Triliunan rupiah tidak menguap begitu saja. Ia berjalan — lewat kawat, lewat angka, lewat nama-nama perusahaan yang tak punya kantor, tak punya pegawai, tak punya apa pun selain rekening dan tanda tangan.
Damar menamainya, dalam hati, "peta perjalanan uang hantu."
Ia membentangkannya di meja panjang di salah satu ruang kerja lembaga antikorupsi: kertas-kertas, garis spidol, kotak-kotak nama. Di sebelahnya duduk seorang auditor forensik bernama Bu Maria, dikirim oleh jaringan internasional, perempuan yang bicara seperlunya dan berpikir seperti komputer.
"Mulai dari sini," kata Damar, menunjuk kotak di tengah. "Cakrawala Energi Nusantara. Di atasnya, enam anak perusahaan. Dua yang kita tahu namanya dari awal: CNI Logistik dan Bahari Mandiri. Uang investor masuk ke Cakrawala, lalu dipompa keluar lewat enam anak ini dengan label 'pembelian jasa', 'sewa kapal', 'biaya logistik'. Transaksi fiktif. Tidak ada kapal, tidak ada logistik. Hanya catatan."
"Lapisan pertama," kata Maria. "Kemana uang itu pergi setelah anak perusahaan?"
Damar menarik garis ke atas, ke deretan kotak baru yang ia beri nama berdasarkan dokumen perbankan yang baru diperoleh penyidik. Nama-nama asing. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di tiga yurisdiksi berbeda — tiga negara kecil yang terkenal sebagai surga pajak, tempat kepemilikan perusahaan bisa disembunyikan di balik nama direktur boneka.
"CNI Logistik membayar 'konsultan' di yurisdiksi pertama. Konsultan itu, ketika kami lacak, kantornya adalah sebuah kotak pos. Direkturnya seorang pria yang ternyata juga jadi direktur di tiga ratus perusahaan lain. Direktur sewaan. Dia tidak tahu apa-apa, dipakai namanya dengan bayaran."
"Cangkang," kata Maria. "Kosong di dalam, hanya kulit."
"Dari yurisdiksi pertama, uang pindah ke yurisdiksi kedua, lalu ketiga, makin sulit dilacak tiap loncatan. Itu yang disebut pelapisan — layering. Tujuannya satu: membuat jejak uang sepanjang dan seberbelit mungkin, sampai penyidik menyerah." Damar berhenti. "Tapi mereka melakukan satu kesalahan."
Maria mengangkat alis.
Damar mengeluarkan setumpuk dokumen — salinan formulir pembukaan rekening, surat kuasa, instruksi transfer, yang diperoleh penyidik bersih dari kerja sama dengan otoritas keuangan luar negeri.
"Setiap kali sebuah cangkang baru dibuat, seseorang harus menandatangani surat kuasanya. Penjahat sebesar Wirananta tidak akan menandatangani sendiri — terlalu berbahaya, jejaknya langsung ke dia. Jadi dia memakai orang. Orang yang sama. Berulang kali."
Ia menumpuk tujuh lembar surat kuasa berdampingan. Lalu menunjuk satu pola di sudut bawah masing-masing — sebuah tanda tangan, miring ke kanan, dengan kait khas di huruf akhir.
"Tujuh cangkang berbeda di tiga negara berbeda. Satu tanda tangan yang sama." Damar menatap Maria. "Salim."
Maria mengambil salah satu lembar, mengangkatnya ke cahaya. "Anda yakin ini Salim?"
"Bandingkan dengan ini." Damar mengeluarkan kartu nama lama, lecek, ujungnya tertekuk — kartu nama yang Salim berikan padanya di lantai atas Gedung Mahanusa, hari pertama mereka berhadapan, ketika Salim menawarinya gaji tiga kali lipat untuk diam. Di baliknya, Salim pernah menuliskan nomor pribadinya dengan tangan. "Ini tulisan tangannya. Kait di huruf 'm'. Sama persis."
Maria meletakkan dua kertas itu berdampingan. Sunyi yang panjang.
"Kalau ini benar," katanya akhirnya, "Salim bukan cuma tangan kanan yang mengintimidasi dan membunuh. Dia eksekutor keuangan. Dia yang memindahkan triliunan itu keluar negeri. Tanda tangannya ada di tiap pintu yang dilewati uang itu."
"Tito pernah bilang," gumam Damar, "Salim bukan cuma tangan kanan Wirananta. Dia 'tangan yang membersihkan'. Aku kira maksudnya cuma membersihkan saksi. Ternyata juga membersihkan uang."
Maria mulai memotret dokumen-dokumen itu satu per satu dengan kamera khusus, hati-hati seperti memindahkan barang pecah belah.
"Ini akan jadi tulang punggung kasus pencucian uangnya," katanya. "Tapi Pak Damar — Anda sadar apa artinya ini?"
Damar menunggu.
"Kalau Salim tahu kita sudah memetakan tanda tangannya di setiap cangkang, dia tahu satu-satunya cara menyelamatkan dirinya adalah memastikan tidak ada yang hidup untuk membawanya ke pengadilan. Atau—" Maria meletakkan kameranya. "Atau dia akan berbalik. Menjual Wirananta untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Pertanyaannya hanya: yang mana yang dia putuskan lebih dulu."
Damar menatap peta uang hantu di hadapannya, garis-garis spidol yang semuanya, pada akhirnya, mengalir kembali ke satu tanda tangan miring.
"Sampai dia memutuskan," kata Damar, "kita yang harus tetap hidup."