Penjara seharusnya memutus seseorang dari dunia. Tapi Salim, Damar mulai paham, tidak pernah benar-benar memutusnya. Ia hanya mengubah caranya menyentuh dunia.
Penyidik bersih — seorang pria bernama Komisaris Bagas, salah satu dari sedikit yang tak terkontaminasi daftar pemegang saham — memanggil Damar dan Arini ke ruangannya. Di mejanya tergeletak catatan kunjungan tahanan.
"Sejak ditahan," kata Bagas, "Salim menerima kunjungan pengacara dua puluh tiga kali dalam tiga minggu. Dua puluh tiga. Itu di luar wajar. Dan setiap kunjungan tertutup — kerahasiaan klien-pengacara, kami tidak bisa merekam isinya."
"Dia mengirim perintah lewat pengacaranya," kata Damar.
"Kami menduga begitu. Tapi menduga tidak cukup di pengadilan." Bagas menggeser map. "Yang membuat saya yakin: setelah kunjungan pengacara di hari kelima belas, dua hari kemudian Subandi tewas. Timeline-nya cocok. Tapi cocok bukan bukti."
Arini mencondongkan badan. "Pengacara tidak mungkin menyampaikan 'bunuh Subandi' secara harfiah. Terlalu berisiko. Pasti ada kode."
"Pasti ada perantara juga," tambah Damar. "Pengacara membawa pesan keluar, tapi yang mengeksekusi orang lain. Eksekutor lapangan yang masih bebas."
Bagas mengangguk berat. "Masalahnya, Salim tahu kami mengawasinya. Dia tidak gegabah. Dan dia tahu betul hukum. Dia tahu kami butuh bukti yang mengikat, bukan dugaan. Bahkan dari dalam sel, dia main lebih rapi dari kebanyakan orang bebas."
Ada ketukan di pintu. Seorang petugas menyerahkan amplop ke Bagas. Ia membukanya, membaca, lalu wajahnya berubah.
"Salim minta bertemu," kata Bagas. "Dengan saya. Katanya dia mau 'membicarakan kesepakatan'."
Damar dan Arini bertukar pandang.
"Jangan," kata Arini cepat. "Itu jebakan. Atau permainan. Dia mau melihat seberapa banyak yang kita tahu."
"Atau," kata Damar pelan, "dia mulai gentar. Pikir, Arini. Kalau Salim sekuat yang dia kira, kalau dia yakin Wirananta akan melindunginya, kenapa dia menawarkan kesepakatan? Orang yang merasa aman tidak menawar."
Bagas menatap Damar. "Anda pikir dia takut?"
"Aku pikir dia menghitung." Damar berdiri, berjalan ke jendela ruangan itu, lalu berbalik. "Salim tahu kita sudah memetakan tanda tangannya di rekening cangkang. Dia tahu kasus pencucian uang mengarah langsung ke dirinya. Dia tahu kalau Wirananta tertangkap, Wirananta akan menyalahkan dia sebagai 'pelaksana lapangan' untuk menyelamatkan diri. Salim sedang dalam posisi terjepit dari dua sisi: hukum di depan, bos yang akan mengkambinghitamkannya di belakang."
"Jadi dia mau berbalik?" tanya Bagas.
"Belum. Sekarang dia cuma menjajaki. Menawar 'kesepakatan' adalah caranya mengukur — seberapa berharga dia bagi kita, seberapa banyak yang bisa dia jual, dan apakah dia bisa keluar dengan kulit utuh." Damar menatap Bagas. "Temui dia, Komisaris. Tapi jangan beri apa-apa. Dengarkan. Biarkan dia bicara. Setiap kata yang dia ucapkan untuk menawar adalah kata yang membuktikan dia tahu — dan orang yang tidak bersalah tidak punya apa-apa untuk ditawarkan."
Bagas menemui Salim sore itu. Damar dan Arini menunggu di luar, di koridor yang berbau pembersih lantai dan keputusasaan.
Ketika Bagas keluar, wajahnya berkerut.
"Bagaimana?" tanya Damar.
"Dia tenang. Terlalu tenang." Bagas menyeka dahinya. "Dia bilang — dan saya kutip persis — 'Komisaris, saya orang yang berguna. Saya tahu di mana semua tubuh dikubur, secara harfiah dan kiasan. Tapi saya juga orang yang setia. Pertanyaannya, apakah kesetiaan saya akan dibalas, atau saya akan dibiarkan jadi tumbal sendirian. Kalau jawabannya yang kedua, saya jadi orang yang sangat, sangat tidak setia. Saya hanya menunggu untuk tahu jawabannya.'"
Damar menutup mata sejenak. "Dia mengirim pesan."
"Ke siapa?" tanya Bagas.
"Ke Wirananta." Damar membuka mata. "Itu bukan tawaran untukmu, Komisaris. Itu ancaman untuk bosnya, yang dia tahu pasti akan sampai entah bagaimana. Salim sedang bilang ke Wirananta: 'Lindungi aku, atau aku buka semua.' Dia menggertak dari dalam sel."
Arini menggumam, "Dan kalau Wirananta dengar itu—"
"Wirananta akan punya dua pilihan." Damar berjalan menyusuri koridor, suaranya menggema. "Lindungi Salim, atau bunuh Salim sebelum dia bicara." Ia berhenti. "Mana pun yang dipilih Wirananta, retaknya jaringan ini baru saja melebar. Karena sekarang dua kepalanya saling tidak percaya."
Bagas menatapnya. "Anda mau kita lakukan apa?"
Damar tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Kita tunggu. Kita lindungi semua saksi. Dan kita biarkan dua serigala itu mulai saling mencurigai. Kadang cara terbaik menjatuhkan sebuah jaringan bukan menyerangnya dari luar — tapi membiarkan ketakutannya sendiri memakannya dari dalam."