Pengawal itu bernama Bayu. Muda, sopan, rajin. Ia selalu menawarkan kopi pagi ke Damar, mengingat bahwa Arini tak suka gula, dan menjaga gerbang malam tanpa pernah mengeluh. Selama dua minggu, ia adalah wajah keamanan yang membuat Damar dan Arini bisa tidur sedikit lebih nyenyak.
Itulah yang membuat pengkhianatan selalu berhasil. Ia datang dari wajah yang sudah kau percaya.
Tanda pertama yang ditangkap Damar bukan sesuatu yang dramatis. Hanya kebiasaan analis: pola yang tak cocok. Bayu, suatu sore, bertanya santai apakah jadwal pemindahan rekaman bukti ke notaris "sudah pasti besok". Damar tidak pernah memberitahu siapa pun soal rencana pemindahan itu kecuali Arini dan Pak Rusdi, dalam ruangan tertutup. Bayu seharusnya tidak tahu kata "notaris" sama sekali.
Damar tidak bereaksi. Ia tersenyum, berkata "belum tahu, masih diatur," lalu malam itu juga menulis pesan ke Pak Rusdi lewat saluran aman, kata demi kata yang hati-hati.
Pak Rusdi datang diam-diam keesokan paginya, menyamar sebagai petugas perbaikan listrik. Mereka bertemu di ruang cuci, satu-satunya tempat tanpa jadwal patroli Bayu.
"Kau yakin?" tanya Rusdi.
"Aku tidak yakin dia pengkhianat," kata Damar pelan. "Aku yakin dia tahu sesuatu yang tak seharusnya dia tahu. Itu cukup untuk waspada. Periksa dia. Jangan bergerak sebelum kita tahu pasti."
Rusdi memeriksa. Dan yang ditemukan membuat darah Damar dingin. Bayu memang asli pengawal — direkrut melalui jalur yang sah, latar belakang bersih di atas kertas. Tapi tiga bulan lalu, adik perempuannya terlilit utang besar dengan rentenir yang, setelah ditelusuri, tersambung ke salah satu perusahaan cangkang dalam jaringan yang sama. Utang itu tiba-tiba lunas, dua bulan lalu. Tanpa penjelasan.
Mereka tidak membeli loyalitas Bayu dengan uang. Mereka membelinya dengan ketakutan terhadap nasib adiknya, lalu mengunci dengan utang yang dilunasi. Sama persis dengan cara mereka membeli Bayu seperti membeli Sutardjo, seperti membeli orang dalam di redaksi Arini. Selalu ada celah. Selalu ada orang yang dicintai untuk dijadikan sandera.
"Kita keluarkan dia diam-diam?" tanya Rusdi.
Damar menggeleng, lalu menatap Arini yang baru bergabung. "Tidak. Kalau kita keluarkan dia, jaringan tahu kita curiga. Mereka akan kirim orang baru, yang belum kita kenal. Lebih baik kita tahu siapa orangnya daripada bertaruh dengan yang tak kita kenal." Ia berpikir cepat, otak analisnya menyusun skenario. "Kita beri dia informasi palsu. Kita kendalikan apa yang dia laporkan."
Tapi rencana itu tak sempat dijalankan.
Malam itu, pukul satu, alarm tak berbunyi — karena alarm sudah dimatikan dari dalam. Damar terbangun bukan karena suara, tapi karena ketiadaan suara. Senyap yang salah. Ia bangkit, jantung berdebar, dan melihat dari celah pintu kamarnya: dua bayangan bergerak di koridor, bukan siluet Bayu, lebih besar, lebih hati-hati. Dan Bayu sendiri berdiri di ujung koridor, membuka kunci pintu samping dengan tangan gemetar, wajahnya pucat pasi dalam cahaya bulan — wajah orang yang membenci apa yang sedang ia lakukan tapi terlalu takut untuk berhenti.
"ARINI!" Damar berteriak, memecah senyap.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Lampu menyala — Pak Rusdi, yang ternyata sudah curiga dan tidur dengan satu mata terbuka di kamar sebelah, sudah bergerak. Teriakan. Bentrokan tubuh di koridor sempit. Pengawal jaga yang masih setia menerjang. Salah satu penyusup menabrak pintu samping yang dibuka Bayu dan kabur ke kegelapan kebun. Yang satu lagi terjatuh, ditindih.
Dan Bayu — Bayu berdiri membeku di tengah koridor, tak melawan, tak lari, hanya menangis tanpa suara, tangan terangkat.
"Adik saya," gumamnya, berulang-ulang, saat diborgol. "Mereka bilang adik saya..."
Damar berdiri di ambang kamar, napasnya memburu, Arini di belakangnya selamat. Percobaan pembunuhan pertama digagalkan — tipis, sangat tipis, hanya karena seorang analis memperhatikan satu kata yang tak pada tempatnya.
Pak Rusdi menatap Damar, dadanya naik turun. "Mereka sampai ke dalam, Damar. Sampai ke dalam tembok yang kita kira aman."
Damar menatap Bayu yang diseret keluar, lalu menatap pintu samping yang masih menganga ke arah malam. "Tidak ada tembok yang aman," katanya pelan. "Selama mereka punya orang untuk dicintai oleh setiap penjaga kita."