Ruang konferensi pers itu penuh kamera, dan tak satu pun menghadap ke arah Damar.
Ia menontonnya dari layar ponsel di sebuah kafe sempit di dekat kantor lembaga antikorupsi, kopinya sudah dingin. Di layar, seorang pria berjas hitam mengilap berdiri di belakang mimbar berlogo firma hukum ternama. Rambutnya disisir rapi, suaranya tenang seperti dokter yang menjelaskan hasil rontgen.
"Klien kami, Grup Wirananta, adalah korban," kata pengacara itu. "Korban dari kampanye fitnah yang disusun oleh seorang mantan karyawan sekuritas yang sakit hati, bekerja sama dengan jurnalis yang mengejar sensasi. Dokumen-dokumen yang mereka sebar adalah hasil rekayasa. Email-email itu palsu. Dan yang lebih serius — data itu dicuri dari sistem internal perusahaan secara ilegal."
Damar menaruh ponselnya menelungkup di meja, seakan menutupinya bisa membuat kalimat itu hilang.
Arini duduk di seberangnya, wajah lebamnya masih menyisakan warna kuning kehijauan di pelipis. Ia tak menutupi layarnya. Ia menatapnya lurus.
"Mereka membalik cerita," kata Arini pelan. "Mereka selalu begitu. Saat tak bisa membantah angka, mereka serang orangnya."
"Pencurian data." Damar mengulang dua kata itu. "Mereka bisa memenjarakanku karena flashdisk Tito."
"Mereka mau kamu takut soal itu. Itu tujuannya." Arini menggeser secangkir teh ke arahnya. "Dengar. Mereka tidak menyangkal angkanya. Perhatikan baik-baik. Dia tidak bilang Cakrawala punya pelanggan industri di Sulawesi. Dia tidak bilang pendapatan Rp1,2 triliun itu nyata. Dia hanya bilang dokumennya curian dan kamu sakit hati. Itu pengakuan, Damar. Pengakuan yang dibungkus serangan."
Damar tahu Arini benar secara logika. Tapi logika tidak menghapus rasa di perutnya — rasa seperti tanah yang bergeser di bawah kaki.
Pintu kafe terbuka. Seorang perempuan muda dengan map plastik masuk, melihat ke sekeliling, lalu menghampiri meja mereka. Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara dari lembaga bantuan hukum yang bekerja sama dengan jaringan antikorupsi internasional. Namanya Maharani.
"Saya sudah lihat siaran tadi," kata Maharani, duduk tanpa diminta. "Mereka memakai tameng hukum. Strategi klasik. Mengubah perkara pidana penipuan triliunan menjadi perkara perdata pencemaran nama baik dan pidana pencurian data, supaya semua orang lupa pada uang yang hilang dan ribut soal cara dokumen itu didapat."
"Dan apa kabar uang yang hilang itu?" tanya Arini.
"Itu yang harus kita jaga. Jangan sampai pertanyaannya bergeser." Maharani membuka map. "Pak Damar, soal flashdisk. Anda bukan pencuri. Anda penemu kejahatan. Hukum di banyak negara melindungi peniup peluit — orang yang membongkar kejahatan dari dalam. Tapi di sini, perlindungan itu lemah. Jadi kita harus rapikan kronologinya: Anda menemukan kejanggalan dari data publik dulu — laporan keuangan yang dirilis Cakrawala sendiri ke bursa. Itu sah. Itu pekerjaan Anda. Flashdisk Tito hanya menguatkan, bukan sumber utama."
Damar mengangguk pelan. Ia mengingat malam pertama itu, di lantai 12 Gedung Mahanusa, ketika ia menemukan tujuh pelanggan fiktif hanya dari laporan tahunan resmi. Belum ada Tito waktu itu. Belum ada flashdisk.
"Awalnya cuma angka," kata Damar. "Pendapatan melonjak dari delapan puluh miliar jadi satu koma dua triliun dalam satu kuartal. Piutang membengkak hampir sebesar pendapatan. Tiga pelanggan tidak ada alamatnya. Itu semua dari dokumen yang mereka sendiri serahkan ke otoritas bursa. Tidak ada yang kucuri untuk menemukan itu."
Maharani tersenyum tipis. "Itu yang harus Anda katakan, persis seperti itu, kalau ditanya nanti. Kebenaran punya satu kelebihan dibanding kebohongan: ia tidak perlu dihafal."
Ponsel Arini bergetar. Ia membaca pesan, lalu wajahnya mengeras.
"Ahli forensik digital kita," kata Arini. "Yang menguji keaslian email. Dia baru saja dapat surat dari pengacara Wirananta. Tuntutan ganti rugi sepuluh miliar atas 'kesaksian palsu yang merusak reputasi'."
"Mereka mengejarnya," gumam Damar.
"Mereka mengejar semua orang yang bisa membuktikan email itu asli." Arini meletakkan ponsel. "Kalau ahli forensik kita ciut, dokumen kita jadi 'dugaan'. Kalau dia bertahan, mereka jadi 'bukti'."
Maharani menutup mapnya perlahan. "Maka pertempuran berikutnya bukan di koran. Di laboratorium."
Di layar yang masih menyala telungkup, suara pengacara berjas mengilap itu masih terdengar samar, meyakinkan dunia bahwa yang bersalah adalah yang menunjuk, bukan yang menipu. Damar mematikan ponselnya. Tangannya, ia sadari, sudah berhenti gemetar.