Jam 5 pagi. Safeer baru saja selesai menjalankan shalat subuh. Lalu melihat sang adik yang malah sudah bersantai dengan ponsel yang semalam ia bawakan.
Setelah selesai melipat sajadah, safeer mendekati adiknya. Hanya sekedar ingin mengecek suhu tubuh, sebelum ponselnya juga ikut berdering minta perhatian.
Pagi begini siapa yang menelponnya. Rupanya nama mamanya tertera di sana. Safeer segera menekan tombol hijau sebelum yang di ujung sana ngomel semakin jauh.
"Kalian kenapa sih? Di telponin gak ada yang angkat?"
"Ini Safeer udah angkat Ma, batu selesai Subuh tadi." Jawab Safeer yang tak lagi heran pada seruan di sebrang sana.
"Adik kamu juga, di telpon hp nya gak aktif." Nah, saat mendengar ucapan itu, netra Safeer langsung tertuju pada sang adik yang bertingkah masa bodoh saat melihatnya dihubungi oleh ibu mereka.
Dan setelah usai menelpon, Safeer segera menyimpan ponselnya dan mendekati sang adik yang masih sibuk sam ponselnya.
"Lo di telpon mama kenapa gak di angkat. Mama khawatir sama lo Afa."
"Halah, mama mah gitu, giliran jauh dikhawatirkan, giliran dekat gue di suruh menjauh. Salah sendiri maksa Afa sekolah jauh-jauh." Jawab Afa yang malah terlihat kesal.
Safeer tak ingin membalas ucapan adiknya yang jujur tak ingin ia benarkan. Ia hanya mendekat dan menyentuh kening adiknya yang sudah tak panas lagi. Lalu menghembuskan nafas lega.
"Gue mau sekolah dulu. Nanti siang gue jemput lo buat pulang."
"Hem." Jawab Afa acuh.
Ya Allah, Safeer sudah berulang kali geleng-geleng kepala dengan tingkah adiknya ini. Kalau ngambek emang gak ketulungan. Pantas saja mamanya ini ngebet banget menyekolahkan adiknya di madrasah. Meskipun ia sedikit kena imbasnya juga sih. Tapi tak apa lah. Siapa tahu hidup di sini bisa membuat adiknya bisa lebih mengerti. Lebih menjadi perempuan yang santun. Meskipun sebelum ini, ia juga jarang peduli dengan tingkah laku adiknya itu.
Safeer bergegas menuju sekolah. Sebenarnya, ia cukup bingung karena ia membawa mobil ke sekolah. Ia tak ingin tampak mencolok, karena semua temannya tak ada yang membawa mobil seperti dirinya.
Sehingga Safeer lebih memilih untuk menitipkan mobilnya di parkiran yang jaraknya cukup dekat ke sekolah. Jadi ia bisa berjalan kaki seperti yang lainnya.
Tapi sungguh, meskipun terlihat melangkahkan kakinya seperti siswa lainnya, Safeer tampak lebih mencolok karena ketampanan yang ia miliki.
Hari ini, pelajaran hanya berlangsung setengah hari. Sampai pukul sebelas siang. Di saat semua murid bersorak bahagia, tidak dengan Safeer. Ah, di sekolahnya dulu mana ada yang seperti ini. Guru halangan hadir saja. Pasti ada tugas menanti.
Namun Safeer salah. Rupanya, di jam selanjutnya akan diisi dengan pengajian oleh ketua yayasan di sekolah. Hal yang tak pernah Safeer ketahui kalau hal seperti ini sering terjadi di sekolah. Biasanya di hari-hari besar islam. Entah sekedar untuk penyambutan atau peringatan.
Petra mengajak Safeer untuk ke kantin terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan aula sekolah. Dengan heran Safeer bertanya. "Bukannya lebih bagus dapat barisan yang pertama?"
"Ya, tapi, kau akan kelaparan jika tak cari makan terlebih dahulu. Kalau sudah begini acara akan berlangsung sampai sore."
"Sampai sore?" Tanya Safeer mengingat suatu hal. Ia kan harus menjemput adiknya.
Petra mengangguk yakin. "Kalau sudah masuk ke Aula, jangan harap bisa keluar jika acara belum selesai."
"Eh? Tapi gue ada cara siang ini."
"Selama acara lo itu penting lo bisa lapor sama guru kok." Jawab Petra yang terdengar melegakan. "Mending lo masuk di barisan paling belakang deh." Dan Safeer mengangguk. Coba kalau Petra tak memberi tahunya, ia pasti terjebak di dalam dan sang adik akan lebih kesal.
Sama seperti dirinya. Rupanya yang meminta izin untuk pulang lebih dulu bulan hanya dia. Tapi juga gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Feera.
"Kamu mau izin pulang juga?" Bahkan sampai di depan guru BK saja, Safeer masih saja memandang Feera yang keluar dari ruangan itu sebelumnya. Lalu suara pak guru membuatnya kembali pada tujuannya semula.
"Ah iya, adik saya yang bernama Afa, sedang sakit di rumah sakit pak. Kami cuma berdua di kota ini jadi saya harus menunggunya di rumah sakit." Ucap Safeer menyebutkan alasannya.
"Ah, dia murid kelas X A pak." Lanjut Safeer menambahkan untuk memperkuat alasannya. Bahkan dia sendiri yang membuatkan izin untuk ketidak hadiran adiknya itu di sekolah.
Tak ada yang dirisaukan lagi. Safeer hanya mengikuti setengah acara, dan menyerahkan izin keluarnya tepat pukul setengah satu siang. Sebenarnya ini sudah sedikit terlambat. Dan Afa pasti akan lebih kesal karena ini.
Safeer keluar dari sekolah dengan jalan kaki, menuju parkiran mobil, di mana ia menitipkan mobilnya. Ah, benar juga apa yang Afa bilang. Memakai mobil ke sekolah ini memang terasa berlebihan. Berbeda dari sekolah sebelumnya. Bahkan hampir seluruh murid tak ada yang tidak membawa mobil.
Kini Safeer mengendarai mobilnya dengan cepat. Mengendarai mobil maupun motor di jalanan bukanlah hal tabu baginya. Itu adalah hal yang sering ia lakukan.
Tak sampai satu jam, hingga Safeer sampai di depan pintu ruangan sang adik. Tak seperti dugaannya, ia pikir adiknya itu akan merajuk karena ia terlambat datang. Namun apa yang terjadi? Adiknya itu malah tertidur pulas, bahkan tak menyadari kehadirannya.
Safeer pergi menemui suster, menanyakan keadaan adiknya sekaligus membayar administrasinya.
Semua berjalan lancar, dan adiknya itu boleh pulang saat ini juga. Tapi sepertinya ia harus menunggu adiknya itu bangun.
Sambil menunggu, ia lebih memilih untuk ke kantin. Hanya sekedar memesan minuman hangat, karena semalam setelah kehujanan sepertinya Hidungnya sedikit tersumbat.
Belum juga ia sampai kantin, ia berhenti karena melihat perdebatan seorang laki-laki dan wanita paruh baya di depan sebuah ruangan. Ya, ruangan di mana semalam ia menemukan Feera dalam keadaan lemas.
Laki-laki itu tampak terlihat gusar. Berdebat dengan wanita di depannya yang sepertinya menuntut akan suatu hal. Safeer penasaran, dan ia berjalan mendekat pada mereka. Mengendap di balik tembok hingga dengan samar dapat mendengarkan ucapan mereka.
Sebenarnya Safeer sendiri merasa kalau ini memang bukanlah urusan yang patut ia campuri. Namun karena ini menyangkut gadis yang selama ini sudah membuatnya penasaran, maka itulah mengapa ia melakukan hal ini.
"Bapak harus tegas dong. Bagaimana pun caranya, Vika harus mendapatkan ginjal itu. Dan Feera harus merelakannya demi adiknya."
"Dengar Rumi," Lelaki itu terlihat menghela nafas berat. "Selama ini kita sudah mengambil banyak darah dari Feera. Apa kita juga harus mengambil Ginjalnya juga?"
"Tentu saja pak, Feera masih bisa hidup dengan satu ginjal. Sedangkan Vika visa saja meninggal jika tak mendapatkan ginjal itu." Dan wanita tua bernama Rumi itu terlihat memaksa.
Jelas percakapan singkat itu membuat gejolak aneh di hati Safeer. Pikirannya berkelana kemana-mana. Apa yang terjadi sebenarnya dengan Feera dan keluarganya. Lalu apa maksud mereka yang membahas mengenai ginjal?
Safeer masih tak bisa menemukan arah percakapan itu. Ia masih ingin menguping pembicaraan, sebelum ponselnya berdering dan nama Afa tertera di sana. Sepertinya sang adik sudah tahu akan keberadaanya di sini.
Safeer kembali lagi ke ruangan sang adik dan melupakan tujuannya unyuk membeli minuman hangat.
Terlihat sang adik yang tampaknya sudah siap untuk pulang. Padahal, tadi adiknya itu masih memakai pakaian pasien, sekarang adiknya itu sudah tampak cantik dan segar. Gamis berwarna pink itu sudah membalut tubuh adiknya dengan anggun.
"Ngapain lihatin kayak gitu sih bang?" Tampak sekali Afa yang merasa tak senang dengan pandangan Safeer. Memang sih, Afa jarang memakai gamis. Atau mungkin hampir tak pernah.
"Gak apa-apa, udah siap?" Balas Safeer tak ingin adiknya itu merasa tak percaya diri dengan baju yang ia bawakan. Kalau minta ambilkan yang lain kan dia yang repot nanti.
"Abang sengaja kan bawain Afa gamis pink ini?" Tutur Afa membuat bibirnya maju ke depan.
"Itu kan baju yang dibelikan mama dan belum pernah kamu pakai. Cantik kok."
"Ck, bikin gak PD pakai gamis. Kayak emak-emak. Udah gitu warna pink lagi."
"Siapa bilang, kamu imut tahu. Adik abang paling cantik." Rayu Safeer pada sang adik yang tengah merajuk.
"Gak usah di ulang bang, seluruh dunia juga tahu, kalau gue ini adik lo yang paling cantik. Lupa adik lo yang satunya cowok?"
"Iya, iya, ayo pulang!"
"Ajak Afa ke restoran mahal dulu ya bang, cafe juga gak apa-apa deh, dari kemarin makan masakan rumah sakit gak ada sedapnya."
Safeer tersenyum hangat lalu mengangguk. Begitulah adiknya ini.