Bu Laras datang ke markas Akar pagi-pagi sekali, dan dari caranya menutup pintu — pelan, hati-hati, lalu menguncinya — Nadine tahu ia membawa lapisan terakhir.
Pengacara pembela buruh itu meletakkan map tebal di meja, lalu duduk dengan berat seseorang yang baru menggali sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
"Aku menghabiskan tiga malam terakhir di arsip notaris dan kantor pendaftaran yayasan," katanya. "Tujuh lapis perusahaan cangkang itu. Aku membongkarnya satu per satu, mengikuti tanda tangan, alamat kotak surat, nama notaris. Dan di lapisan ketujuh, di dasar segalanya, ada satu yayasan keluarga." Ia membuka map. "Yayasan itu dimiliki, dikendalikan, dan didanai oleh satu orang."
Ia mengeluarkan selembar dokumen dan meletakkannya di tengah meja. Sebuah nama, dicetak hitam di atas putih.
"Tuan Wirakusuma."
Nama itu jatuh ke ruangan seperti batu ke air tenang. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak.
"Siapa dia?" tanya Maya akhirnya. "Aku tidak pernah dengar nama itu di industri model."
"Karena dia tidak pernah ada di industri model — di permukaan," kata Bu Laras. "Tuan Wirakusuma adalah salah satu pemilik modal terbesar di negeri ini. Properti, media, ritel, dan ya, mode. Tapi dia tidak pernah menaruh namanya di depan. Dia tidak pernah berfoto di acara. Dia tidak memberi wawancara. Dia bergerak lewat boneka — direktur bayaran, perusahaan cangkang, yayasan keluarga." Ia menatap mereka satu per satu. "Renata adalah salah satu bonekanya. Dimas dari Vertikal, boneka lainnya. Selama bertahun-tahun, Tuan Wirakusuma memiliki banyak agensi model lewat lapisan-lapisan ini. Astra cuma satu. Vertikal cuma satu lagi. Dia raja yang memerintah dari balik tirai, dan tidak seorang pun di bawahnya tahu mereka melayani orang yang sama."
Nadine menatap nama itu. Tuan Wirakusuma. Akhirnya, setelah berbulan-bulan memburu bayangan — telepon halus sebelum mereka viral, mobil hitam berkaca gelap, peringatan Claire Vautrin di Paris tentang "orang-orang besar" — bayangan itu punya nama.
"Dia yang menelepon sebelum dokumen Astra bocor," kata Nadine pelan, mengingat misteri yang tak pernah terpecahkan sejak malam pertama perlawanan. "Bukan. Mungkin bukan dia yang membocorkan. Tapi dia yang mengawasi sejak awal. Sejak aku menolak Lúmin di aula Astra dulu, dia sudah mengamatiku. Bertahun-tahun."
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Kirana.
Nadine teringat sesuatu, dan ia merogoh kenangan, lalu kenyataan menamparnya. "Karena Claire bilang ada 'orang yang sangat berkuasa' yang menanyakanku di Paris, yang tidak ingin namanya disebut. Karena mobil hitam itu mengikuti kita sampai ke Eropa. Mengikuti seorang model dari kolektif gang sempit sampai ke seberang dunia — itu bukan kerjaan agensi biasa. Itu kerjaan orang yang punya uang tak terbatas, dan dendam yang dalam." Ia menatap papan investigasi di dinding. "Aku menolaknya dua kali tanpa tahu namanya. Sekali saat aku menolak Lúmin. Sekali lagi saat aku membongkar Astra. Dia tidak terbiasa ditolak, dan dia tidak pernah memaafkan."
Bu Laras mengangguk berat. "Ada satu hal lagi yang harus kalian pahami. Mengetahui namanya tidak membuat kita menang. Justru sebaliknya." Ia menutup map itu. "Selama dia tetap di balik tirai, dia bisa kita seret keluar dengan bukti. Tapi begitu dia tahu kita tahu namanya — dan dia akan tahu, orang seperti ini selalu tahu — dia tidak akan lagi bermain dari kejauhan. Dia akan menyerang langsung. Dan serangan langsung dari orang sekaya itu bukan kontrak atau pengacara. Itu kehancuran. Reputasi, keuangan, bahkan keselamatan."
Ruangan itu sunyi, beban nama baru itu menekan setiap orang.
Lalu Nadine berdiri, dan menatap nama di dokumen itu — bukan dengan takut, melainkan dengan sesuatu yang lebih berbahaya bagi musuhnya: kejelasan.
"Selama berbulan-bulan kita melawan asap," katanya. "Kita memukul Astra, asapnya pindah ke Vertikal. Kita memukul Dimas, asapnya pindah ke Renata. Kita tidak pernah bisa menang karena kita tidak pernah memukul apinya." Ia mengetuk nama itu. "Sekarang kita tahu apinya. Tuan Wirakusuma. Dan untuk pertama kalinya, kita tahu persis ke mana harus mengarahkan air."
"Atau," kata Vania pelan, menatap sahabatnya dengan campuran kebanggaan dan kekhawatiran, "ke mana dia akan mengarahkan apinya pada kita."