Arini menerima telepon itu pukul sembilan malam, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, suaranya terdengar ringan.
"Dia mau bicara terbuka," katanya pada Damar, menutup gagang ponsel dengan telapak tangan. "Sumber keduaku. Yang dulu cuma mau jadi sumber anonim. Dia mau bersaksi resmi, pakai nama aslinya, di depan penyidik."
Damar tahu siapa yang dimaksud. Sumber kedua Arini — orang dalam Cakrawala yang dulu, di hari-hari sebelum semua meledak, mengonfirmasi keaslian skema lewat identitas yang dilindungi. Tanpa dia, banyak potongan tak akan saling mengunci. Selama ini ia bersembunyi di balik tirai, suaranya didengar tapi wajahnya tak pernah terlihat.
"Kenapa sekarang?" tanya Damar.
"Katanya dia capek bersembunyi. Katanya melihat kalian berdua bertahan di tengah semua serangan membuatnya malu masih diam." Arini tersenyum tipis. "Dia bilang, 'Kalau bocah analis itu berani bertaruh nyawa, saya minimal berani bertaruh nama'."
Pertemuan dijadwalkan dua hari kemudian. Sumber itu — seorang pria bernama Subandi, mantan kepala bagian akuntansi senior di Cakrawala, atasan lama Tito — akan datang ke kantor penyidik dengan didampingi pengacara, memberikan keterangan resmi yang direkam. Itu akan menjadi sumber kesaksian hidup yang paling tinggi posisinya sejauh ini. Lebih senior dari Tito. Orang yang menandatangani laporan, yang duduk di ruang rapat, yang melihat langsung instruksi turun dari atas.
"Ini bisa mengubah segalanya," kata Arini malam itu. "Kesaksian Tito kuat, tapi Tito dipecat — pengacara mereka akan bilang dia dendam. Subandi masih bekerja di sana sampai bulan lalu. Dia tidak punya alasan dendam. Kesaksiannya bersih."
Damar harusnya merasa lega. Tapi ada sesuatu — sebuah firasat dingin yang tumbuh sejak peta uang hantu itu — yang membuatnya berkata, "Arini. Kita harus pastikan dia aman sampai hari kesaksian. Minta penyidik lindungi dia mulai sekarang. Jangan tunggu dua hari."
"Aku sudah minta. Mereka bilang akan mengaturnya besok pagi."
"Bukan besok. Sekarang."
Tapi birokrasi bergerak dengan kecepatannya sendiri, dan malam itu Subandi pulang ke rumahnya seperti biasa, dengan janji bahwa perlindungan akan datang esok hari.
Esok hari tidak pernah datang untuk Subandi.
Telepon itu masuk pukul enam pagi. Arini yang mengangkatnya. Damar melihat wajah Arini berubah — warna terkuras darinya seperti air dari gelas retak — dan ia tahu, bahkan sebelum kata pertama keluar, bahwa mereka terlambat.
"Bagaimana," kata Arini ke telepon, suaranya nyaris tak terdengar. "Bagaimana caranya."
Ia menutup telepon dan duduk dalam diam yang lama.
"Subandi ditemukan tewas," katanya akhirnya. "Di apartemennya. Pintu terkunci dari dalam. Mereka bilang—" Suaranya pecah, lalu mengeras lagi, marah. "Mereka bilang bunuh diri. Surat di meja. Tulisan tangan yang katanya cocok. Kesimpulan awal: depresi, tekanan kerja, mengakhiri hidup."
"Sehari sebelum dia bersaksi," kata Damar. Suaranya datar. Terlalu datar.
"Sehari sebelum dia bersaksi," ulang Arini.
Damar berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, kota bangun seperti biasa, tak peduli. Ia memikirkan Subandi yang tak pernah ia temui — pria yang capek bersembunyi, yang memutuskan bertaruh nama, yang tidak diberi waktu dua hari oleh sebuah birokrasi yang bergerak terlalu lambat dan sebuah jaringan yang bergerak terlalu cepat.
"Pintu terkunci dari dalam," kata Damar. "Surat bunuh diri. Tulisan tangan yang cocok." Ia berbalik. "Arini. Kau ingat Gunawan? Rem blong, mobil baru servis dua minggu sebelumnya. Kecelakaan yang sempurna. Sekarang ini: bunuh diri yang sempurna. Mereka tidak menembak orang di jalan. Mereka membuat kematian yang tidak mengundang pertanyaan."
"Kecuali," kata Arini pelan, "bagi orang yang sudah tahu polanya."
Damar mengambil buku catatannya. Tangannya tenang sekarang, tenang dengan cara yang menakutkan, cara seseorang yang berhenti berduka dan mulai berhitung.
"Tulis," katanya. "Gunawan: auditor, mati menjelang melapor, 'kecelakaan'. Subandi: saksi, mati menjelang bersaksi, 'bunuh diri'. Dua orang. Pola yang sama. Salim ditahan, tapi kematian ini baru kemarin." Ia menatap Arini. "Tangannya masih bekerja dari balik jeruji. Dan setiap orang yang bersedia membuka mulut adalah orang berikutnya dalam daftar."
Arini menyeka matanya, lalu mengangkat ponselnya, dan mulai mengetik. Bukan untuk berduka. Untuk menulis. Karena kesaksian yang dibungkam dengan kematian, ketika dipublikasikan sebagai pola, menjadi kesaksian yang jauh lebih keras.
"Mereka pikir membunuh Subandi menghapus suaranya," kata Arini. "Mereka salah. Sekarang suaranya akan didengar seluruh negeri."