Buldoser datang pagi hari ketiga, sebelum matahari sepenuhnya naik.
Surat pengosongan dari pengadilan ditempel di pintu gudang dengan dasar hukum yang, menurut Bu Laras, "dipaksakan tapi cukup untuk menggerakkan eksekusi". Perusahaan pengembang itu — salah satu cangkang Wirakusuma — mengklaim lahan tempat markas Akar berdiri, dengan dokumen yang muncul entah dari mana, ditandatangani notaris yang sulit dilacak.
"Ini ilegal," kata Maya, suaranya gemetar marah, menatap dua buldoser dan belasan petugas keamanan berseragam yang berbaris di luar pagar. "Kita sewa tempat ini sah. Ada kontraknya."
"Sah secara perdata," Bu Laras menjawab, mengusap dahinya yang berkeringat. "Tapi mereka mainkan ini sebagai sengketa kepemilikan tanah, bukan sengketa sewa. Beda ranah. Dan mereka punya orang di kantor yang menerbitkan eksekusi cepat. Aku sudah ajukan keberatan, tapi prosesnya butuh waktu. Mereka tahu itu. Mereka mau menggusur dulu, baru kita ribut soal sah-tidaknya belakangan. Saat itu, markas sudah jadi puing."
Markas Akar bukan sekadar gudang. Di sinilah mereka menjahit, berlatih catwalk di lorong sempit, menyimpan rak gantung berisi karya-karya mereka, tidur berdesakan saat tak ada uang sewa kos. Ini rumah yang mereka bangun dari reruntuhan setelah lepas dari Astra. Menghancurkannya berarti mencerai-beraikan mereka.
Para model Akar berdiri di halaman, sebagian menangis, sebagian gemetar ketakutan. Beberapa anggota baru yang belum lama bergabung sudah mulai berbisik soal mundur, soal mencari agensi lain yang lebih aman.
"Mereka pintar," kata Vania pahit. "Wirakusuma tidak menyerang Nadine lagi langsung. Dia serang fondasinya. Tanpa markas, kita tercerai-berai. Tanpa tempat berkumpul, kolektif ini cuma nama. Dia tahu Akar kuat karena kita bersama. Jadi dia mau memisahkan kita."
Nadine berdiri di depan pagar, menghadang barisan petugas keamanan. Ia tidak berteriak, tidak menangis. Ia menatap pria yang memimpin eksekusi.
"Pak, saya minta tunjukkan dokumen aslinya. Bukan salinan."
Pria itu menyodorkan map. Nadine memeriksanya dengan teliti — sama seperti dulu ia memeriksa slip pembayaran Astra yang fiktif. Matanya berhenti di satu halaman.
"Tanggal di akta ini," katanya, "lebih awal dari tanggal pendirian perusahaan yang mengklaim. Bagaimana sebuah perusahaan bisa membeli tanah sebelum perusahaan itu sendiri lahir?"
Pemimpin eksekusi tampak bingung, lalu menutup map. "Saya cuma menjalankan perintah, Mbak. Soal tanggal, urusan pengadilan."
"Maka kita selesaikan di pengadilan," kata Bu Laras maju, menyodorkan surat keberatan resmi. "Saya, kuasa hukum penghuni, menyatakan ada cacat dalam dokumen ini. Kalau Bapak tetap menggusur sekarang, dengan dokumen yang tanggalnya saja sudah janggal, Bapak yang akan menanggung gugatan baliknya."
Keraguan menjalar di antara para petugas. Buldoser belum bergerak.
Tapi semua orang tahu ini hanya menunda. Wirakusuma punya uang, punya pengacara, punya orang di mana-mana. Dokumen janggal bisa "diperbaiki" dalam sehari. Markas ini, cepat atau lambat, akan jatuh — kecuali ada sesuatu yang lebih kuat dari hukum yang dibengkokkan uang.
Malam itu, di markas yang masih berdiri tapi terancam, para model berkumpul. Beberapa sudah mengepak barang. Beberapa berdebat. Suasana retak.
"Mungkin kita memang harus menyerah soal tempat ini," kata salah satu model muda. "Kita bisa pindah. Cari tempat lain."
"Pindah pakai apa?" sahut yang lain. "Kita tidak punya uang. Dan kalau Wirakusuma mau, dia gusur tempat berikutnya juga. Selama dia ada, kita tidak akan pernah punya rumah."
Nadine mendengarkan semuanya, lalu berdiri di tengah ruangan. Ia tidak punya jawaban hebat. Tidak punya rencana ajaib. Yang ia punya hanya keyakinan lama.
"Dia mau kita berpikir bahwa kekuatan kita ada di gudang ini," katanya. "Bahwa kalau dia hancurkan tembok dan atap, kita selesai. Tapi Akar bukan gedung. Akar adalah kita. Kalau kita bubar karena takut, dia menang tanpa harus menggusur apa pun. Kalau kita bertahan bersama — entah di sini, entah di tempat lain — dia tidak akan pernah bisa menghancurkan kita."
Ia menatap satu per satu wajah yang lelah dan takut itu. "Aku tidak akan memaksa siapa pun bertahan. Tapi besok pagi, saat buldoser kembali, aku akan berdiri di depan pagar ini. Siapa pun yang masih percaya, berdiri di sampingku."