Ayahnya terbaring kecil di ranjang besi yang terlalu besar untuknya.
Itu yang pertama menghantam Nadine — betapa kecil ayahnya sekarang. Lelaki yang dulu mengangkat jaring penuh ikan seorang diri, yang punggungnya bungkuk oleh kerja dan tangannya kasar oleh tali dan garam, kini tampak ringkih di bawah selimut tipis rumah sakit. Selang oksigen di hidungnya. Sebuah monitor berdetak pelan di sampingnya, menggambar garis naik turun yang membuktikan ia masih ada.
"Pak," kata Nadine, dan suaranya hampir tak keluar.
Mata ayahnya terbuka perlahan. Butuh sesaat untuk fokus. Lalu, saat ia mengenali wajah di depannya, sesuatu di wajah tua itu runtuh dan menguat sekaligus.
"Nadine." Suaranya serak, lemah, tapi itu suaranya. "Kamu... kamu pulang."
Nadine jatuh berlutut di sisi ranjang, meraih tangan ayahnya — tangan kasar yang dulu memberinya Rp500.000 dan pesan untuk tidak lupa siapa dirinya. Tangan itu sekarang tipis, kulitnya longgar, tapi masih hangat.
"Tentu aku pulang, Pak. Kenapa Bapak melarang Sari menelepon? Kenapa Bapak menyembunyikan ini dariku?"
Ayahnya tersenyum lemah, dan bahkan dalam keadaan begitu, ada keras kepala seorang nelayan di matanya. "Karena Bapak tahu kamu. Kamu akan tinggalkan segalanya dan lari pulang. Padahal kamu sedang... sedang di mana, Nak? Sari bilang kamu di negeri jauh. Di kota yang ada menara besinya."
"Paris, Pak." Nadine tertawa di antara tangisnya. "Aku di Paris. Aku berjalan di panggung besar. Memakai gaun dari merek di billboard merah itu — Bapak ingat? Billboard yang dulu jadi mimpiku. Mereka menampilkan wajahku, Pak. Wajah ini. Sawo matang, tulang pipi Ibu. Tidak aku ubah sedikit pun. Persis seperti yang Bapak ajarkan."
Mata ayahnya berkaca-kaca. Tangannya yang lemah meremas tangan Nadine, sekuat yang ia bisa.
"Jadi kamu sampai," bisiknya. "Sampai ke billboard itu. Dengan wajahmu sendiri."
"Sampai, Pak. Dengan wajahku sendiri."
Lelaki tua itu menutup matanya sejenak, dan air mata mengalir ke pelipisnya yang keriput. "Bapak takut," akunya, dan ini hal yang tidak pernah Nadine dengar dari ayahnya — pengakuan takut. "Waktu dada Bapak sesak di perahu, waktu Bapak jatuh dan langit berputar, Bapak tidak takut mati. Bapak takut mati sebelum melihatmu satu kali lagi. Bapak takut kamu pulang dan menemukan kuburan, bukan ayah."
"Bapak tidak ke mana-mana." Nadine menempelkan dahinya ke tangan ayahnya. "Dokter bilang Bapak harus istirahat panjang, ganti pola hidup, tidak boleh ke laut sendirian lagi. Tapi Bapak akan sembuh. Pelan-pelan. Dan aku akan ada di sini. Sampai Bapak kuat."
"Kampanyemu—"
"Bisa menunggu, Pak. Sudah aku bilang pada mereka. Orang Lúmin itu, Madame Vautrin, dia mengerti. Dia bilang seorang anak yang pulang pada ayahnya — itu juga bagian dari keaslian yang mereka jual." Nadine tersenyum lelah. "Lucu, kan. Mereka bayar miliaran untuk keaslian, dan keaslian itu cuma ini: anak nelayan yang duduk di sisi ranjang ayahnya."
Hari-hari berikutnya, Nadine tinggal. Ia tidur di kursi plastik rumah sakit, lalu di rumah panggung kayu lamanya di Pasir Putih saat ayahnya cukup kuat dipulangkan. Ia memasak bubur ikan, menyuapi ayahnya, mengganti seprai, menjemur sarung di bawah matahari pantai. Tangannya yang biasa memegang gaun mahal kembali memegang centong dan ember.
Dan sesuatu yang aneh terjadi. Di tengah ketakutan akan kehilangan, Nadine menemukan kembali sesuatu yang nyaris ia lupakan. Suara ombak di subuh hari. Bau jaring yang dijemur. Anak-anak desa yang berlarian. Para tetangga yang datang membawa ikan, pisang, kata-kata penghiburan sederhana, tanpa pernah meminta foto atau tanda tangan.
Suatu sore, duduk di beranda rumah panggung sambil ayahnya tertidur damai di dalam, Nadine menatap laut yang keemasan. Maya, yang setia menemani, duduk di sampingnya.
"Di Paris," kata Nadine pelan, "aku pikir aku sudah sampai puncak. Seluruh dunia berdiri untukku. Tapi duduk di sini, di beranda ini, dengan Bapak masih bernapas di dalam — ini puncak yang sebenarnya, Maya. Aku hampir lupa. Aku hampir menukar ini dengan billboard."
Maya menggenggam tangannya. "Kamu tidak menukarnya. Kamu pulang."
Tapi ketenangan itu tidak akan bertahan lama. Karena di Jakarta, di balik tirai yang sama, seseorang menunggu Nadine lemah. Menunggu ia jauh dari medan perang. Dan kabar yang akan datang dari ibu kota akan menyeret Nadine kembali ke badai yang sempat ia lupakan di tepi pantai ini.