Ruang pemeriksaan lembaga antikorupsi tak punya jendela. Hanya meja logam, dua kursi, dan satu lampu yang membuat keringat di kening Sutardjo berkilau seperti minyak.
Selama dua hari pertama, Sutardjo bertahan. Ia menyangkal, menyebut "salah paham", mengancam dengan nama-nama pengacara. Tapi pada hari ketiga, ketika penyidik memutar rekaman dirinya menyalakan korek api di atas tempat sampah arsip, lalu menumpuk di mejanya cetakan log digital yang menautkan namanya ke tiga penghapusan bukti sepanjang dua bulan, sesuatu di dalam dirinya patah.
"Saya tidak membunuh siapa-siapa," katanya tiba-tiba, suaranya serak. "Saya cuma... menjaga agar berkas tertentu tidak naik. Itu saja. Saya tidak pernah menyentuh nyawa orang."
"Tapi berkas yang Bapak tahan," kata Damar, yang diizinkan hadir sebagai pemberi keterangan teknis, "adalah berkas yang akan menyelamatkan ribuan orang. Diam Bapak punya harga, Pak. Cuma orang lain yang membayarnya."
Sutardjo menunduk lama. Lalu ia mulai bicara.
Dan yang keluar dari mulutnya bukan lagi soal Cakrawala sebagai perusahaan. Itu soal Cakrawala sebagai mesin pembagi.
"Saham itu dibagikan," katanya. "Sebelum melantai di bursa, sebelum harganya naik. Lapis pertama. Harga kawan. Saya dapat. Banyak yang dapat. Bukan cuma di kantor pengawas." Ia menyebut nama divisi, lalu nama orang, lalu — dan di titik ini Arini di balik kaca satu arah menahan napas — sebuah nama yang bukan birokrat.
"Pak Darmaji," kata Sutardjo. "Anggota dewan. Komisi yang membawahi keuangan. Dia dapat alokasi paling besar lewat perusahaan istrinya. Dialah yang menjaga agar regulasi tidak pernah menyentuh Cakrawala. Tiap kali ada usul memeriksa, dia yang menggeser anggaran, mengganti orang, menumpulkan."
Damar merasa ruangan menyusut. Awalnya kasus ini cuma soal angka di laporan keuangan. Lalu soal pembunuhan terselubung. Lalu soal pejabat pasar modal. Sekarang, untuk pertama kalinya, garisnya menembus ke gedung tempat undang-undang dibuat.
"Bapak bersedia menuliskan ini? Bersaksi?" tanya penyidik.
Sutardjo tertawa pahit. "Kalian tahu apa yang terjadi pada orang yang bersaksi melawan jaringan ini? Auditor itu — Gunawan — masuk jurang. Saya masih ingat beritanya. 'Rem blong.' Mobil baru servis dua minggu." Ia menggeleng. "Saya mau hidup."
"Bapak sudah mati kalau diam," kata Damar. Suaranya tak keras, tapi rata seperti pisau. "Pikir, Pak. Jaringan ini sedang runtuh. Salim ditahan. Wirananta lari. Orang yang tahu terlalu banyak dan tidak berguna lagi — itu kategori paling berbahaya. Bapak baru saja jadi orang yang tahu terlalu banyak. Satu-satunya yang membuat Bapak berguna untuk dibiarkan hidup adalah kalau Bapak ada di bawah perlindungan negara sebagai saksi. Di luar itu, Bapak cuma sumbu yang menyala."
Kalimat itu — sumbu yang menyala — adalah kalimat yang dulu Salim ucapkan tentang Damar sendiri di gudang blok C. Damar memuntahkannya kembali ke wajah jaringan yang menciptakannya.
Sutardjo terdiam sangat lama. Lampu mendengung. Lalu ia mengangguk, sekali, kecil.
"Saya butuh perlindungan untuk istri saya," katanya. "Dia tidak tahu apa-apa."
"Itu bisa diatur," kata penyidik.
Malam itu, di mobil yang membawanya kembali ke rumah aman, Damar menatap lampu jalan yang melesat. Arini di sebelahnya, menulis cepat di buku catatan kecil.
"Kau sadar apa yang baru terjadi?" tanya Arini.
"Kasus naik," jawab Damar.
"Lebih dari itu." Arini menutup bukunya. "Selama ini kita melawan perusahaan. Mulai malam ini, kita melawan kekuasaan. Itu permainan yang sama sekali berbeda, Damar. Perusahaan bisa bangkrut. Kekuasaan akan melawan untuk hidup."
Damar memikirkan satu hal yang tak ia ucapkan. Dulu, di awal semua ini, ia mengira kasus ini soal tujuh pelanggan fiktif dan piutang yang membengkak — soal angka yang terlalu cantik. Lalu angka itu berubah jadi mayat: Gunawan di dasar jurang. Sekarang nama Darmaji mengubahnya lagi, jadi sesuatu yang lebih besar dari korporasi mana pun. Saham yang dibagi "harga kawan" sebelum melantai itu bukan cuma penipuan keuangan. Itu cara membeli perlindungan. Tiap pejabat yang memegang lembar saham Cakrawala adalah satu pintu yang dikunci agar kebenaran tak bisa keluar.
"Kau dengar yang dia bilang tadi?" tanya Damar. "Tiap kali ada usul memeriksa, Darmaji menggeser anggaran, mengganti orang, menumpulkan. Selama bertahun-tahun. Itu sebabnya skema ini bisa tumbuh sampai dua belas triliun tanpa satu pun regulator menyentuhnya. Bukan karena mereka buta. Karena mereka dibayar untuk memejamkan mata."
Arini mengangguk pelan. "Dan sekarang kita memaksa mata-mata itu terbuka. Mereka tidak akan suka."
Damar tak menjawab. Di kantong jasnya, ponsel bergetar. Nomor tak dikenal. Ia membiarkannya berbunyi, lalu mati. Lalu berbunyi lagi.
Ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa nama Darmaji yang baru saja diucapkan di ruang tanpa jendela itu sudah, entah bagaimana, sampai ke telinga yang salah.
Permainan baru sudah dimulai.