Serangan itu datang seminggu kemudian, dan persis seperti yang ditakutkan Nadine, ia datang menyerang reputasi.
Mulanya kecil. Sebuah artikel di portal hiburan yang tidak terlalu dikenal mempertanyakan "dari mana Akar mendapat dana untuk pergi ke Paris". Nadanya seolah polos, sekadar bertanya. Tapi di antara baris-barisnya tertanam racun: insinuasi bahwa kolektif yang mengaku miskin dan idealis itu mungkin disokong diam-diam oleh pihak asing, bahwa Nadine mungkin "menjual sesuatu" untuk kontrak Lúmin.
"Ini cuma percikan," kata Vania, menunjuk layar laptop di markas Akar. "Tapi percikan tidak datang sendiri. Lihat — dalam dua hari, lima portal berbeda menulis hal serupa. Kalimatnya hampir sama. Seolah satu naskah dibagikan ke banyak mulut."
"Karena memang begitu," kata Bu Anjani, yang datang membawa setumpuk kliping. "Aku kenal dunia ini dari dalam. Ini bukan jurnalisme. Ini kampanye yang dibeli. Seseorang membayar untuk menanam pertanyaan-pertanyaan ini, lalu membayar lagi untuk menyebarkannya, supaya saat dia melempar tuduhan besar nanti, tanah sudah disiapkan. Orang sudah curiga. Tinggal disulut."
Nadine membaca artikel-artikel itu satu per satu, dan ia mengenali tangan di baliknya. Bukan dengan bukti — belum — tapi dengan firasat yang sudah diasah oleh tahun-tahun melawan. Halus. Sabar. Mahal. Dirancang untuk membuat korbannya tampak bersalah tanpa pernah dituduh secara langsung.
"Dia tidak menyerangku," kata Nadine pelan. "Dia menyerang cerita tentang siapa aku. Itu lebih cerdas. Aku menjual keaslian — anak nelayan yang jujur, yang menolak menjadi boneka. Kalau dia bisa membuat orang ragu pada kejujuran itu, dia menghancurkan seluruh nilai yang aku bawa. Lúmin menjadikanku wajah keaslian. Kalau keaslianku diragukan, aku tidak lagi berguna, dan seluruh gerakan kontrak adil ikut runtuh bersamaku."
"Perang citra," gumam Madame Sylvia dari sudut ruangan, dan suaranya membawa beban pengalaman dua puluh tahun. "Persis seperti yang dia lakukan padaku. Tidak ada satu pukulan. Cuma seribu sayatan kecil sampai orang lupa kau pernah berdiri tegak, dan cuma ingat noda yang mereka tanam." Ia menatap Nadine dengan mata yang keras. "Jangan kau remehkan, Nadine. Aku meremehkannya dulu. Aku pikir kebenaran akan menang sendiri. Aku salah. Kebohongan yang diulang seribu kali, dengan uang tak terbatas di belakangnya, bisa mengubur kebenaran hidup-hidup."
Nadine berdiri, berjalan ke papan investigasi di dinding, ke nama yang kini tidak lagi kotak kosong — Wirakusuma, tertulis tebal di pusat jaring.
"Maka kita tidak boleh main bertahan," katanya. "Kalau kita cuma membantah setiap tuduhan, kita selalu satu langkah di belakang, selalu tampak seperti tertuduh yang membela diri. Itu yang dia mau. Dia ingin aku menghabiskan energi memadamkan percikan, sementara dia menyiapkan kebakaran besar."
"Lalu apa yang kita lakukan?" tanya Maya.
Nadine menatap koalisi yang telah ia bentuk. Bu Anjani dengan majalahnya. Pak Bram dengan arsip foto dua puluh tahun. Sylvia dengan kesaksiannya. Vania dengan akses ke dunia para pemodal lewat nama ayahnya. Dan di luar mereka semua, publik yang sudah pernah berdiri di pihaknya saat skandal Astra.
"Kita balik medan perangnya," kata Nadine. "Dia ingin perang di kegelapan, di bisikan, di artikel anonim. Kita seret ke terang. Kita ceritakan kebenaran tentang dari mana dana Paris — amplop uang lecek Bu Sekar, patungan pedagang gang, kas Akar yang transparan. Kita buka semua pembukuan kita, sukarela, sebelum dia memaksanya. Karena orang yang menyembunyikan sesuatu takut diperiksa. Orang yang jujur mengundang pemeriksaan."
Bu Anjani tersenyum tipis, mengangguk. "Transparansi sebagai senjata. Dia tidak akan menyangka itu. Orang sepertinya selalu mengira semua orang menyembunyikan sesuatu, karena dia sendiri menyembunyikan segalanya."
"Dan sambil dia sibuk mencari nodaku yang tidak ada," lanjut Nadine, "kita yang menyiapkan kebakaran. Bukti Sylvia. Foto Bram. Jaring kepemilikan yang sudah dibuka Bu Laras. Kesaksian." Matanya menyala. "Dia pikir dia sedang menyerang. Padahal dengan menyerang, dia membuktikan dia takut. Dan orang yang takut membuat kesalahan."
Malam itu, saat yang lain pulang dan markas Akar sepi, Nadine duduk sendirian menatap papan investigasi. Ia menelepon ayahnya di desa, mendengar suara serak yang kini lebih kuat, yang mengomeli dokter dan ingin segera kembali ke perahu. Ia tidak menceritakan perang citra ini. Ia hanya ingin mendengar suara rumah.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Nadine.
"Lebih baik dari kemarin, kurang baik dari besok," jawab ayahnya, dan Nadine tertawa, kalimat khas seorang nelayan. "Kamu sendiri, Nak? Suaramu seperti orang yang sedang turun ke laut saat badai."
Nadine terdiam, menatap nama Wirakusuma di dinding.
"Memang sedang badai, Pak," akunya pelan. "Yang paling besar sejauh ini."
"Kalau begitu," kata ayahnya, suaranya menua tapi teguh, "ingat satu hal yang Bapak ajarkan. Badai paling ganas selalu datang tepat sebelum laut paling tenang. Yang penting perahumu jangan terbalik. Pegang erat, hadapi ombaknya dari depan, jangan dari samping. Dan jangan pernah, Nadine, jangan pernah lepaskan kemudi cuma karena takut."
Nadine menutup telepon dengan air mata di matanya, tapi punggungnya kini tegak. Dagu terangkat. Pandangan ke satu titik.
Di luar, hujan Jakarta mulai turun. Dan jauh di sebuah gedung tinggi berkaca gelap, seseorang yang tidak pernah ditolak sedang menyiapkan sayatan berikutnya — sebuah foto, dirancang serupa kebenaran, yang akan menyebar ke seluruh negeri sebelum matahari berikutnya terbit.