Cuaca sekarang ini memang tak bisa diperkirakan. Contohnya seperti sekarang ini. Jarak sampai rumah masih beberapa menit lagi. Namun Safeer terjebak hujan dalam perjalanan pulang. Kepalang basah, hingga akhirnya Safeer pun menerobos hujan yang memang tak terlalu lebat itu.
Sesampainya di rumah, ia mengingat sesuatu. Astaga, ia janji untuk mencarikan motor seken buat adiknya itu.
Pintu rumah tak terkunci, lalu Safeer segera masuk kamar untuk membersihkan diri. Sekalian melakukan shalat asar.
Safeer merasakan ada yang janggal di rumahnya. Karena sejak tadi ia tak melihat adiknya yang cerewet itu. Safeer menuju dapur. Kosong, tak ada makanan. Tak seperti biasanya. Tapi melihat sepatu Afa yang sudah ada di rak sepatu membuatnya merasa ada yang tak beres.
Dan benar saja. Safeer membuka pintu kamar sang adik, dan mendapati anak ke dua dari Mama Ziha itu tengah meringkuk di atas kasur sambil menggigil tak jelas.
"Afa?" Panggil Safeer namun tak mendengar jawaban.
Safeer mendekat dan segera mendekatkan telapak tangannya ke kening Afa. Sesuai dugaannya premannya mama Ziha sakit.
Tanpa pikir panjang, Safeer segera mengangkat sang adik, setelah memasangkan dengan sembarang jilbab bergo milik Afa. Ia membawanya ke mobil. Jelas langsung melaju menuju rumah sakit terdekat.
Untung saja, hanya demam biasa. Safeer bernafas lega setelah adiknya yang paling cantik itu mendapatkan pertolongan dari dokter. Dan setelah berhasil melihat Afa tidur dengan tenang, ia keluar untuk mencari makan. Ini sudah malam. Jangankan makan malam. Makan siang saja dia belum mendapatkannya.
Ingin sekalian memberi kabar pada ibunya, yang ternyata sudah menelponnya terlebih dahulu.
Dan mungkin memang seperti itulah yang dinamakan ikatan batin antara anak dan ibu. Karena saat Safeer mengangkatnya, maka mamanya itu langsung menanyakan adiknya.
"Afa gak apa-apa Ma, mungkin karena cuaca di sini yang lagi gak tentu aja. Jadinya Afa demam deh." Safeer masih membujuk mamanya di ujung sana agar tak khawatir. Sedangkan ia masih berjalan menuju kantin rumah sakit yang ternyata tempatnya lumayan jauh juga dari ruangan sang adik.
Safeer masih mendengarkan nasihat berikut petuah dari Nyonya Lazuardi yang sudah seperti rel kereta api. Gak ada putusnya. Namun, suara mamanya terdengar menjauh saat kini tatapannya fokus pada sebuah pemandangan tak asing.
Ya. Ia melihat Feera yang terlihat lemas di kursi tunggu. Memegang sebotol air mineral, wajahnya tampak lelah.
"Feera?" Tentu saja Safeer segera menutup telepon dan menghampiri temannya itu.
Pandangan yang tak mampu Safeer tafsirkan. Melihat Feera yang menatapnya seolah ia minta tolong untuk di tarik keluar dari dalam.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Safeer yang bukannya mendapatkan jawaban,malah balasan senyum getir dari Feera.
"Sama siapa? Orang tua kamu?" Dan sedetik setelah mengucapkan kalimat itu, Safeer menatap seorang lelaki paruh baya yang tadi ia lihat di rumah Feera. Lelaki itu yang tadi memarahi temannya.
Lelaki itu hanya memandang Safeer acuh. Bahkan tak menyapa Feera, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Safeer jelas merasakan ada sesuatu yang tak beres di sini.
Kini pandangannya beralih pada Feera yang terlihat makin pucat.
"Aku panggilkan dokter ya?"
Feera menggeleng. Lalu mencoba bangkit namun sempoyongan. "Mau ke mana?"
"Mau ke kantin." Jawab Feera sambil menyempitkan ujung jilbabnya ke bahu.
Dengan ragu, Safeer memegang pundak Feera lalu menuntunnya menuju Kantin. Bukankah tujuan mereka sama? Safeer rasanya ingin mengorek tentang kehidupan gadis di sampingnya ini. Namun ia tahu hal tersebut akan melewati batas. Ia hanya teman dan tak berhak melakukannya.
"Terima kasih." Seru Feera saat ia sudah sampai di kantin. Terlihat Feera yang antusias memilih menu makannya yang diikuti Safeer.
"Kamu mau makan juga?"
"Aku belum makan sejak siang tadi." Jawab Safeer yang diangguki Feera.
Tak ada pembahasan berarti saat mereka makan. Hanya menikmati makan malam dalam diam. Sesekali membahas hal-hal mengenai sekolah mereka.
"Setelah ini mau ke mana?" Tanya Safeer yang melihat Feera terlihat semakin segar saja. Ah, apa gadis ini terlihat lemas karena belum makan? Lalu kenapa bisa ada di rumah sakit malam-malam begini. Apa ada saudaranya yang sakit. Jika mengingat laki laki tadi, Safeer pasti akan berpendapat seperti itu.
"Mau ku antar pulang?" Tawar Safeer yang langsung ditolak oleh gadis di sampingnya.
"Gak usah, aku naik taksi aja." Jawab Feera tanpa menanyakan sedang apa Safeer berada di tempat ini.
Ya, begitulah mereka. Tak ada percakapan mengenai pribadi masing-masing. Padahal dalam hati Safeer sangat penasaran.
Semakin Safeer gencar membujuk mengantarkan Feera untuk pulang. Sampai akhirnya, Feera menyetujui hal tersebut.
Terlihat raut muka Feera saat mendapat Safeer dengan sebuah mobil. Ya, tadi pagi, ia baru saja dibonceng menggunakan motor keren dan sekarang sudah beralih menggunakan mobil.
Safeer jelas melihat tatapan itu. Bukan tatapan wah atau kagum. Tapi tatapan penuh tanda tanya yang membuat Safeer akhirnya sadar.
Safeer tak mengatakan apa pun. Dan Feera rupanya tak juga ingin menanyakan hal tersebut. Sehingga melaju lah kendaraan milik Safeer ke jalanan besar.
Karena Safeer akan menginap di rumah sakit, ia kepikiran untuk mengambil buku pelajaran untuk besok pagi. Ah sekaligus dengan niatan mengajak Feera ke rumahnya.
Eh, tapi Safeer bukan pria seperti itu ya, ia tak akan dengan sengaja membawa Feera masuk ke dalam rumahnya saat sedang tak ada siapa oun di dalam sana. Safeer meninggalkan Feera di dalam mobil di depan rumahnya,dan ia masuk ke dalam rumah sendiri. Hanya sebentar membawa tas berisi seragam dan buku pelajaran. Tak lupa baju ganti untuk adiknya.
"Kamu ngapain bawa tas segala?"
"Oh, baju ganti buat sekolah besok. Adik aku lagi sakit, jadi aku tidur di rumah sakit deh."Jawab Safeer sekenanya.
"Lho? Kamu gak bilang sih? Kenapa malah kamu nganterin aku?"
"Ya kan sekalian ambil baju." Jawab Safeer dengan segala betulannya.
"Oke deh, semoga adik kamu cepat sembuh ya?"
"Amin. Pasti, dia anak yang kuat."
Dan setelah itu keadaan kembali sunyi. Tak ada obrolan berarti sampai Safeer menghentikan mobilnya di depan masjid. Jelas karena mobilnya tak bisa masuk ke dalam jalan sempit menuju rumah Feera.
"Kamu mau ke mana?" Seru Feera cepat saat mendapati Safeer yang juga ingin keluar dari mobil.
"Nganter kamu pulang."
"Sampai sini saja. Mending kamu balik ke rumah sakit dan jagain adik kamu. Rumah aku udah dekat ini."
"Tapi kan ini malam."
"Aku gak bilang ini siang kan?"
Safeer tersenyum dan mengangguk. Rupanya gadis itu bisa bercanda juga.
"Baik lah, aku balik." Ucap Safeer pada akhirnya. Meninggalkan sosok itu gilang dalam gelapnya malam. Dan Safeer kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Ia harus kembali ke rumah sakit sebelum adiknya itu terbangun tengah malam.