Mereka membutuhkan lebih dari bukti. Mereka membutuhkan sekutu — orang-orang yang punya nama, jangkauan, dan keberanian untuk berdiri melawan seseorang sebesar Wirakusuma. Dan Nadine tahu persis ke mana harus pergi.
Pertemuan itu digelar di kantor Majalah Elegan, ruang rapat dengan dinding penuh sampul majalah lama, termasuk satu yang Nadine kenal betul: editorial "Metamorfosis" yang dulu mengubah hidupnya. Bu Anjani yang mengaturnya, dan ia mengundang dua orang yang tidak Nadine duga akan duduk di meja yang sama.
Pak Bram, fotografer yang dulu menyebut Nadine "amatir, patung lilin", kini duduk dengan kamera tergantung di leher seperti selalu. Dan Madame Sylvia, masih membawa beban sejarah yang baru ia bagikan, duduk dengan punggung tegak.
"Aku sudah dua puluh tahun di industri ini," kata Bu Anjani membuka, melepas kacamatanya dan mengusap lelah di matanya. "Dan selama itu, aku mendengar sebuah nama dibisikkan di koridor, di belakang pintu tertutup, tidak pernah dicetak. Wirakusuma. Setiap kali ada model yang menghilang, setiap kali ada agensi yang hancur dan reputasi yang dibunuh tanpa alasan jelas, nama itu muncul dalam bisikan, lalu lenyap. Tidak ada yang berani menulisnya." Ia memakai kembali kacamatanya, dan matanya keras. "Aku salah satu yang tidak berani. Selama dua puluh tahun aku menulis tentang gaun dan tren dan wajah-wajah cantik, dan aku diam soal busuknya. Aku lelah diam."
Pak Bram mengangkat tangannya yang kasar. "Aku akan jujur, karena aku selalu jujur, bahkan saat itu menyakitkan." Ia menatap Nadine. "Dulu aku memotret untuk siapa saja yang membayar. Termasuk Astra. Termasuk, mungkin, perusahaan-perusahaan yang sekarang kita tahu milik Wirakusuma. Aku ikut membuat boneka-boneka cantik yang mereka jual." Ia menatap kameranya. "Tapi aku juga memotretmu, Nadine, di pemotretan pertamamu yang payah itu. Dan aku melihat sesuatu yang tidak bisa diajarkan. Sesuatu yang nyata. Sejak itu aku tidak pernah bisa memotret boneka dengan tenang lagi. Kamu merusak mataku." Ia tersenyum getir. "Jadi sekarang biar aku pakai mata yang rusak ini untuk hal yang benar. Kameraku, arsipku — aku punya ribuan foto dari belakang panggung selama dua puluh tahun. Mungkin ada yang berguna. Wajah-wajah orang yang seharusnya tidak pernah ada di tempat itu."
Nadine menatap ketiga orang ini — editor yang memberinya kesempatan pertama, fotografer yang mengenali bakatnya, pelatih yang membentuk langkahnya. Tiga orang yang masing-masing punya luka sendiri dari sistem yang sama. Tiga orang yang selama bertahun-tahun memilih diam karena takut, sama seperti hampir semua orang.
"Aku tidak memintanya," kata Nadine pelan. "Kalian tahu apa yang kalian pertaruhkan. Bu Anjani, majalah Anda bisa kehilangan pengiklan, bahkan ditutup. Pak Bram, Anda bisa kehilangan setiap klien. Madame Sylvia—" ia menatap perempuan tua itu, "—Ibu sudah kehilangan segalanya sekali, dan dia bisa mengambil sisa hidup Ibu yang tenang."
"Justru karena kami tahu apa yang kami pertaruhkan," kata Bu Anjani, "kami di sini. Orang yang tidak tahu risikonya cuma nekat. Orang yang tahu dan tetap memilih — itu namanya keputusan."
Madame Sylvia mengangguk. "Aku sudah hidup dua puluh tahun sebagai pengecut. Aku lebih takut mati sebagai pengecut daripada hidup berbahaya sebagai orang yang akhirnya berdiri."
Pak Bram hanya mengangkat kameranya dan memotret mereka semua di meja itu, kilatannya menyilaukan sesaat. "Untuk arsip," katanya. "Supaya kelak ada bukti bahwa di suatu ruangan, beberapa orang penakut akhirnya memutuskan berhenti takut."
Bu Anjani membentangkan sebuah peta strategi di meja — bukan jaring kepemilikan kali ini, melainkan rencana serangan. "Kita tidak bisa melawan Wirakusuma dengan cara dia melawan kita — di balik tirai, dengan uang dan boneka. Kita akan melawannya di satu tempat di mana uangnya tidak berkuasa penuh: di depan publik. Di mata orang banyak. Dengan kebenaran yang dipotret terang-terangan." Ia menatap Nadine. "Elegan akan jadi suaranya. Bram jadi matanya. Sylvia jadi saksinya. Dan kamu, Nadine—"
"Aku jadi wajahnya," kata Nadine, mengerti. "Karena dia sudah menjadikanku target. Maka biar aku jadi umpan yang menariknya keluar ke tempat terang."
Untuk pertama kalinya sejak nama Wirakusuma muncul, Nadine merasakan sesuatu selain rasa terjebak. Ia merasakan barisan. Bukan hanya Akar — Maya, Vania, Kirana — tapi koalisi orang-orang industri yang akhirnya memilih sisi. Editor, fotografer, pelatih legendaris. Tiga generasi luka yang sama, bersatu melawan satu nama.
"Dia raja yang memerintah dari kesunyian," kata Nadine, menatap wajah-wajah di meja itu. "Kekuatannya adalah tidak ada yang berani menyebut namanya. Kita baru saja menghancurkan kekuatan itu. Mulai hari ini, namanya tidak lagi bisikan di koridor. Mulai hari ini, kita ucapkan keras-keras."
Tapi di balik kebulatan tekad itu, Nadine tahu satu hal. Mereka baru saja memformasikan barisan untuk perang terbuka. Dan Wirakusuma, raja yang tidak terbiasa ditolak dan tidak pernah memaafkan, akan membalas. Bukan dengan kontrak. Bukan dengan pengacara. Tapi dengan sesuatu yang dirancang untuk menghancurkan satu hal yang paling berharga dari seorang model yang menjual keaslian: namanya sendiri.