Nadine duduk lebih tegak, dan untuk sesaat ia tidak lagi merasa seperti gadis desa di ruang mewah yang asing. Ia merasa seperti pemimpin Akar yang membawa amanat seluruh orang yang mempercayainya. Maya dan Vania menatapnya, menahan napas.
"Syarat pertama," kata Nadine. "Aku tidak datang ke kampanye ini sendirian. Aku datang membawa Akar. Kalau Lúmin ingin aku jadi wajah keaslian, maka kampanye ini harus menampilkan keaslian yang sesungguhnya — bukan satu model yang dipajang sebagai simbol, sementara yang lain disembunyikan. Model-model Akar harus ikut. Wajah-wajah nyata, cerita-cerita nyata. Bukan cuma aku."
Claire mengangkat alis, tapi tidak menolak. "Lanjutkan."
"Syarat kedua," kata Nadine, dan suaranya menguat. "Busana dalam kampanye ini tidak hanya dari Lúmin. Setidaknya sebagian, tampilkan karya pengrajin kecil. Bordir tangan dari Bu Sekar. Batik, kebaya, tenun dari pengrajin Indonesia yang selama ini tidak pernah punya akses ke panggung dunia. Lúmin boleh memajang gaunnya yang mahal, tapi di sebelahnya, harus ada hasil tangan orang-orang kecil. Karena keaslian bukan cuma soal wajah. Keaslian juga soal dari mana sesuatu dibuat, dan oleh siapa."
Maya menatap Nadine dengan mata berkaca-kaca. Vania tersenyum tipis, bangga.
"Dan syarat ketiga," lanjut Nadine, dan ini yang paling penting, "yang paling penting dari semuanya." Ia menatap Claire langsung, tanpa berkedip. "Kontrak. Lúmin harus menerapkan kontrak yang adil. Tidak ada utang tersembunyi. Tidak ada potongan tak masuk akal. Tidak ada klausa yang menjebak model dalam ikatan seumur hidup. Setiap model yang bekerja dalam kampanye ini, dari yang paling terkenal sampai yang paling baru, mendapat bayaran transparan, hak yang jelas, dan kebebasan untuk pergi kapan pun mereka mau."
Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan tapi lebih tajam: "Dan aku ingin kontrak ini diumumkan secara publik. Sebagai standar. Aku ingin Lúmin, merek mewah dunia, berdiri di depan industri dan berkata: beginilah seharusnya model diperlakukan. Karena kalau merek sebesar Lúmin melakukannya, yang lain akan terpaksa mengikuti. Aku tidak mau cuma menyelamatkan Akar. Aku mau mengubah aturan main untuk setiap model yang akan datang setelah kami."
Ruangan itu hening. Maya menggenggam tangan Nadine di bawah meja. Vania menahan napas. Di luar, jalanan Paris bergemuruh pelan.
Claire Vautrin duduk diam untuk waktu yang lama, menatap Nadine dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu, perlahan, ia mulai tersenyum — bukan senyum bisnis, bukan senyum sopan, tapi senyum seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang langka dan tahu betul nilainya.
"Kau tahu," kata Claire akhirnya, "dalam tiga puluh tahun karierku, ratusan model datang ke ruangan ini. Setiap mereka menawar bayaran. Berapa banyak yang bisa mereka peras dari Lúmin untuk diri mereka sendiri." Ia menggeleng pelan. "Kau yang pertama datang dan menawar bukan untuk dirimu sendiri. Kau menawar untuk orang lain. Untuk pengrajin kecil. Untuk model yang bahkan belum lahir ke industri ini." Ia mencondongkan tubuh. "Itulah tepatnya kenapa kau adalah wajah yang kami butuhkan. Karena kau membuktikan bahwa keaslian bukan cuma penampilan. Keaslian adalah cara kau memperlakukan orang lain."
"Jadi?" tanya Nadine, jantungnya berdebar. "Apakah Lúmin menerima syaratku?"
Claire berdiri, mengulurkan tangannya melintasi meja. "Syarat pertama dan kedua, kuterima tanpa ragu — keduanya justru memperkuat kampanye." Tangannya tetap terulur. "Syarat ketiga, soal kontrak adil sebagai standar publik..." Ia berhenti, dan untuk sesaat Nadine khawatir. "Itu jauh lebih besar dari sekadar kampanye. Itu akan mengguncang seluruh industri. Akan ada perlawanan dari banyak pihak — agensi, merek lain, orang-orang berkuasa yang untung dari sistem lama. Mereka tidak akan diam." Claire menatap Nadine dengan serius. "Kau yakin ingin membuka perang sebesar itu? Begitu kau menarik benang ini, kau tidak bisa berhenti di tengah jalan. Kau akan menjadi target dari kekuatan-kekuatan yang lebih besar dari Astra, lebih besar dari Vertikal. Kekuatan yang sudah mengawasimu, bahkan sampai ke Paris ini."
Bayangan investor misterius melintas lagi di benak Nadine. Telepon halus sebelum mereka viral. Mobil hitam berkaca gelap. Peringatan Claire semalam tentang "orang-orang besar" yang membuatnya marah. Ia tahu Claire benar. Menerima syarat ketiga berarti membuka perang yang sebenarnya — bukan lagi melawan satu agensi, tapi melawan seluruh sistem dan dalang tak berwajah di baliknya.
Nadine memikirkan ayahnya, nelayan yang turun ke laut setiap subuh meski tahu badai bisa datang. Ia memikirkan ibunya, penjahit yang mewariskan tangan dan tulang pipi ini. Ia memikirkan koper rafia tua yang membawanya dari desa ke dunia. Ia memikirkan setiap model yang akan datang setelahnya, anak-anak desa lain dengan mimpi yang sama, yang akan terus diperas selama aturan main tidak diubah.
Ia berdiri, dan menggenggam tangan Claire dengan mantap.
"Aku anak nelayan, Madame Vautrin," kata Nadine, suaranya tenang dan teguh. "Ayahku mengajariku bahwa laut tidak peduli kamu takut. Kamu tetap harus turun ke perahu, karena di situlah hidup. Aku tidak datang sejauh ini untuk berhenti di tepi pantai." Ia mengeratkan genggamannya. "Ya. Aku yakin. Buka perang itu. Kita ubah aturan mainnya. Untuk semua yang akan datang setelah kita."
Claire menjabat tangannya erat, dan di matanya ada sesuatu yang menyerupai kekaguman, dan mungkin juga kekhawatiran untuk perempuan muda yang baru saja memilih jalan tersulit.
"Kalau begitu," kata Claire, "selamat datang di Lúmin, Nadine. Dan semoga Tuhan menyertai kita. Karena kita baru saja menyatakan perang pada separuh industri mode dunia."
Ketika Nadine, Maya, dan Vania keluar dari gedung Lúmin ke jalanan Paris yang basah, Maya tidak bisa menahan diri lagi. Ia memeluk Nadine erat-erat di tengah trotoar, tertawa dan menangis sekaligus.
"Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?" kata Maya. "Kamu tidak cuma dapat kampanye Lúmin. Kamu baru saja membawa Akar, membawa Bu Sekar, membawa seluruh model di Indonesia ke panggung dunia. Dan kamu mengubah aturan mainnya."
Vania, yang berdiri sedikit menjauh, tidak ikut tertawa. Ia menatap ke seberang jalan, ke sebuah mobil hitam berkaca gelap yang terparkir, mesinnya menyala, persis seperti yang ia lihat di mulut gang Jakarta. Ia menyentuh lengan Nadine pelan, dan ketika Nadine menoleh, mobil itu sudah perlahan menjauh, menghilang ke arus lalu lintas Paris.
"Mereka di sini," kata Vania pelan, senyum kemenangan memudar dari wajahnya. "Yang mengincar kita. Mereka mengikuti kita sampai ke sini, Nadine. Dan sekarang, setelah kamu menyatakan perang lewat Lúmin..." Ia menatap sahabatnya. "Mereka tahu kamu tidak akan berhenti. Yang artinya, mereka juga tidak akan berhenti."
Nadine memandang ke arah mobil hitam yang menghilang itu, lalu menengadah ke langit Paris yang kelabu, ke arah di mana, beberapa blok jauhnya, billboard merah Lúmin masih menyala — billboard yang kini, untuk pertama kalinya, akan menampilkan wajahnya sendiri. Wajah sawo matang. Tulang pipi ibunya. Anak nelayan dari Pasir Putih.
"Biarkan mereka datang," kata Nadine pelan, mengulang kata-katanya semalam. Tapi kali ini ada beban baru di dalamnya, kesadaran bahwa pulang ke Jakarta berarti menghadapi badai yang sudah berkumpul, dalang tak berwajah yang akhirnya akan menampakkan dirinya. "Kita sudah mulai. Sekarang tidak ada jalan mundur." Ia menggenggam tangan kedua sahabatnya. "Ayo pulang. Perang yang sebenarnya menunggu kita di rumah."