Mereka menundanya seminggu. Claire ingin debut Nadine bukan di pameran kecil Élise, melainkan di sebuah peragaan koleksi pra-musim Lúmin di gedung tua dekat Place Vendôme — bukan panggung terbesar Pekan Mode Paris, tapi cukup besar untuk membuat seluruh industri menoleh.
Nadine tidak tidur semalam sebelumnya. Bukan karena gugup pada langkahnya — Madame Sylvia sudah menempa itu sampai ke tulang. Ia gugup pada beban yang ia bawa. Di balik tirai, di rak gantung yang disiapkan Lúmin, busana-busana mahal merek itu berdampingan dengan kebaya bordir Bu Sekar, batik dengan jahitan kontras, gamis dari gang sempit di Jakarta. Claire menepati janjinya. Keaslian, kata kontrak itu, bukan cuma wajah.
"Kamu kelihatan seperti mau muntah," kata Maya, membetulkan rambut hitam Nadine yang sengaja dibiarkan apa adanya, tanpa pelurus, tanpa pewarna.
"Aku memang mau muntah."
"Bagus. Itu artinya kamu masih manusia." Maya tersenyum. "Patung lilin tidak pernah mau muntah, ingat?"
Vania datang dari arah penonton, wajahnya tegang. "Penuh. Kritikus dari semua majalah besar. Dan—" ia menelan ludah, "—di barisan depan, ada beberapa orang Asia yang aku tidak kenal. Pakaiannya mahal, sikapnya seperti pemilik, bukan tamu. Aku tidak suka."
Nadine menutup matanya sebentar. Mobil hitam berkaca gelap di Jakarta, di mulut gang, di seberang gedung Lúmin di Paris. Mereka di sini juga. Tapi ia mengusir bayangan itu. Malam ini bukan milik mereka.
Lampu meredup. Musik mulai, rendah dan berdenyut. Claire sendiri yang mengantar Nadine ke mulut runway, meletakkan tangan di bahunya.
"Ingat," bisik Claire, "kau tidak berjalan untuk Lúmin. Kau berjalan untuk gadis di bus oranye yang menatap billboard merah dan berkata 'itu akan jadi aku.' Pergilah temui dia."
Nadine melangkah ke cahaya.
Ia mengenakan gaun hitam Lúmin yang dipotong tegas, dan di atas bahunya, selendang bordir tangan Bu Sekar — sutra murah dari gang Jakarta yang malam ini tergantung di tubuhnya seolah benda paling berharga di Eropa. Lampu sorot menghantamnya. Untuk satu detik yang menakutkan, ratusan wajah dingin menatap dari kegelapan.
Lalu Nadine melakukan apa yang diajarkan ayahnya, bukan Sylvia. Ia tidak membayangkan dinding di ujung runway. Ia membayangkan laut Pasir Putih saat subuh. Dagu terangkat. Pinggul mengikuti. Pandangan ke satu titik — dan titik itu, di kepalanya, adalah ibunya yang berdiri di ujung dermaga.
Ia berjalan bukan seperti ratu yang tak butuh siapa-siapa. Ia berjalan seperti manusia yang dicintai.
Kamera menyalak. Seseorang di barisan depan menahan napas cukup keras untuk terdengar. Di ujung runway, Nadine berhenti, berbalik perlahan, dan untuk sekejap menatap lurus ke kamera utama — ke jutaan orang yang kelak menonton, ke ayahnya yang mungkin tidak akan pernah melihat ini di televisi desa, ke billboard merah yang dulu jadi mimpinya.
Wajah sawo matang. Tulang pipi ibunya. Tidak diputihkan, tidak dipermak, tidak diubah.
Tepuk tangan dimulai sebelum ia selesai berbalik. Bukan tepuk tangan sopan. Tepuk tangan yang berdiri.
Di balik tirai, Maya menangis tanpa malu, Vania memeluknya dari belakang, dan Kirana — yang akhirnya datang dari pameran, menembus keramaian — berdiri dengan tangan menutup mulut. Claire Vautrin hanya menatap layar monitor backstage, dan di matanya ada sesuatu yang menyerupai pembenaran atas tiga puluh tahun kariernya.
"Mereka berdiri untukmu, Nadine," bisik Maya, suaranya pecah. "Seluruh Paris berdiri."
Nadine, masih terengah, masih gemetar, hanya bisa berkata satu hal, dan ia mengatakannya dalam bahasa desanya, bukan Inggris, bukan Prancis.
"Aku ingin Bapak melihat ini."
Saat itu, di tengah euforia, ponsel Vania bergetar di saku. Sebuah nomor Indonesia. Kode area desa. Ia hampir mengabaikannya — siapa pun bisa menunggu sampai besok. Tapi sesuatu membuatnya mengangkat, menjauh ke sudut yang lebih sepi, jari menutup telinga satunya dari musik.
Ketika ia kembali, wajahnya sudah berubah. Euforia di matanya padam. Ia tidak ikut tertawa, tidak ikut menangis bahagia. Ia berdiri di tepi keramaian, menatap Nadine yang masih bersinar di puncak malam terbesar hidupnya, dan untuk waktu yang lama tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.