Vania menunggu sampai semua tepuk tangan reda, sampai Claire selesai memeluk Nadine, sampai jurnalis terakhir pergi. Ia menunggu terlalu lama, dan Nadine merasakannya.
"Vania." Nadine masih mengenakan gaun hitam itu, riasan panggung mulai luntur. "Ada apa? Kamu tidak senyum dari tadi."
Vania menarik Nadine ke ruang ganti kosong, jauh dari Maya dan Kirana yang masih melayang di awan. Ia menutup pintu.
"Tadi ada telepon dari desa," kata Vania pelan. "Dari Sari."
Nama itu membuat Nadine membeku. Sari. Teman dari Pasir Putih yang dulu diam-diam mengirim fotonya ke Astra. Sari tidak pernah menelepon. Kalau Sari menelepon, itu bukan kabar biasa.
"Ada apa dengan Bapak?" Suara Nadine sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
"Ayahmu jatuh," kata Vania, dan ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seperti memegang kaca pecah. "Di laut. Beberapa hari lalu. Sari bilang... dadanya. Mendadak sesak waktu menarik jaring, lalu jatuh di perahu. Anak-anak nelayan lain yang menariknya ke darat."
Ruangan itu terasa miring. Nadine memegang meja rias.
"Dia hidup," Vania cepat menambahkan, menggenggam lengan Nadine. "Dia hidup, Nadine. Dengar aku. Sari bilang dia sudah di puskesmas kecamatan, lalu dirujuk ke rumah sakit kabupaten. Jantungnya, kata dokter. Tapi dia sadar. Dia bicara. Dia—" Vania berhenti, dan suaranya melembut sampai nyaris tak terdengar. "Dia melarang Sari menelepon kamu. Dia bilang, 'Jangan ganggu anakku, dia sedang menggapai mimpinya. Jangan sampai dia pulang gara-gara aku.'"
Air mata yang sejak tadi ditahan Nadine pecah sekaligus. Bukan tangis anggun seorang model. Tangis seorang anak. Ia merosot ke kursi rias, dan untuk beberapa saat tidak bisa bicara sama sekali.
Beberapa jam lalu ia berdiri di puncak dunia. Paris berdiri untuknya. Lúmin, merek dari mimpinya, menampilkan wajahnya. Dan pada jam yang sama, di sebuah perahu di laut yang sama tempat ia dibesarkan, ayahnya jatuh menarik jaring untuk ikan yang tidak menunggu cuaca cerah.
"Aku di sini," bisiknya, suaranya hancur. "Aku separuh dunia jauhnya, memakai gaun seharga rumah, dan Bapak jatuh di perahu sendirian. Sendirian, Vania."
"Kamu tidak tahu," kata Vania tegas. "Tidak ada yang tahu. Itu bukan salahmu."
Maya dan Kirana masuk, wajah mereka langsung berubah melihat keadaan Nadine. Maya berlutut di sampingnya. "Apa yang terjadi?"
Vania menjelaskan singkat. Tawa mereka padam seketika. Kemenangan malam itu, yang beberapa menit lalu terasa seperti seluruh dunia, mendadak terasa hampa di hadapan satu kabar dari sebuah desa nelayan.
"Aku harus pulang," kata Nadine, sudah berdiri, sudah melepas anting Lúmin dengan tangan gemetar. "Sekarang. Malam ini. Cari penerbangan paling cepat."
"Kampanye—" Maya mulai, lalu berhenti, menyadari betapa kosong kata itu terdengar.
"Kampanye bisa menunggu." Suara Nadine tidak menyisakan ruang debat. "Bapak tidak menunggu. Bapak tidak pernah menunggu badai reda untuk turun ke laut. Sekali ini, aku tidak akan menunggu juga."
Saat itu pintu ruang ganti diketuk. Claire Vautrin masuk, masih bersinar dari kesuksesan malam itu, lalu langsung membaca wajah-wajah di ruangan. Senyumnya lenyap.
"Apa yang terjadi?"
Nadine menatap perempuan yang baru beberapa jam lalu menjadikannya wajah merek mewah dunia. "Ayah saya sakit. Di kampung. Jantung. Saya harus pulang ke Indonesia malam ini, Madame Vautrin. Saya tahu kita baru saja meluncurkan kampanye. Saya tahu ini buruk untuk jadwal. Tapi—"
"Berhenti." Claire mengangkat tangan. Untuk sesaat, semua menahan napas, mengira mereka akan mendengar suara industri yang dingin, kontrak yang menjerat, jadwal yang lebih penting dari nyawa. Itu suara yang mereka kenal dari Astra.
Tapi Claire hanya berkata, "Asistenku akan mengurus penerbanganmu. Kelas mana pun yang tercepat. Pergilah ke ayahmu." Ia menatap Nadine. "Tiga puluh tahun aku di industri ini, Nadine. Aku melihat banyak model kehilangan orang tua mereka sambil tetap berjalan di runway, karena takut kehilangan kontrak. Aku tidak akan jadi alasan kau menyesal seumur hidup." Ia tersenyum tipis, getir. "Lagipula, keaslian yang kita jual — bukankah ini bagian dari itu? Seorang anak yang pulang pada ayahnya."
Nadine tidak menyangka air matanya bisa mengalir lebih deras lagi.