Malam itu Nadine tidak bisa tidur.
Tawaran Wirakusuma tidak menggodanya untuk berkhianat — tapi ia menanam keraguan yang lebih halus. Lihat wajah ayahmu yang tua. Lihat model-modelmu yang lelah. Kalimat itu menempel, karena di dalamnya ada kebenaran yang menyakitkan. Akar memang miskin. Teman-temannya memang lelah. Apakah idealismenya, pada akhirnya, adalah kemewahan yang ia paksakan pada orang-orang yang seharusnya bisa hidup lebih mudah?
Ia membuka kotak kayu kecil yang selalu ia bawa ke mana pun. Di dalamnya, foto ibunya yang diberikan ayahnya saat ia pulang ke desa dulu — perempuan dengan tulang pipi yang sama dengan miliknya, tersenyum di depan mesin jahit tua. Dan di dasar kotak, sehelai kertas yang sudah kusut: cetakan simulasi wajah dari Astra bertahun lalu.
Wajah "boneka" itu.
Nadine membentangkannya di bawah lampu. Wajah hasil rekayasa Lúmin dulu — kulitnya diputihkan permanen, hidungnya dipermak, rambutnya cokelat terang, tulang pipinya dihaluskan. Wajah seorang asing. Wajah yang dianggap "sempurna" oleh industri.
Ia menatap wajah palsu itu, lalu menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela gelap di sebelahnya. Dua wajah berdampingan: yang ia tolak dan yang ia jaga.
"Kenapa aku menolakmu dulu?" bisiknya pada wajah boneka itu, seakan bicara pada hantu pilihan yang tak pernah ia ambil.
Pintu kamar terbuka pelan. Kirana.
Kirana, yang paling pendiam di antara mereka, yang baru benar-benar bicara saat momen Akar diuji dulu. Ia masuk, melihat dua wajah yang dibandingkan Nadine, dan duduk di tepi kasur tanpa diminta.
"Aku tahu kertas itu," kata Kirana. "Kamu pernah cerita. Wajah yang mereka mau kamu pakai."
Nadine mengangguk. "Aku cuma... bertanya-tanya, Kirana. Kalau dulu aku iya saja. Kalau aku ambil wajah ini, ambil kontrak Lúmin, ambil semuanya. Mungkin sekarang aku kaya. Mungkin ayahku tidak perlu tua di perahu. Mungkin kalian semua tidak perlu tidur di gudang." Suaranya pecah sedikit. "Kadang aku takut idealismu ini cuma keras kepala yang aku sebut prinsip."
Kirana lama terdiam. Lalu ia berkata, dengan suara pelan yang membuat Nadine menoleh:
"Aku pernah mengambil wajah itu."
Nadine terkejut.
"Bukan operasi," lanjut Kirana. "Tapi yang lebih dalam. Sebelum Astra, aku di agensi lain. Aku menelan semuanya. Aku berhenti makan sampai pingsan. Aku tersenyum pada orang-orang yang aku benci. Aku diam saat teman-temanku disakiti karena aku takut giliranku. Aku jadi persis seperti yang mereka mau." Ia menatap tangannya. "Dan kamu tahu apa yang aku dapat? Kosong. Aku punya wajah sempurna di luar, tapi di dalam tidak ada siapa-siapa lagi. Aku jadi pendiam bukan karena pemalu, Nadine. Aku jadi pendiam karena aku lupa suaraku sendiri seperti apa."
Ia mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya ada api di matanya. "Saat kamu menolak Lúmin dulu, aku belum kenal kamu. Tapi ceritamu yang membuatku berhenti di Astra dan memilih ikut kamu. Karena aku mau tahu — mungkinkah seseorang berhasil tanpa kehilangan dirinya? Aku ikut Akar bukan demi uang, Nadine. Aku ikut karena kamu satu-satunya bukti bahwa jawabannya bisa 'ya'."
Kirana mengambil cetakan wajah boneka itu dari tangan Nadine, dengan lembut.
"Kalau kamu telan tawaran Wirakusuma," katanya, "kamu bukan cuma menjual dirimu. Kamu membunuh harapan setiap orang yang ikut kamu karena percaya jalan lain itu ada. Termasuk aku."
Lalu, perlahan, Kirana merobek cetakan wajah boneka itu menjadi dua. "Wajah ini sudah mati bertahun lalu," katanya. "Jangan kamu bangunkan lagi cuma karena malam ini kamu lelah."
Nadine menatap robekan kertas itu, lalu menatap foto ibunya — tulang pipi yang sama, senyum yang sama. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan air mata ragu.
"Terima kasih," bisiknya. "Aku hampir lupa siapa aku."
"Tidak," kata Kirana, untuk pertama kali tersenyum lebar. "Kamu cuma capek. Itu manusiawi. Boneka tidak pernah capek. Itu bedanya kamu dengan mereka."