Damar membentangkan kertas besar di lantai apartemen aman itu, dan di atasnya ia menggambar sesuatu yang membuat perutnya mual: garis waktu kematian.
"Aku perlu melihatnya," katanya pada Arini, "bukan sebagai dua tragedi terpisah. Sebagai satu rancangan."
Di ujung kiri garis, ia menulis: GUNAWAN. Auditor internal Cakrawala. Menyusun laporan untuk otoritas bursa. Mati seminggu sebelum melapor. Mobil masuk jurang di tol luar kota. Rem blong — padahal baru diservis dua minggu sebelumnya. Tidak ada saksi. Vonis resmi: kecelakaan.
Di tengah, ia tak menulis nama, hanya tanda tanya. Lalu ia tambahkan: percobaan pada dirinya sendiri dan Arini — gudang blok C. Disandera. Hampir mati. Diselamatkan operasi gabungan hanya karena data sudah terlanjur viral.
Di ujung kanan, baru: SUBANDI. Kepala bagian akuntansi senior. Bersedia bersaksi terbuka. Mati sehari sebelum kesaksian. Apartemen terkunci dari dalam. Surat bunuh diri, tulisan tangan cocok. Vonis awal: bunuh diri.
Ia menatap garis itu lama.
"Lihat polanya," kata Damar. "Mereka tidak membunuh sembarangan. Mereka tidak membunuh investor kecil, tidak membunuh wartawan biasa, tidak membunuh karyawan rendahan. Mereka membunuh persis pada satu momen: ketika seseorang akan berbicara secara resmi. Bukan sebelum. Bukan sesudah. Tepat di ambang kesaksian."
Arini duduk di sampingnya, memeluk lutut. "Karena kesaksian resmi yang sudah masuk berkas tak bisa dihapus dengan kematian. Tapi kesaksian yang belum sempat diberikan — hilang bersama orangnya."
"Persis." Damar mengetuk kertas. "Itu sebabnya mereka membiarkan Tito hidup sejauh ini — Tito belum bersaksi resmi, dia masih bersembunyi, masih 'bisa dibujuk diam dengan ketakutan'. Tapi begitu Tito mengajukan diri ke pengadilan—"
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia tak perlu.
"Berarti Tito dalam bahaya," kata Arini. "Yusran juga. Bu Maria. Bahkan penyidik bersih yang menangani berkas."
"Semua yang berdiri di ambang kesaksian." Damar berdiri, berjalan mondar-mandir. "Tapi ada yang ganjil. Salim ditahan. Pengawasan ketat. Bagaimana dia masih bisa mengatur kematian Subandi dari dalam tahanan, dalam hitungan hari?"
Arini mengangkat wajahnya. "Mungkin bukan Salim langsung."
"Apa maksudmu?"
"Pikir, Damar. Salim ditahan. Wirananta kabur ke luar negeri. Dua kepala jaringan tidak ada di lapangan. Tapi kematian Subandi tetap terjadi, bersih, profesional, sehari sebelum kesaksian." Arini berdiri menyamai Damar. "Itu artinya jaringannya tidak butuh kepala untuk bergerak. Ada lapisan bawah yang masih utuh. Eksekutor lapangan yang masih bebas, yang menerima perintah lewat perantara — pengacara, kurir, atau orang dalam yang belum ketahuan."
Damar berhenti melangkah. "Tangan tetap bekerja walau kepalanya dipenjara."
"Dan selama tangan itu bebas," kata Arini, "setiap saksi adalah calon korban. Kita tidak sedang melawan dua orang yang ditahan. Kita melawan sebuah mesin yang masih menyala meski operatornya di balik jeruji."
Damar mengambil ponselnya dan menelepon Maharani, pengacara mereka. Ia bicara cepat, tanpa basa-basi.
"Bu Maharani. Dengar. Kita salah menangani perlindungan saksi. Kita menunggu mereka bersedia bicara dulu baru melindungi. Itu terbalik. Begitu seseorang berniat bersaksi, malam itu juga dia jadi target. Subandi mati karena kita menunggu birokrasi. Aku tidak mau itu terjadi pada Tito, pada Yusran, pada siapa pun." Ia menarik napas. "Mulai sekarang, perlindungan harus datang sebelum kesaksian, bukan sesudah niat diumumkan. Dan kita harus memburu eksekutor lapangannya — bukan cuma Salim dan Wirananta. Ada tangan ketiga yang masih bebas."
Maharani, di seberang, diam sejenak. Lalu: "Anda benar. Saya akan ajukan perlindungan darurat untuk semua saksi sekarang juga. Dan saya akan bicara dengan penyidik bersih soal eksekutor lapangan. Tapi Pak Damar—" suaranya menurun. "Kalau pola itu benar, ada satu nama yang belum masuk daftar Anda. Yang paling jelas berdiri di ambang kesaksian. Yang paling banyak tahu. Yang paling berbahaya bagi mereka kalau bicara."
Damar menutup mata. Ia tahu jawabannya sebelum Maharani mengucapkannya.
"Aku," kata Damar.
"Anda," kata Maharani. "Saksi kunci. Penemu seluruh skema. Kalau pola itu nyata, Pak Damar, Anda bukan pengamat pola kematian ini. Anda nama berikutnya di ujung garis itu."
Damar membuka mata dan menatap kertas di lantai — garis waktu yang berakhir, ia sadari sekarang, dengan ruang kosong yang menunggu sebuah nama. Namanya.
"Kalau begitu," katanya pelan, "kita harus bergerak lebih cepat dari tangan yang masih bebas itu."