Damar tahu mereka kalah di dalam ketika rapat koordinasi itu dimulai dengan pertanyaan yang salah.
Bukan "bagaimana kita membongkar semuanya," tapi "sampai mana kita perlu membongkar ini."
Ruangan itu berisi belasan orang — penyidik dari berbagai lembaga, jaksa, perwakilan otoritas. Damar dan Arini diundang sebagai pelapor utama, duduk di ujung meja seperti dua orang asing di pesta yang tak menginginkan mereka.
Seorang pejabat senior, berseragam rapi dengan banyak lencana, memimpin. Suaranya halus, masuk akal, dan setiap kalimatnya seperti pisau yang dibungkus beludru.
"Kita semua sepakat skema Cakrawala adalah kejahatan serius," katanya. "Wirananta harus diadili. Salim harus diadili. Tidak ada perdebatan soal itu. Tapi kita harus realistis soal ruang lingkup. Kalau penyidikan ini melebar tak terkendali — menyeret nama-nama dalam daftar pemegang saham itu, pejabat, anggota dewan — kita berisiko membuat kasus jadi terlalu besar untuk dimenangkan. Hakim mana yang berani memvonis? Kasus akan berlarut bertahun-tahun, bukti melemah, saksi menghilang, dan akhirnya semua bebas. Lebih baik kita menang pasti atas Wirananta dan Salim, daripada kalah ambisius atas semua orang."
Beberapa kepala mengangguk. Argumen itu rapi. Itu yang membuatnya berbahaya.
Komisaris Bagas, di seberang meja, mengangkat tangan. "Dengan hormat, Pak. 'Menang pasti' atas dua orang sambil membiarkan jaringan yang melindungi mereka tetap utuh — itu bukan kemenangan. Itu mengganti dua bidak sambil membiarkan pemain caturnya tetap di kursi. Tahun depan akan ada Cakrawala baru, dengan pemegang saham pejabat yang sama, yang belajar untuk lebih hati-hati."
"Komisaris Bagas terlalu idealis," kata pejabat senior itu, tersenyum. "Kita bekerja dengan apa yang bisa dibuktikan, bukan dengan apa yang kita harapkan."
"Justru itu," potong Damar. Semua mata berpaling padanya. Ia merasa suaranya kecil di ruangan besar itu, tapi ia tetap bicara. "Maaf, Pak. Tapi kita bisa membuktikannya. Daftar pemegang saham pejabat itu bukan harapan, itu data registrasi — sudah dicocokkan. Aliran dana ke rekening cangkang sudah dipetakan, dengan tanda tangan Salim di tiap pintunya. Email-email sudah dikonfirmasi asli oleh forensik. Ini bukan soal bisa atau tidak bisa dibuktikan. Ini soal mau atau tidak mau."
Ruangan hening.
"Anda menuduh ada yang tidak mau?" tanya pejabat senior itu, suaranya tetap halus, tapi matanya tidak.
Damar menahan tatapan itu. Ia tahu apa yang sedang terjadi — ia melihatnya sejernih ia melihat tujuh pelanggan fiktif di laporan Cakrawala dulu. Tim penyidik ini terbelah. Sebagian ingin membongkar tuntas. Sebagian ingin menutup secepatnya, sebelum penyidikan menyentuh orang-orang yang melindungi mereka, atau yang namanya ada di daftar itu.
"Saya tidak menuduh siapa-siapa secara pribadi," kata Damar hati-hati. "Saya hanya menunjuk sebuah pola. Setiap kali penyidikan ini mendekati nama-nama besar, selalu muncul alasan yang sangat masuk akal untuk berhenti. 'Terlalu besar.' 'Terlalu berisiko.' 'Lebih baik menang kecil.' Pola itu sendiri adalah informasi."
Pertemuan itu bubar tanpa keputusan, yang dalam dunia birokrasi berarti kemenangan bagi pihak yang ingin memperlambat.
Di luar, di tangga gedung, Bagas berjalan menyusul Damar dan Arini.
"Anda membuat musuh hari ini," kata Bagas.
"Aku sudah punya cukup banyak musuh," kata Damar. "Satu lagi tidak terasa."
Bagas tertawa pendek, lalu serius. "Dengar. Saya mau jujur dengan Anda berdua, karena saya rasa Anda berhak tahu siapa yang ada di pihak Anda dan siapa yang tidak. Tim ini retak, persis seperti yang Anda lihat. Ada kubu yang mau tutup cepat — entah karena takut, entah karena ada yang melindungi, entah karena namanya sendiri terkait. Dan ada kubu kecil, kubu saya, yang mau bongkar tuntas." Ia menatap mereka. "Saya tidak akan berbohong. Kubu saya lebih kecil. Dan kalau kalian terus mendorong, mereka akan mencoba menyingkirkan kalian dari kasus ini — bukan dengan kekerasan, tapi dengan prosedur. Mencabut akses kalian. Menyebut kalian 'mengganggu penyidikan'."
Damar menatap Bagas lama. "Lalu kenapa kau memilih kubu kecil itu?"
Bagas memandang ke kejauhan. "Karena saya pernah menutup kasus dengan alasan 'realistis' dulu. Bertahun lalu. Orang yang seharusnya saya selidiki masih bebas sampai hari ini, dan sudah merusak ribuan hidup lagi sejak itu. Saya tidak bisa melakukannya dua kali." Ia menatap Damar. "Jadi saya ikut Anda. Sampai habis. Tapi Anda harus tahu pertarungan ini — sebagiannya — bukan melawan Wirananta. Sebagiannya melawan orang-orang yang seharusnya ada di pihak kita."
Damar mengangguk pelan. Ia mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan satu kalimat untuk dirinya sendiri, sesuatu yang terasa seperti kebenaran paling pahit dari semua yang ia pelajari:
Musuh terbesar dari keadilan bukan kejahatan. Tapi alasan-alasan masuk akal untuk tidak menegakkannya.
"Kalau begitu," kata Damar, menutup bukunya, "kita pilih kubu bersih. Dan kita pastikan mereka tidak bisa menutup kasus ini — dengan membuat terlalu banyak orang di luar sana yang sudah tahu, sehingga menutupnya jadi mustahil."
Arini, yang sejak tadi diam, akhirnya tersenyum. "Itu," katanya, "kebetulan adalah pekerjaanku."