Damar kembali ke kota dengan ide yang tumbuh sepanjang perjalanan, sebuah ide yang lahir dari pelajaran sederhana: selama ini ia selalu bertahan. Mereka menyerang, ia bertahan. Mereka mengancam, ia melindungi. Mereka membunuh, ia menghitung pola. Selalu satu langkah di belakang, selalu bereaksi.
Sudah waktunya membuat mereka yang bereaksi.
Ia menyampaikannya pada Bagas dan Arini di ruang penyidikan yang sepi, malam hari, dengan pintu tertutup.
"Kita punya masalah yang sama berulang kali," kata Damar. "Setiap kali kita mendekati sesuatu — Subandi yang mau bersaksi, perlindungan saksi, langkah penyidikan — mereka selalu tahu lebih dulu. Selalu satu langkah di depan. Subandi mati sehari sebelum bersaksi. Pesan-pesan kita bocor. Itu bukan keberuntungan mereka. Itu artinya masih ada orang dalam. Bukan cuma eksekutor lapangan — tapi seseorang di dalam institusi yang menangani kasus ini, yang membocorkan informasi ke jaringan Wirananta."
Bagas mengeras. "Anda menuduh ada pengkhianat di tim saya."
"Aku tidak menuduh. Aku menyimpulkan dari pola." Damar mengangkat tangan menenangkan. "Dan aku tidak tahu siapa. Itu masalahnya. Bisa siapa saja — penyidik, staf administrasi, bahkan di otoritas. Kita tidak bisa menyelidiki semua orang tanpa melumpuhkan kasus dan tanpa membuat si pengkhianat makin hati-hati." Ia menatap mereka berdua. "Jadi kita tidak akan mencari mereka. Kita akan membuat mereka mengungkapkan diri sendiri."
Arini mencondongkan badan. "Bagaimana?"
"Umpan." Damar mengeluarkan map dari tasnya dan meletakkannya di meja. "Kita buat sebuah dokumen palsu. Dokumen yang terlihat sangat berharga bagi jaringan Wirananta — katakanlah, sebuah daftar 'lokasi penyimpanan bukti fisik cadangan' atau 'jadwal pemindahan saksi rahasia'. Sesuatu yang, kalau mereka tahu, pasti akan mereka bertindak atasnya. Lalu kita 'bocorkan' dokumen itu — tapi tidak ke semua orang. Kita buat beberapa versi berbeda."
Bagas mulai paham. Matanya menyipit. "Setiap versi berisi informasi yang sedikit berbeda. Lokasi yang berbeda. Jadwal yang berbeda."
"Tepat," kata Damar. "Versi A hanya diberikan ke kelompok orang tertentu. Versi B ke kelompok lain. Versi C ke kelompok lain lagi. Masing-masing kelompok hanya tahu versinya sendiri, dan tidak tahu ada versi lain. Penanda air. Setiap versi seperti uang yang ditandai." Ia menggambar diagram cepat di kertas. "Lalu kita tunggu. Kalau jaringan Wirananta bertindak atas informasi di Versi B — misalnya, mengintai lokasi yang hanya ada di Versi B — maka kita tahu kebocoran berasal dari kelompok yang menerima Versi B. Lingkaran tersangka menyempit drastis. Lalu kita ulangi dengan versi yang lebih spesifik sampai tinggal satu orang."
Ruangan sunyi sementara Bagas memproses.
"Itu," kata Bagas perlahan, "berbahaya. Kalau mereka bertindak, berarti kita memancing operasi nyata. Orang bisa terluka."
"Karena itu lokasinya harus palsu dan aman," kata Damar. "Kita kendalikan tempatnya. Tidak ada saksi sungguhan yang dipindahkan ke sana, tidak ada bukti asli yang disimpan di sana. Hanya jebakan. Kalau mereka muncul, kita tangkap basah — dan kita dapat dua hal sekaligus: kita tahu kebocoran dari kelompok mana, dan kita menangkap eksekutor lapangan yang selama ini bebas."
Arini menatap Damar dengan ekspresi yang campuran antara kagum dan khawatir. "Kamu berubah," katanya pelan. "Damar yang kukenal di pasar ikan dulu cuma ingin menyelamatkan diri dan membuktikan kebenaran. Damar yang ini sedang memasang jebakan."
Damar menatapnya. Ia memikirkan Subandi yang mati menunggu birokrasi. Gunawan di dasar jurang. Kartu pos pantai biru di tangan ayahnya. Mobil bersih berkaca gelap di seberang rumah masa kecilnya.
"Mereka mengajariku," kata Damar pelan. "Selama berbulan-bulan, mereka mengajariku bahwa bertahan saja tidak cukup. Bahwa selama kau hanya bereaksi, kau akan selalu kalah selangkah. Mereka membunuh orang yang baik karena orang baik menunggu sistem bekerja, sementara mereka tidak menunggu apa-apa." Ia menutup map itu. "Aku tidak akan jadi seperti mereka. Aku tidak akan membunuh, tidak akan berbohong pada publik, tidak akan menukar prinsip. Tapi aku akan berhenti hanya bertahan. Untuk pertama kalinya, mereka yang akan bereaksi terhadap langkahku."
Bagas menatap dokumen umpan di meja itu lama. Lalu ia mengangguk, satu kali, mantap.
"Saya akan menyiapkan versi-versinya," katanya. "Dan saya akan memilih sendiri siapa yang menerima versi mana — hanya saya yang tahu peta distribusinya, supaya kalau ini bocor pun, kebocorannya tidak bisa dilacak balik ke perangkap itu sendiri." Ia menatap Damar. "Kalau ini berhasil, kita tidak cuma menemukan pengkhianatnya. Kita membuka seluruh lapisan yang selama ini tak terlihat."
"Dan kalau gagal?" tanya Arini.
Damar mengambil map itu, menimbangnya di tangan, lalu meletakkannya kembali dengan tenang.
"Kalau gagal, mereka akan tahu kita memancing, dan mereka akan lebih berhati-hati." Ia menatap jendela gelap, ke arah kota yang menyembunyikan entah berapa banyak mata yang mengawasi. "Tapi mereka juga akan tahu satu hal yang sebelumnya tidak mereka tahu. Bahwa bocah analis yang dulu mereka kira hanya bisa membaca angka dan lari ketakutan — sekarang sudah belajar berburu."
Di luar, lampu-lampu kota berkedip seperti angka di papan bursa, naik dan turun, jujur dan bohong bercampur jadi satu. Damar menatapnya tanpa berkedip.
Umpan sudah dirancang. Kini tinggal melemparkannya, dan menunggu untuk melihat siapa, di tengah kegelapan, yang cukup lapar untuk menyambarnya.