Mereka sampai di kampung pukul dua dini hari, lampu di belakang menghilang di sebuah simpang gelap dua kilometer sebelum desa — entah karena memang bukan pengejar, entah karena mereka tahu tak perlu lagi mengikuti orang yang menuju tempat yang sudah mereka awasi.
Rumah masa kecil Damar berdiri sunyi di ujung gang tanah, lampu teras menyala redup. Damar mengetuk dengan pola yang sudah disepakati lewat telepon prabayar tadi sore. Ibunya membuka pintu, wajahnya bingung dan takut melihat anaknya datang tengah malam diapit orang-orang asing berwajah keras.
"Damar? Nak, ada apa ini—"
"Bu." Damar memeluknya, singkat dan kuat. "Maaf. Maaf untuk semuanya. Ibu dan Bapak harus ikut kami sekarang. Tidak banyak waktu."
Ayahnya muncul dari dalam, tubuhnya yang renta tegang. Seorang lelaki tua yang seumur hidup bekerja jujur, kini diberitahu bahwa ada orang yang ingin membunuhnya karena pekerjaan anaknya. Damar melihat sesuatu retak di wajah ayahnya — bukan ketakutan, tapi rasa tak berdaya seorang ayah yang tak bisa lagi melindungi keluarganya dari dunia yang terlalu besar.
"Apa yang sudah kau perbuat, Nak?" tanya ayahnya pelan. Bukan menuduh. Bertanya.
Damar menelan ludah. "Hal yang benar, Pak. Dan hal yang benar ternyata mahal."
Pak Rusdi sudah bergerak cepat dan efisien. "Pak, Bu, ambil yang perlu saja. Surat penting, obat. Sepuluh menit. Jangan nyalakan lampu kamar depan."
Saat ibunya mengemas dengan tangan gemetar, Damar berjalan ke jendela samping dan mengintip ke gelap. Di seberang jalan, di balik pohon mangga tetangga, ujung sebuah rokok menyala terang, lalu redup. Lalu menyala lagi. Seseorang berdiri di sana, menonton. Sudah lama.
"Pak Rusdi," bisik Damar.
Rusdi melihat ke arah yang ditunjuk Damar, lalu mengangguk tenang, tangannya bergeser ke balik jaket. "Aku lihat. Tetap tenang. Selama mereka cuma menonton, mereka belum memutuskan. Kita keluar lewat pintu belakang. Mobil kedua sudah menunggu di jalan tani."
Sepuluh menit kemudian, keluarga itu menyelinap keluar lewat dapur, menembus kebun belakang yang gelap, kaki-kaki tua melangkah hati-hati di pematang. Damar memapah ibunya. Di belakang mereka, rumah masa kecilnya menjauh dalam gelap — rumah tempat ia tumbuh, kini jadi tempat yang tak lagi aman untuk dimasuki.
Tiga hari kemudian, orang tua Damar berada di sebuah rumah aman yang dikelola lembaga antikorupsi internasional, di kota yang berbeda, dengan identitas yang dijaga. Aman. Tapi terkurung. Ayahnya yang biasa menyiram tanaman tiap pagi kini duduk diam menatap dinding kamar yang asing.
Damar sempat menemui mereka sekali, singkat, sebelum dipisahkan demi keamanan. Ibunya menggenggam tangannya, tak menangis, hanya bertanya satu hal dengan suara yang ditahan agar tak gemetar: "Orang-orang yang kau lawan itu, Nak — mereka yang mencuri uang ibu-ibu di televisi itu — apa benar mereka sebesar itu?"
"Lebih besar, Bu," jawab Damar jujur. "Tapi mereka sudah mulai retak. Aku cuma butuh waktu."
Ayahnya, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Bapak tidak mengerti dunia saham, Nak. Bapak cuma petani. Tapi Bapak tahu satu hal. Orang yang mencuri dari ibu-ibu dan pensiunan — orang yang membunuh untuk menutupinya — itu bukan orang besar. Itu orang kerdil yang punya banyak uang. Jangan takut pada uang." Lelaki tua itu menepuk punggung tangan anaknya. "Bapak malu kalau kau berhenti sekarang."
Kata-kata itu mengganjal di dada Damar lebih lama dari ancaman mana pun yang pernah ia terima.
Damar dan Arini sendiri dipindahkan ke rumah aman yang lebih ketat, dikelola langsung lembaga internasional setelah rekaman Wirananta membuat ancaman terhadap mereka resmi dan terdokumentasi. Tembok tinggi, kamera, pengawal bergiliran. Tak boleh keluar tanpa izin. Tak boleh kontak keluar tanpa saluran aman.
"Kita selamat," kata Arini suatu malam, menatap pagar tinggi dari jendela. "Tapi kau perhatikan? Tiap kali kita menang satu langkah, dunia kita mengecil satu ukuran. Dulu seluruh kota. Lalu apartemen. Lalu penginapan. Sekarang rumah berpagar yang tak boleh kita tinggalkan."
Damar duduk di sebelahnya. "Kandang yang nyaman tetap kandang."
"Kau menyesal?"
Damar memikirkan ayahnya yang menatap dinding, ibunya yang gemetar mengemas. Lalu ia memikirkan ribuan ibu lain — para korban Cakrawala — yang tabungannya ludes, yang tak punya rumah aman untuk dilarikan.
"Tidak," katanya akhirnya. "Tapi aku ingin ini cepat selesai. Sebelum kandangnya mengecil jadi seukuran peti."
Mereka tertawa, getir, di rumah yang seharusnya melindungi mereka — tanpa tahu bahwa tembok yang mereka percaya itu menyimpan satu retak yang sudah lama dipasang dari dalam.