warung untuk melihat. Tidak ada wartawan mode. Tidak ada selebriti. Hanya kampung.
Para model Akar berjalan satu per satu. Mereka mengenakan gamis Bu Sekar, kebaya dari penjual yang hampir bangkrut, batik dari pedagang yang anaknya putus sekolah. Mereka berjalan bukan dengan kesombongan dingin runway Astra, tapi dengan kehangatan, tersenyum pada penonton, menyapa anak-anak, sesekali berhenti agar seorang nenek bisa menyentuh kain gamis yang dikenakan.
Nadine berjalan terakhir, mengenakan kebaya hitam sederhana yang ia jahit ulang sendiri dari kain bekas. Ketika ia melangkah di atas karpet merah lusuh itu, di bawah lampu temaram, dikelilingi orang-orang yang mengingatkannya pada desanya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di studio mewah mana pun: ia di rumah.
Ia teringat kata Madame Sylvia. Dagu terangkat. Pandangan ke satu titik. Menunduk berarti kalah. Tapi malam itu Nadine menambahkan satu hal yang tidak pernah diajarkan Sylvia: ia tersenyum pada penontonnya, dan penontonnya tersenyum balik, dan untuk sesaat tidak ada jarak antara model dan manusia biasa.
Seorang anak kecil, mungkin tujuh tahun, merekam dengan ponsel ibunya yang retak layarnya. Ia mengunggahnya ke media sosial dengan caption sederhana: "Peragaan busana di gang rumahku. Bagus banget. Modelnya ramah."
Video itu, tanpa direncanakan siapa pun, mulai menyebar. Bukan karena mewah. Justru karena tidak mewah. Karena tulus.
Pada pukul sepuluh malam, ketika peragaan usai dan para model duduk lelah di kursi plastik sambil makan nasi uduk bersama penonton, ponsel Vania bergetar terus-menerus. Ia membuka media sosial dan terdiam.
"Nadine," katanya pelan. "Video peragaan kita... sudah ditonton dua ratus ribu kali. Tiga jam saja."
Nadine, yang mulutnya penuh nasi uduk, hampir tersedak.