Kabar itu tidak boleh menyebar. Nadine tahu betul, kalau seluruh anggota Akar tahu ada pengkhianat di antara mereka, kolektif yang sudah retak ini akan hancur total oleh kecurigaan. Setiap orang akan saling menatap dengan curiga, dan rasa saling percaya yang jadi fondasi Akar akan runtuh lebih cepat dari sabotase mana pun.
Maka hanya empat orang inti yang tahu. Mereka berkumpul di kontrakan pada malam setelah peragaan, lampu diredupkan, suara dipelankan.
"Dua orang pegang kunci cadangan," kata Vania, membentangkan logikanya seperti detektif. "Aku, dan Rini."
Nama itu jatuh berat. Rini. Anggota yang pada rapat dulu paling vokal membela Vertikal. Yang berkata "Vania anak orang kaya" dengan nada pahit. Yang punya alasan kuat untuk goyah.
"Tunggu," kata Maya cepat. "Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti. Kita pernah jadi korban tuduhan tanpa bukti. Ingat foto Nadine tersandung yang dipakai Vania—" ia berhenti, menyadari ucapannya, menatap Vania. "Maaf."
"Tidak apa-apa," kata Vania datar. "Justru karena aku pernah jadi penyabot, aku tahu cara kerjanya. Dan aku tahu satu hal: penyabot selalu meninggalkan jejak karena mereka pikir tidak ada yang mengawasi." Ia mengeluarkan ponselnya. "Aku memasang catatan keluar-masuk di pintu ruang ganti. Kebiasaan lama, paranoid. Semalam, pukul dua dini hari, kunci cadangan dipakai. Hanya satu orang yang punya akses ke kunci itu selain aku."
Hening.
"Aku tidak mau percaya," kata Nadine pelan. "Rini punya adik yang masih sekolah. Dia butuh uang. Tapi dia... dia menangis waktu kita mendirikan Akar. Dia bilang baru pertama kali merasa dihargai."
"Orang bisa menangis tulus dan tetap berkhianat," kata Kirana dari sudut, suaranya pelan tapi pasti. "Karena ketakutan lebih kuat dari rasa terima kasih. Aku tahu itu. Aku hampir jadi seperti dia."
Mereka memutuskan tidak menuduh langsung. Sebaliknya, Nadine merancang sesuatu yang lebih halus. Keesokan harinya, ia menyebar informasi palsu yang berbeda kepada beberapa anggota: pada satu orang ia bilang Akar akan menggelar peragaan rahasia di sebuah lokasi tertentu; pada Rini, ia bilang lokasi yang lain. Hanya satu lokasi yang benar.
Dua hari kemudian, sebuah akun media sosial yang berafiliasi dengan Vertikal memposting sindiran tentang "peragaan rahasia Akar" — menyebut lokasi yang persis sama dengan yang dibisikkan Nadine pada Rini.
Buktinya lengkap.
Malam itu, Nadine meminta Rini datang ke kontrakan, sendirian. Ia tidak membawa kemarahan. Hanya kelelahan dan kesedihan. Ketika Rini masuk dan melihat keempat orang inti menunggu dengan wajah serius, gadis itu tahu. Bahunya runtuh sebelum sepatah kata pun terucap.
"Sejak kapan?" tanya Nadine pelan.
Rini tidak berpura-pura. Mungkin ia terlalu lelah berpura-pura. Ia terduduk di lantai, menutup wajahnya. "Sebulan," bisiknya. "Dimas mendatangiku. Dia tahu adikku terancam putus sekolah. Dia tahu ibuku menumpang di rumah saudara. Dia tahu segalanya tentang aku, padahal aku tidak pernah cerita." Air matanya jatuh. "Dia menawariku uang. Banyak. Tugasku cuma melaporkan apa yang Akar lakukan. Dan... dan kadang membuat masalah kecil. Aku tidak tahu mereka akan merusak koleksi Bu Sekar. Sumpah, aku cuma membuka kunci. Aku tidak tahu—"
Suaranya pecah jadi tangis.
Ruangan itu hening, hanya ada isak Rini dan suara hujan yang seperti tak pernah berhenti di kota ini. Maya memalingkan wajah. Vania berdiri kaku, dan di matanya Nadine melihat pergulatan — antara kemarahan dan ingatan akan dirinya sendiri yang dulu juga menyabotase karena takut, karena tertekan, karena merasa terancam.
"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?" tanya Vania akhirnya, suaranya bergetar. "Kau menjual kami. Orang-orang yang menampungmu ketika tidak ada agensi yang mau."
"Aku tahu," tangis Rini. "Aku tahu. Aku benci diriku sendiri setiap hari. Tapi setiap kali aku mau berhenti, Dimas mengingatkanku tentang adikku. Tentang ibuku. Dia bilang kalau aku berhenti, dia akan pastikan adikku tidak bisa sekolah di mana pun." Ia menatap Nadine dengan mata penuh keputusasaan. "Aku terjebak. Persis seperti kita semua dulu terjebak di Astra. Cuma kali ini, akulah yang jadi alatnya."
Kalimat itu menusuk Nadine lebih dalam dari pengkhianatan itu sendiri. Karena Rini benar. Vertikal tidak menciptakan pengkhianat. Vertikal menemukan orang yang terdesak, lalu memerasnya — persis seperti Astra dulu memeras mereka semua. Rini bukan musuh. Rini adalah korban yang dipaksa jadi senjata.
Nadine menatap gadis yang meringkuk menangis di lantai kontrakannya. Bagian dari dirinya marah, terluka, ingin mengusir. Tapi bagian lain, bagian yang dibentuk oleh ayahnya yang bilang "jangan lupa siapa dirimu", melihat sesuatu yang lebih besar dari pengkhianatan.
"Pergi dulu," kata Nadine akhirnya, suaranya lelah. "Aku perlu berpikir. Kita semua perlu berpikir."
Rini bangkit, terhuyung ke pintu, lalu berhenti. "Kalian akan mengusirku," katanya, bukan pertanyaan. "Dan kalian benar untuk itu."
Ketika pintu tertutup, keempat orang inti duduk dalam keheningan yang panjang. Maya yang pertama bicara, suaranya nyaris berbisik.
"Kita harus mengusirnya. Kalau tidak, anggota lain akan merasa pengkhianatan bisa dimaafkan begitu saja."
"Atau," kata Kirana pelan, "kalau kita mengusirnya, kita membuktikan kita sama saja dengan Astra. Membuang orang begitu mereka tidak berguna, atau begitu mereka membuat kesalahan."
Nadine memandang peralatan jahit ibunya di sudut. Gunting yang memotong. Jarum yang menyatukan kembali. Dua fungsi, dua pilihan.
"Aku belum tahu," kata Nadine jujur. "Tapi besok aku harus memutuskan. Mengusir, atau memaafkan. Dan apa pun yang kupilih, akan menentukan jadi apa Akar sebenarnya."