Damar tidak tidur semalaman. Ia duduk di sudut ruang kerja sempit yang dipinjamkan lembaga antikorupsi, layar laptop memantul di kacamatanya, menunggu satu hal: pergerakan pada dokumen umpan.
Tiga hari lalu ia menanam jebakan. Bukan dokumen asli. Sebuah berkas palsu yang ia susun rapi — daftar "rekening cangkang Cakrawala yang belum terlacak", lengkap dengan nomor, tanggal, dan satu kalimat yang sengaja menggoda: "salinan tunggal, belum diserahkan ke jaksa." Ia menyebar berkas itu lewat tiga jalur berbeda ke dalam institusi pengawas pasar modal. Tiap salinan diberi penanda tak kasat mata — metadata berbeda, nomor halaman digeser satu piksel. Siapa pun yang membuka, menyalin, atau menghapusnya akan meninggalkan sidik jari digital. Itu cara membumi untuk satu pertanyaan yang membakar Damar sejak daftar pemegang saham itu bocor: siapa orang dalam yang masih aktif?
Pukul tiga lewat empat menit, layar berkedip.
Satu salinan diakses. Lalu dihapus. Lalu — dan ini yang membuat jantung Damar berdebar — pelakunya mencoba menghapus log akses itu sendiri. Tangan yang gemetar menutupi jejaknya.
"Arini," Damar berbisik ke telepon. "Bangun. Ikan masuk jaring."
Setengah jam kemudian Arini sudah di sampingnya, rambut acak-acakan, mata bengkak tapi tajam. Mereka memutar rekaman jejak digital. Penanda dari salinan yang dihapus cocok dengan jalur ketiga — yang Damar selipkan ke meja seorang pejabat eselon di Divisi Pengawasan Transaksi: **Pak Sutardjo**, lima puluhan, jas selalu rapi, namanya pernah disebut samar dalam daftar pemegang saham yang bocor ke publik.
"Bukan cuma membuka," kata Arini. "Dia menghapus. Lalu menghapus jejak penghapusan. Orang tak bersalah tak melakukan itu."
"Orang tak bersalah tak tahu berkas itu berbahaya," Damar menambahkan. "Dia tahu. Karena dia tahu apa yang asli."
Tapi log saja tak cukup di pengadilan. Pengacara Grup Wirananta — yang sudah menuduh dokumen Damar palsu di depan kamera — akan menyebut ini rekayasa. Damar butuh Sutardjo tertangkap basah, fisik, dengan saksi.
Rencana disusun dalam tiga jam. Damar menanam umpan kedua: berkas "asli" yang katanya akan diserahkan ke jaksa esok sore, disimpan di brankas arsip lantai sembilan kantor pengawas. Pesan itu ia bocorkan hanya ke satu telinga — lewat percakapan "tak sengaja" yang didengar staf Sutardjo. Jika Sutardjo benar pengkhianatnya, ia akan datang malam ini, sebelum berkas itu "terlambat".
Lembaga antikorupsi yang bersih — kubu yang dipilih Damar — memasang kamera tersembunyi di ruang arsip. Mereka menunggu di ruang sebelah, kopi dingin, napas tertahan.
Pukul sebelas malam, pintu arsip terbuka pelan. Sosok bertubuh tegap masuk, senter ponsel menyala. Tangan itu membuka laci, mengeluarkan map, memfotonya, lalu — gerakan paling memberatkan — menyobek beberapa lembar dan menyalakan korek api di atas tempat sampah logam.
Lampu menyala serentak.
"Berhenti, Pak Sutardjo." Suara penyidik kubu bersih, datar, final.
Sutardjo membeku, korek api masih menyala di jarinya, map setengah terbakar. Wajahnya, yang biasa tenang di rapat-rapat resmi, runtuh dalam sekejap menjadi wajah orang yang ketahuan telanjang.
"Ini... ini bukan seperti yang kalian kira," katanya, suaranya tercekat.
"Justru persis seperti yang kami kira," kata Damar, melangkah keluar dari bayangan. Untuk pertama kali dalam berminggu-minggu, ia merasa tanahnya kembali padat. "Bapak baru saja membakar bukti palsu yang saya buat sendiri. Tapi niat Bapak — itu sangat asli. Dan semuanya terekam."
Arini sudah memotret dari sudut pintu, jepretan demi jepretan. Bukan untuk disebar malam ini. Untuk disimpan, dikunci, dibawa ke jaksa.
Sutardjo terduduk di kursi arsip. Bibirnya bergerak tanpa suara, seperti menghitung berapa banyak yang sudah ia bakar selama ini — dan berapa banyak yang tak bisa lagi ia padamkan.
Damar menatapnya. Bukan kemenangan yang ia rasakan. Sesuatu yang lebih dingin. Ia tahu Sutardjo hanya satu sekrup kecil. Tapi sekrup yang dilepas dengan benar bisa meruntuhkan seluruh rangka.
"Bapak punya dua pilihan," kata Damar pelan. "Jadi orang terakhir yang dikorbankan jaringan ini. Atau jadi orang pertama yang membongkarnya."
Di luar jendela, lampu kota berkelip seperti angka-angka di papan bursa. Untuk pertama kalinya, angka itu bergerak ke arah Damar.