Jet itu lepas landas dari sebuah lapangan terbang kecil di pinggir kota, malam sebelum semua meledak, dan sejak itu Wirananta menjadi hantu.
"Kami melacaknya sejauh ini," kata Bu Maria, auditor forensik itu, sambil membentangkan peta penerbangan di layar. Garis merah membentang dari Indonesia, melintasi laut, singgah di satu negara untuk mengisi bahan bakar, lalu berakhir — garis itu berhenti — di sebuah negara kecil di kawasan yang Damar baru kali ini dengar namanya disebut dalam konteks selain liburan mewah.
"Kenapa berhenti di situ?" tanya Damar.
"Karena di situ dia aman," kata Maria. "Negara itu tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Artinya, secara hukum, kita tidak bisa memaksa mereka menyerahkan Wirananta. Selama dia di sana, dia di luar jangkauan. Dia bisa duduk di vila tepi pantai sambil menonton kasusnya di televisi, dan tidak ada satu pun surat penangkapan yang bisa menyentuhnya."
Damar menatap titik akhir garis merah itu. Sebuah negara kecil, jauh, hangat, dan licin seperti sabun.
"Tapi dia tidak benar-benar pergi, kan," kata Damar. Itu bukan pertanyaan.
Maria menatapnya. "Apa maksud Anda?"
"Maksudku — tubuhnya pergi. Tapi tangannya masih di sini. Subandi mati. Yusran diancam. Pengacaranya mengunjungi Salim dua puluh tiga kali. Jaringan masih bergerak." Damar berjalan mengitari meja. "Orang yang benar-benar kabur, yang benar-benar menyerah, akan menghilang. Diam. Bersembunyi. Tapi Wirananta tidak diam. Dia masih mengendalikan dari jauh. Itu artinya dia tidak melarikan diri — dia memindahkan markas."
Komisaris Bagas, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, mengangguk berat. "Kami sampai pada kesimpulan yang sama. Dan ada perkembangan baru yang membuat saya memanggil Anda hari ini."
Ia menggeser sebuah amplop ke meja. Di dalamnya, sebuah kartu pos.
Damar mengernyit. Sebuah kartu pos biasa — gambar pantai biru, langit cerah, tulisan "Salam dari" dalam huruf-huruf ceria. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada pesan. Hanya alamat tujuan, ditulis dengan rapi.
Alamat orang tua Damar. Di kampung halaman.
Darah Damar membeku.
"Kartu pos itu dikirim ke rumah orang tua Anda," kata Bagas pelan. "Ayah Anda menelepon, bingung, karena tidak kenal pengirimnya. Dia hampir membuangnya. Untungnya dia menyebutkannya pada Anda lewat saya, karena kami sudah meminta keluarga Anda melapor jika ada hal aneh."
Damar membalik kartu pos itu dengan tangan yang berusaha keras agar tidak gemetar. Kosong. Tidak ada satu kata pun. Tapi justru kekosongan itu yang menjadikannya pesan.
"Tidak ada ancaman tertulis," kata Damar. "Tidak ada apa-apa. Hanya gambar pantai dari negara tempat Wirananta bersembunyi, dikirim ke rumah orang tuaku." Ia meletakkan kartu itu. "Itu seluruh pesannya. 'Aku tahu di mana keluargamu. Aku bisa menyentuh mereka dari jauh. Sama seperti aku menyentuh Subandi.'"
Arini meraih kartu pos itu, memeriksanya. "Cap posnya dari negara itu. Tulisan tangannya hati-hati, mungkin disamarkan. Tidak ada sidik jari yang berguna, kalau dia sepintar yang kita kira."
"Dia tidak perlu menandatanganinya," kata Damar. "Justru itu intinya. Sebuah ancaman yang tidak bisa dibuktikan sebagai ancaman, tapi yang dipahami sempurna oleh penerimanya. Itu cara kerja Wirananta. Selalu satu langkah di sisi aman hukum, sambil menusukkan ketakutan sedalam mungkin."
Ia menatap kartu pos itu — pantai biru, langit cerah — dan untuk pertama kalinya sejak gudang blok C, ia merasakan ketakutan yang berbeda. Bukan ketakutan untuk dirinya sendiri. Selama ini bahaya selalu mengarah padanya: mobil hitam yang mengikuti, pistol Salim, sandera. Ia sudah belajar menampung ketakutan jenis itu, membungkusnya, menyimpannya.
Tapi ini berbeda. Ini mengarah pada ayahnya yang sederhana, ibunya yang memasak di dapur kecil, rumah masa kecilnya yang catnya mengelupas — orang-orang dan tempat yang tak tahu apa-apa tentang skema Ponzi, tentang rekening cangkang, tentang tanda tangan miring Salim. Orang-orang yang satu-satunya kesalahannya adalah melahirkan dan membesarkan analis muda yang menemukan angka yang terlalu cantik.
"Komisaris," kata Damar, suaranya rendah dan tegang. "Aku harus pulang."
"Itu yang dia inginkan," kata Bagas cepat. "Memancing Anda keluar dari perlindungan, ke tempat terbuka, kampung yang jauh dari pengamanan kota. Itu jebakan."
"Mungkin." Damar menatap kartu pos itu sekali lagi, lalu menggenggamnya. "Tapi aku tidak bisa membiarkan ayah dan ibuku duduk di rumah itu sebagai umpan tanpa tahu mereka jadi umpan. Aku tidak bisa." Ia menatap Bagas. "Aku akan pulang. Diam-diam. Mengamankan mereka. Dan kalau itu jebakan—" ia memasukkan kartu pos ke saku, "—maka aku akan tahu persis seberapa jauh tangan Wirananta bisa menjangkau dari pantai birunya."