Damar pulang dengan cara yang sama seperti dulu ia melarikan diri: tanpa ponsel utama, bayar tunai, naik dan turun kendaraan yang berbeda-beda, mata selalu mengawasi spion.
Bagas memberinya pengawalan — dua penyidik berpakaian biasa yang menjaga jarak, satu di depan, satu di belakang, seperti bayangan yang sopan. Arini ingin ikut, tapi Damar menolak. "Kau lebih berguna menjaga Yusran dan Tito tetap hidup di kota," katanya. "Kalau aku jatuh, kasus harus tetap berjalan. Itu aturan kita sejak awal: jangan pernah menaruh semua telur di satu keranjang."
Kampung halamannya berada di balik bukit, di jalan yang aspalnya retak dan diapit sawah. Bus terakhir menurunkannya di pertigaan, dan ia berjalan kaki sisa jalannya saat senja, menghirup udara yang tiba-tiba terasa familier sampai menyakitkan — bau tanah basah, asap dapur, suara azan dari surau kecil.
Rumahnya masih sama. Tembok yang catnya mengelupas. Pohon mangga di halaman yang dulu ia panjat. Jendela dengan tirai bunga buatan ibunya.
Tapi ada yang berbeda.
Sebuah mobil terparkir di seberang jalan, dua rumah dari rumahnya. Mobil yang terlalu bersih untuk kampung ini. Kaca gelap. Dan di dalamnya, samar, dua siluet yang tidak bergerak.
Damar memperlambat langkah. Ia tidak menatap langsung — ia sudah belajar itu dari mobil hitam dulu — tapi ia merekam semuanya dengan ujung matanya. Pelat nomor. Jenis mobil. Posisi. Ia berbelok ke gang samping, seakan hendak lewat belakang, lalu mengeluarkan ponsel cadangannya dan mengetik pesan singkat ke salah satu pengawal yang menjaga jarak: *Mobil di seberang rumah. Sudah diawasi.*
Balasan datang cepat: *Sudah kami lihat. Dua orang. Sejak kemarin, kata tetangga. Jangan masuk lewat depan.*
Damar menyelinap ke halaman belakang lewat pagar bambu yang ia kenal sejak kecil, melompatinya di titik yang dulu selalu ia lompati untuk pulang terlambat. Pintu dapur terbuka. Bau masakan ibunya — sayur asam, ikan goreng — menyergapnya, dan untuk sesaat seluruh dunia thriller itu runtuh menjadi satu kerinduan tajam.
Ibunya menjerit kecil saat melihatnya, lalu memeluknya erat. Ayahnya muncul dari ruang tengah, lebih tua dari yang Damar ingat, kerutan baru di dahinya yang Damar tahu sebagian disebabkan olehnya.
"Kau kurus," kata ibunya, seperti semua ibu di dunia.
"Aku baik-baik saja, Bu."
Tapi ayahnya menatapnya dengan mata yang tak bisa dibohongi. "Mobil itu," kata ayahnya pelan, agar ibunya tak mendengar. "Yang di seberang. Sudah dua hari. Dan kartu pos itu. Ini bukan kebetulan, kan, Damar."
Damar duduk di kursi kayu yang dulu selalu jadi tempatnya. Ia menatap ayahnya, dan memutuskan tidak akan berbohong. Cukup banyak kebohongan di hidupnya akhir-akhir ini; ia tak akan menambahnya di rumah ini.
"Bukan, Pak," katanya. "Bukan kebetulan."
Lalu ia menceritakan secukupnya — tidak semuanya, tidak detail yang akan membuat orang tuanya tak bisa tidur, tapi cukup. Bahwa ia menemukan sebuah kejahatan besar. Bahwa orang-orang yang melakukannya sangat berkuasa. Bahwa mereka mengirim kartu pos itu sebagai peringatan, bukan untuk ayah ibunya, tapi untuk dirinya — sebuah cara berkata "kami bisa menyentuh yang kau cintai."
Ayahnya mendengarkan dalam diam, tangannya menggenggam erat sandaran kursi. Ketika Damar selesai, ia tidak marah, tidak menangis, tidak menyalahkan. Ia hanya berkata, "Yang kau lakukan ini — yang membongkar penipuan triliunan itu — apakah benar?"
"Benar, Pak. Setiap angkanya."
"Apakah ada orang lain yang akan melakukannya kalau bukan kau?"
Damar memikirkannya. Gunawan sudah mencoba dan mati. Subandi sudah mencoba dan mati. "Banyak yang mencoba, Pak. Sebagian sudah mati karenanya."
Ayahnya mengangguk lambat. "Kalau begitu, kau tidak boleh berhenti. Bukan karena aku tidak takut — aku takut setengah mati. Tapi karena kalau orang baik berhenti tiap kali diancam, dunia ini cuma akan dimiliki orang-orang yang paling sanggup mengancam." Ia menatap anaknya. "Kakekmu petani. Aku guru. Kau yang pertama duduk di gedung kaca itu. Kami tidak membesarkanmu untuk tunduk pada penipu, Damar."
Damar merasa matanya panas. Ia tak menyangka kekuatan untuk melanjutkan datang dari rumah kecil ini, dari ayah yang sederhana, di malam ia datang justru untuk melindungi mereka.
"Aku akan memindahkan kalian," katanya, suaranya pulih. "Ke tempat aman, sementara, sampai ini selesai. Penyidik sudah menyiapkannya. Bukan karena kalian lemah — karena aku tidak mau mereka punya kartu untuk dimainkan."
Malam itu, dengan bantuan dua pengawal dan dalam gelap, keluarga Damar dipindahkan diam-diam lewat jalan belakang, ke sebuah rumah aman di kota kecil tetangga. Mobil bersih berkaca gelap di seberang itu, Damar tahu, akan menemukan rumah kosong esok pagi.
Sebelum pergi, Damar berdiri sejenak di halaman, menatap pohon mangga itu di bawah bintang.
Mereka mengirim ancaman ke rumahku, pikirnya. Mereka pikir itu akan membuatku mundur.
Ia salah menebak apa yang akan dilakukan ketakutan padanya. Karena bukan mundur yang ia rasakan sekarang, berdiri di tanah masa kecilnya yang terancam.
Tapi keputusan yang dingin, jernih, dan tak tergoyahkan untuk menyelesaikannya — dan untuk berhenti hanya bertahan.
Sudah waktunya menyerang.