Laboratorium itu tidak seperti yang dibayangkan Damar. Tak ada layar raksasa berkedip atau lampu biru futuristik. Hanya ruangan ber-AC dengan tiga meja, beberapa komputer biasa, dan rak penuh hard disk berlabel dalam kantong bukti bersegel.
Pak Yusran, ahli forensik digital itu, berusia awal lima puluhan, bertubuh kecil, dan punya kebiasaan membersihkan kacamatanya tiap kali berpikir. Ia telah menguji keaslian dua dari tiga email kunci sebelum kasus ini meledak. Sekarang ia duduk dengan surat ancaman pengacara di atas meja seperti tagihan yang tak ingin ia bayar.
"Mereka mau saya menarik kesaksian," kata Yusran tanpa basa-basi. "Sepuluh miliar. Saya tidak punya sepuluh miliar. Rumah saya tidak laku sepuluh miliar."
"Itu bukan tagihan nyata," kata Arini. "Itu pesan. Mereka ingin Pak Yusran takut."
"Saya memang takut." Yusran membersihkan kacamatanya. "Saya bukan pahlawan, Mbak. Saya punya cucu."
Damar menarik kursi mendekat. "Pak, saya tidak akan minta Bapak jadi pahlawan. Saya hanya minta Bapak jadi ahli. Tunjukkan saja apa yang Bapak temukan. Biar bukti yang bicara, bukan keberanian."
Yusran menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia memutar monitor ke arah mereka.
"Begini cara kerjanya," katanya. Suaranya berubah — dari pria yang ketakutan menjadi pengajar yang menemukan dirinya kembali. "Email bukan cuma teks. Setiap email punya 'kepala' — header — yang mencatat perjalanannya: server mana yang mengirim, jam berapa, dari alamat IP mana. Memalsukan isi email mudah. Memalsukan jejak perjalanannya melewati server-server resmi yang tidak Anda kuasai — itu hampir mustahil."
Ia membuka tabel. Baris-baris kode, stempel waktu, nama server.
"Email instruksi 'menyesuaikan angka' yang ditandatangani direktur keuangan Cakrawala — ini melewati server email perusahaan Cakrawala sendiri. Jam pengirimannya cocok dengan periode tutup buku kuartal. Dan ini," ia menunjuk satu baris, "email Salim yang berbunyi 'Soal Gunawan sudah saya tangani' — dikirim tujuh hari sebelum tanggal kematian Pak Gunawan di laporan kepolisian."
Ruangan jadi sunyi.
"Tujuh hari sebelum," ulang Damar pelan.
"Sebuah email tidak bisa tahu masa depan," kata Yusran. "Kalau email ini palsu — dibuat belakangan untuk menjebak Salim — pembuatnya harus tahu persis kapan Pak Gunawan akan mati, tujuh hari sebelum kecelakaannya terjadi. Dan ia harus menyusup ke server perusahaan untuk menanam jejaknya. Itu bukan rekayasa amatir. Itu butuh akses yang justru hanya dimiliki orang dalam Cakrawala sendiri." Ia melepas kacamatanya. "Email ini asli. Saya pertaruhkan nama saya."
Arini mencatat cepat. "Pak Yusran, kalau pengacara mereka membawa ahli tandingan yang bilang ini palsu—"
"Biar dia datang." Untuk pertama kalinya Yusran tersenyum, tipis dan letih. "Forensik bukan adu pendapat. Ada datanya. Header itu tercatat juga di server penerima, di luar kendali siapa pun. Kita bisa minta otoritas mengambil salinan independen langsung dari penyedia layanan. Kalau cocok — dan pasti cocok — tidak ada ahli di dunia ini yang bisa membantahnya tanpa mempermalukan dirinya sendiri."
Damar merasa sesuatu mengencang di dadanya, bukan ketakutan kali ini. Harapan yang hati-hati.
"Maukah Bapak bersaksi resmi?" tanya Maharani, pengacara itu, yang sejak tadi diam mencatat. "Dengan perlindungan. Kami akan mengajukan Bapak masuk program perlindungan saksi melalui jalur lembaga internasional. Mereka tidak bisa menyentuh Bapak semudah surat ini."
Yusran memandang surat ancaman sepuluh miliar di mejanya. Ia melipatnya pelan, lalu menyobeknya — sekali, dua kali — dan menjatuhkannya ke tempat sampah.
"Saya sudah memeriksa ribuan bukti palsu seumur hidup saya," katanya. "Saya tidak akan menyebut yang asli sebagai palsu hanya karena saya takut. Itu menghina seluruh pekerjaan saya." Ia memasang kacamatanya kembali. "Saya bersaksi."
Saat mereka keluar dari laboratorium, hujan turun tipis. Damar menengadah sebentar.
"Satu lawan satu," gumamnya. "Mereka serang ahli kita, ahli kita bertahan."
"Untuk sekarang," kata Arini. "Tapi mereka tidak akan berhenti di surat. Kamu sudah lihat apa yang terjadi pada Gunawan."
Damar berhenti melangkah. Ia menatap Arini.
"Maka kita harus melindungi Yusran lebih cepat dari kemampuan mereka menyentuhnya."