Wirakusuma memberi Nadine waktu seminggu untuk menjawab. Nadine memilih menjawab di depan kamera.
Bu Anjani mengatur semuanya. Bukan konferensi pers besar, melainkan wawancara satu lawan satu yang ditayangkan langsung lewat kanal Majalah Elegan — kini punya jutaan penonton sejak skandal Astra. Bu Anjani sendiri yang mewawancarai, dengan kacamata khasnya dan suara yang tenang.
"Nadine," kata Bu Anjani membuka, "publik masih ribut soal foto yang menuduhmu menerima suap. Kamu sudah pernah membantahnya dengan bukti forensik dari Pak Daud — bayangan yang salah, gedung yang bukan Jakarta. Tapi hari ini kamu minta tampil bukan untuk membela diri lagi. Untuk apa?"
"Untuk menjawab sebuah tawaran," kata Nadine, menatap kamera. "Minggu lalu, saya makan malam dengan Tuan Wirakusuma."
Di markas Akar, Maya menahan napas. Bu Laras menutup mata. Vania menggenggam tangan Kirana. Mereka tahu apa artinya menyebut nama itu terbuka di depan publik — itu deklarasi perang.
"Tuan Wirakusuma menawari saya segalanya," lanjut Nadine. "Uang, panggung dunia, masa depan untuk semua teman saya. Dengan satu syarat: saya berhenti bicara. Berhenti menuntut kontrak adil. Berhenti, katanya, jadi nabi. Dia bilang industri ini butuh wajah cantik, bukan orang yang ribut soal keadilan."
Bu Anjani condong sedikit. "Dan jawabanmu?"
Nadine diam sejenak. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku — dua potongan kertas yang sudah disambung kembali dengan selotip. Cetakan wajah boneka itu, yang dirobek Kirana, lalu ia satukan lagi untuk hari ini.
"Ini wajah yang ditawarkan kepada saya bertahun lalu," katanya, mengangkatnya ke kamera. "Saat Astra dan Lúmin minta saya mengubah kulit, hidung, dan tulang pipi saya supaya saya 'layak jual'. Saya menolaknya dulu. Itu penolakan pertama saya." Ia menurunkan kertas itu. "Tawaran Tuan Wirakusuma lebih halus. Dia tidak minta wajah saya. Dia minta jiwa saya. Dan jawaban saya tetap sama."
Ia menatap lurus ke kamera, ke jutaan orang yang menonton, ke pria tua di lantai atas hotel mewah yang mungkin saat itu sedang menyaksikan.
"Tidak, Tuan Wirakusuma. Saya tolak. Untuk kedua kalinya, saya memilih jadi manusia. Bukan boneka."
Ruangan wawancara hening. Bu Anjani sendiri, yang sudah dua puluh tahun di industri, tampak terharu.
"Kamu sadar," kata Bu Anjani pelan, "ini berarti perang terbuka. Selama ini dia bergerak dari balik tirai. Sekarang kamu menariknya keluar di depan publik. Dia tidak akan diam."
"Saya tahu," jawab Nadine. "Tapi sudah terlalu lama kami melawan bayangan. Foto palsu, perantara, perusahaan cangkang — semua dirancang supaya tidak ada yang bisa dituding. Hari ini saya sebut namanya. Sekarang dia harus melawan di tempat terang, di mana fakta bisa diuji, di mana kebohongan punya bayangan yang salah arah." Ia tersenyum tipis. "Saya cuma penjahit dari desa, Bu. Tapi saya tahu satu hal: jahitan yang sembunyi di balik kain selalu lebih lemah dari yang dijahit di tempat terang."
Tayangan itu meledak. Dalam hitungan jam, klip "Penolakan Kedua" Nadine menyebar ke seluruh negeri. Tagar #NadinePengkhianat yang dulu menyerangnya berbalik menjadi #BukanBoneka. Orang-orang yang dulu ragu kini berpihak. Mantan-mantan model dari berbagai agensi mulai berbicara, menceritakan kisah mereka sendiri.
Tapi di markas Akar, malam itu, telepon Bu Laras berdering. Wajahnya berubah saat mendengarkan.
"Ada apa?" tanya Nadine.
Bu Laras menutup telepon perlahan. "Itu dari pengelola gudang kita. Ada surat dari pengadilan. Lahan tempat markas Akar berdiri — diklaim oleh sebuah perusahaan pengembang. Mereka punya dokumen kepemilikan, dan perintah pengosongan dalam tiga hari." Ia menatap Nadine. "Perusahaan pengembangnya. Aku cek namanya barusan. Salah satu cangkang Wirakusuma."
Nadine berdiri, dan untuk sesaat ruangan itu terasa dingin. Perang yang ia nyatakan di siang hari sudah membalas sebelum malam berakhir.
"Dia tidak bisa membeli kita," kata Nadine pelan, "jadi dia mau menggusur kita."