Nama Wirakusuma membuka pintu yang selama ini terkunci. Dan orang pertama yang berubah saat mendengar nama itu adalah orang yang paling tidak Nadine duga.
Madame Sylvia.
Nadine mengundangnya ke markas Akar untuk berbagi temuan — Sylvia kini hadir sebagai penasihat, melatih para model, berdiri di pihak mereka sejak Astra runtuh. Tapi saat Nadine menyebutkan nama Wirakusuma, perempuan tua itu, yang biasanya setegak tiang, mendadak harus berpegangan pada sandaran kursi.
"Madame?" Nadine bergegas mendekat. "Ibu kenal nama itu?"
Sylvia duduk perlahan. Wajahnya, yang biasa keras dan tak terbaca, kini terbuka oleh sesuatu yang Nadine tidak pernah lihat di sana: rasa sakit lama yang tak pernah sembuh.
"Dua puluh tahun," bisik Sylvia. "Dua puluh tahun aku berusaha tidak menyebut nama itu. Bahkan dalam tidurku."
Ruangan hening. Maya, Vania, Kirana mendekat tanpa suara.
"Kalian tahu aku dulu model," Sylvia mulai, suaranya pelan dan datar, suara seseorang yang menceritakan luka yang sudah lama mengeras jadi parut. "Aku berjalan di Paris. Di Milan. Aku salah satu yang pertama dari negeri ini menembus runway internasional. Aku pikir aku tak terkalahkan." Ia tersenyum getir. "Lalu aku pulang ke Indonesia, di puncak karierku, dan aku bertemu seorang pria muda yang sedang membangun kerajaan dari nol. Cerdas, sabar, dan dingin seperti es. Tuan Wirakusuma."
Nadine merasakan potongan-potongan teka-teki yang sudah lama bergantung mulai bergerak.
"Dia menjanjikanku segalanya," lanjut Sylvia. "Menjadikanku wajah agensinya yang pertama. Aku percaya. Aku ikut. Tapi semakin dalam aku masuk, semakin banyak yang aku lihat — hal-hal yang seharusnya tidak aku lihat. Model-model muda yang menandatangani kontrak yang menjebak mereka seumur hidup. Anak-anak desa yang dibawa ke kota lalu menghilang, tidak pernah pulang, tidak pernah ditemukan. Uang yang mengalir ke tempat-tempat gelap." Suaranya bergetar. "Aku mulai bertanya. Aku terlalu terkenal, terlalu vokal, untuk didiamkan begitu saja. Maka dia melakukan yang dia lakukan terbaik. Dia menghancurkanku pelan-pelan."
"Bagaimana?" tanya Nadine, meski ia takut pada jawabannya.
"Bukan dengan satu pukulan. Itu terlalu kasar untuknya, terlalu mudah dilacak." Sylvia menatap tangannya yang keriput. "Tawaran kerja berhenti datang. Klien yang sudah memesanku tiba-tiba membatalkan tanpa alasan. Lalu fitnah mulai menyebar — bahwa aku sulit diatur, bahwa aku tidak profesional, bahwa aku memakai obat-obatan. Tidak ada yang benar. Tapi dia punya media, dia punya uang, dan dia menanam ceritanya di mana-mana sampai orang percaya. Dalam dua tahun, dari bintang internasional, aku jadi 'mantan model yang bermasalah'. Tidak ada yang mau memakaiku lagi."
Ruangan itu terasa dingin meski di luar matahari Jakarta menyengat.
"Dan yang paling kejam," lanjut Sylvia, suaranya nyaris pecah, "saat aku sudah hancur, saat aku tidak punya apa-apa lagi, dia menawariku pekerjaan. Sebagai pelatih. Di agensinya sendiri. Astra." Ia tertawa pahit, suara yang lebih menyakitkan dari tangis. "Aku menerima, karena aku tidak punya pilihan, karena aku harus makan. Dan begitulah aku terpenjara di kerajaannya selama bertahun-tahun. Aku melatih anak-anak muda untuk berjalan tegak di sistem yang sama yang mematahkan punggungku. Setiap kali aku bilang 'menunduk berarti kalah', aku tahu aku munafik. Karena aku sendiri sudah menunduk selama dua puluh tahun."
Nadine berlutut di depan Madame Sylvia, dan menggenggam tangan tua yang dulu mengajarinya filosofi catwalk dengan begitu tajam.
"Itu sebabnya Ibu mengajar di Astra," kata Nadine pelan, dan akhirnya seluruh teka-teki itu menyatu. "Bukan karena loyal pada Astra. Karena Ibu dipenjara di sana. Karena dia yang menghancurkan Ibu juga yang memberi Ibu satu-satunya pekerjaan yang tersisa — supaya dia bisa terus mengawasi Ibu, terus mengingatkan Ibu pada kekalahan Ibu."
Sylvia mengangguk, air mata jatuh ke pipinya yang keriput tanpa malu untuk pertama kalinya.
"Maka kalian mengerti sekarang," katanya, "kenapa saat kalian datang — kalian, anak-anak yang lebih muda, lebih miskin, lebih lemah dariku dulu — dan kalian melawan, sesuatu di dalamku yang sudah lama mati mulai bergerak lagi. Karena kalian melakukan apa yang aku tidak berani lakukan. Kalian menolak Lúmin. Kalian membongkar Astra." Ia menatap Nadine. "Dan sekarang kalian menyebut namanya. Nama yang aku takut sebut selama dua puluh tahun. Wirakusuma."
"Kita tidak hanya akan menyebut namanya, Madame," kata Nadine, berdiri. "Kita akan menjatuhkannya. Dan Ibu — Ibu yang menyaksikan kejahatannya dari awal, dua puluh tahun sebelum aku lahir ke dunia ini — Ibu adalah salah satu yang bisa menjatuhkannya."
Sylvia menatap Nadine lama. Lalu, perlahan, ada sesuatu yang kembali ke postur tua itu. Dagu terangkat. Punggung lurus. Pandangan ke satu titik.
"Mungkin," bisiknya, "dua puluh tahun ketakutan akhirnya ada gunanya. Karena aku menyimpan hal-hal, Nadine. Bertahun-tahun. Bukti-bukti. Aku belum siap memberikannya hari ini. Tapi saat waktunya tiba—" ia menggenggam tangan Nadine erat, "—aku tidak akan menunduk lagi."