Selama bertahun-tahun, Vania menyembunyikan satu hal dengan rasa malu yang dalam: ia anak orang kaya.
Di Astra dulu, koneksi ayahnya — pengusaha besar dari Surabaya — adalah senjata yang ia pakai untuk menjatuhkan orang. Itu masa lalu yang ingin ia kubur. Tapi pagi ketika foto palsu Nadine menyebar dan ancaman terus berdatangan, Vania menyadari satu kebenaran pahit: senjata yang dulu memalukannya kini mungkin satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka.
"Aku mau kamu izinkan aku melakukan sesuatu," kata Vania pada Nadine, malam itu, di markas Akar yang penuh kardus dan rak gantung. "Sesuatu yang dulu aku janji tidak akan pernah aku lakukan lagi."
"Apa?"
"Memakai nama ayahku."
Nadine menatapnya. Ia ingat Vania yang sinis di asrama, yang menyobek gaun dan menyetel timbangan. Ia juga ingat Vania yang menangis di tangga darurat, yang akhirnya memilih bersaksi melawan Astra meski itu berarti mempermalukan keluarganya sendiri.
"Kenapa sekarang?"
"Karena Wirakusuma bergerak di dunia yang aku kenal," kata Vania. "Dunia pengusaha, dunia ruang rapat berkaca, dunia tempat orang sepertimu — anak nelayan — tidak pernah diizinkan masuk. Tapi aku lahir di situ. Aku tahu bahasanya. Aku tahu siapa berutang budi pada siapa." Ia menarik napas. "Ayahku punya saham di dua perusahaan media. Dan ayahku berutang janji padaku, karena dulu ia diam saja saat Astra menekanku."
Esoknya, Vania terbang ke Surabaya.
Pertemuan dengan ayahnya berlangsung kaku di ruang kerja berlapis kayu jati. Pria tua itu, dengan rambut yang kini lebih putih, mendengarkan putrinya bicara tanpa memotong.
"Dulu aku malu padamu, Pa," kata Vania, dan suaranya tidak goyah. "Saat Astra memerasku, Papa diam supaya nama keluarga aman. Aku tidak minta Papa membayar utang itu dengan uang. Aku minta Papa membayarnya dengan keberanian. Sekali saja."
"Apa yang kau mau?"
"Akses. Ke ruang-ruang yang tertutup untuk orang biasa. Aku mau buktikan siapa yang sebenarnya menyebar foto palsu itu. Dan aku butuh nama besar di belakangku supaya pintu-pintu itu terbuka."
Ayahnya lama terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup Vania, pria itu menunduk sedikit — bukan kekalahan, tapi pengakuan.
"Kau lebih berani dari aku di seusiamu," katanya. "Aku akan buka pintunya. Sisanya, kau yang berjalan."
Dengan dukungan itu, Vania melakukan apa yang tak bisa dilakukan Nadine: ia masuk ke jaringan orang dalam industri. Ia menghadiri makan malam para pemodal, berbasa-basi di lobi hotel mewah, mendengarkan obrolan yang tak akan pernah sampai ke telinga publik. Ia tidak lagi menjadi model yang dinilai timbangan; ia menjadi putri pengusaha yang dinilai setara.
Dan di sebuah makan malam, ia menemukan benang pertama. Seorang eksekutif media yang sedikit mabuk mengeluh tentang "klien yang minta artikel diturunkan dengan cepat, bayarannya tunai, lewat perantara". Vania tersenyum manis, menuangkan anggur, dan bertanya santai siapa perantaranya.
Nama yang keluar membuat jantungnya berdebar: seorang konsultan citra yang, setelah ditelusuri, ternyata pernah bekerja untuk Vertikal.
Vania merekam semuanya diam-diam dengan ponsel di sakunya.
Saat ia kembali ke Jakarta, ia menaruh ponsel itu di meja markas Akar. "Aku tidak punya bukti kuat soal Wirakusuma langsung," katanya. "Tapi aku punya jalur. Konsultan citra ini perantaranya. Kalau kita bisa membuatnya bicara—"
"Kita ikuti benangnya," sambung Nadine.
Vania menatap teman-temannya — Nadine, Maya, Kirana — orang-orang yang dulu ia hina, yang kini ia bela dengan segala yang ia punya. Ada sesuatu yang lega di dadanya, semacam penebusan yang tidak ia minta tapi ia terima dengan syukur.
"Dulu aku naik panggung untuk dilihat," kata Vania pelan. "Sekarang aku naik panggung untuk melindungi kalian. Aneh sekali rasanya."
Maya menepuk bahunya. "Tidak aneh. Itu namanya tumbuh."