Nadine tahu ada yang salah ketika ponselnya mulai bergetar tanpa henti pukul enam pagi. Bukan satu pesan. Puluhan. Ratusan.
Ia masih berbaring di kasur tipis kamar belakang markas Akar, gudang sewa di Jakarta Selatan yang mereka sulap jadi ruang kerja sekaligus tempat menginap. Maya menggedor pintu sebelum ia sempat membaca apa pun.
"Nadine. Bangun. Kita kena."
Di layar laptop Maya, sebuah foto. Nadine, mengenakan gaun yang ia kenakan saat debut runway Paris, sedang berjabat tangan dengan seorang pria berjas mahal di sebuah ruang temaram. Di bawahnya tertulis: "Nadine diam-diam terima suap Rp2 miliar dari investor asing untuk menjual model-model Akar."
"Itu bukan aku," kata Nadine, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. "Aku tidak pernah ada di ruangan itu."
"Aku tahu kamu tidak pernah," Maya menggeser layar. "Tapi lihat tangannya. Lihat tulang pipinya. Mereka pakai wajahmu, gaun aslimu dari Paris, lalu menempelkannya ke badan orang lain. Rapi sekali. Orang awam tidak akan bisa membedakan."
Vania masuk tanpa mengetuk, rambutnya masih basah. "Sudah masuk tiga portal berita. Tagar #NadinePengkhianat trending. Komentarnya," ia menelan ludah, "kejam, Nadine. Mereka bilang kamu sama saja dengan Astra. Bahwa idealismu cuma jualan."
Nadine berdiri, menarik napas dalam-dalam seperti yang diajarkan Maya bertahun lalu di depan kamera Pak Bram. Rasakan, bukan pikirkan. Tapi ini bukan pemotretan. Ini bukan gaun yang ternoda kopi yang bisa ia perbaiki dengan gunting dan peniti.
"Wirakusuma," katanya pelan.
Vania mengangguk. "Pasti dia. Foto ini terlalu mahal untuk dikerjakan amatir. Editing wajah selevel itu butuh studio, butuh uang. Dan dia satu-satunya orang yang punya alasan menghancurkan reputasimu sekarang."
Mereka tahu sosok itu sejak beberapa minggu lalu. Tuan Wirakusuma, raja industri mode yang memiliki Astra dulu, lalu Vertikal, lewat boneka dan perusahaan cangkang. Pria yang dulu menghancurkan karier Madame Sylvia. Selama ini ia bergerak dari balik tirai. Sekarang ia membuka serangan, dan senjatanya bukan pengacara atau kontrak — melainkan kebohongan yang dipotret serupa kebenaran.
Ponsel Nadine berdering. Bu Anjani, dari Majalah Elegan.
"Nadine, dengarkan aku baik-baik," suara editor itu tegas. "Jangan kamu buat pernyataan emosional. Jangan menangis di kamera, jangan marah-marah. Itu yang mereka tunggu. Mereka mau kamu kelihatan panik supaya orang percaya kamu bersalah."
"Lalu aku harus apa, Bu?"
"Kamu lawan foto palsu dengan fakta. Foto itu pasti punya cacat. Selalu ada. Bayangan yang salah arah, pantulan yang tidak masuk akal, jam yang tidak cocok dengan tanggal. Cari cacatnya. Bawa ke ahli. Aku kenal seorang analis forensik digital, namanya Pak Daud. Aku kirim kontaknya sekarang."
Nadine menutup telepon dan menatap foto itu lagi, kali ini bukan sebagai korban, tapi sebagai penjahit yang mencari jahitan yang salah.
"Maya, perbesar bagian jendela di belakang."
Maya menggeser, memperbesar. Di luar jendela ruang temaram itu, terlihat samar siluet gedung dengan menara kembar.
"Itu bukan Jakarta," kata Nadine, dan untuk pertama kali pagi itu, ada api di matanya. "Aku tidak pernah ke kota dengan gedung seperti itu. Gaun ini cuma aku kenakan satu kali, di Paris. Dan saat aku di Paris, aku tidak pernah masuk ruangan seperti ini."
"Tapi orang tidak tahu itu," Vania menyela. "Mereka cuma lihat wajahmu dan tuduhan."
"Maka kita buat mereka tahu." Nadine menyalin nomor Pak Daud. "Vania, kamu paling paham media. Susun timeline-ku selama di Paris, jam demi jam, dengan bukti — tiket, foto resmi runway, saksi dari tim Lúmin. Maya, kamu bedah foto ini sampai ke pikselnya. Aku akan menemui Pak Daud."
Maya tersenyum tipis, senyum lama yang dulu menguatkannya di pemotretan pertama. "Kamu tidak panik."
"Aku panik," jawab Nadine jujur. "Tapi aku sudah pernah dibilang petani jadi model, patung lilin, amatir. Aku tahu rasanya difitnah dengan foto." Ia teringat caption Vania bertahun lalu, foto dirinya tersandung. "Bedanya, sekarang aku tidak sendirian, dan aku tahu cara melawan."
Ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Hanya satu baris.
"Mundur sekarang, atau foto berikutnya akan jauh lebih buruk."
Nadine memperlihatkannya pada Vania dan Maya. Tangannya tidak gemetar.
"Dia takut," kata Nadine. "Orang yang menang tidak mengancam. Ayo bekerja."