Setelah malam itu, seluruh sistem rumah aman dibongkar dan disusun ulang. Pengawal diganti total dengan tim dari lembaga internasional yang tak punya akar lokal untuk dijadikan sandera. Bayu menjadi saksi sekaligus tersangka — kesaksiannya, tentang siapa yang menghubunginya dan bagaimana, menambah satu mata rantai lagi ke jaringan yang perlahan terurai.
Damar pikir hari-hari itu hanya akan diisi menunggu sidang dan menghitung luka. Lalu, di pagi yang biasa, saluran aman berkedip dengan pesan dari nomor yang sudah lama hilang. Hanya satu kalimat:
"Ini Tito. Kalau ini benar kamu, balas dengan nama warung tempat kita ketemu pertama."
Damar menahan napas. Tito. Mantan staf akuntansi yang dulu memberinya flashdisk di warung kopi, yang lalu menghilang ketika namanya ikut bocor lewat pengkhianat redaksi. Selama berminggu-minggu Damar mengira Tito sudah mati, jadi nama lain dalam pola kematian yang ia susun.
Ia membalas, hati-hati, dengan detail yang hanya mereka berdua tahu.
Pertemuan diatur dengan kewaspadaan ekstrem, di bawah pengawasan Pak Rusdi dan tim internasional — di sebuah rumah singgah netral, bukan rumah aman utama, agar lokasi sesungguhnya tetap terlindung. Damar hampir tak mengenali Tito saat lelaki itu masuk. Kurus, janggut tak terurus, mata cekung orang yang berbulan-bulan tidur dengan satu telinga waspada. Tapi yang membuat Damar terenyuh bukan penampilannya — melainkan caranya berhenti di ambang pintu, memindai ruangan, mengukur jalan keluar, sebelum berani melangkah masuk. Begitulah cara hidup orang yang diburu.
"Kukira kau sudah mati, Mas," kata Damar pelan.
Tito tertawa kecil, suaranya parau. "Aku juga berkali-kali mengira begitu." Ia duduk, tangannya melingkari gelas teh seperti orang yang lupa rasa hangat. "Aku lari ke tempat di mana tak ada yang kenal namaku. Tukar pekerjaan tiap bulan. Tidur di tempat berbeda. Tapi aku capek, Damar. Capek sekali. Lari itu juga sejenis penjara."
"Kenapa kau kembali sekarang?"
Tito menatapnya lama. "Karena aku lihat beritanya. Rilis kedua. Aku lihat namamu, lihat Arini, lihat bahwa ini benar-benar bergerak. Selama ini aku diam karena yakin tak ada gunanya — jaringan terlalu kuat, semua yang melawan mati. Tapi sekarang..." Ia menelan. "Sekarang aku lihat ada kemungkinan ini menang. Dan aku tidak mau, sampai mati nanti, jadi orang yang tahu segalanya tapi memilih sembunyi. Aku tidak mau jadi pengecut yang membiarkan Pak Gunawan mati sia-sia."
Nama Gunawan menggantung di udara. Tito dan Gunawan dulu satu kantor.
"Aku mau bersaksi," kata Tito. "Resmi. Di pengadilan. Tapi ada syarat." Suaranya mengeras, satu-satunya hal yang ia tawar dalam hidupnya yang sudah serba kalah. "Keluargaku. Istri dan anakku. Mereka harus diamankan lebih dulu, sungguhan, sebelum aku buka mulut. Aku sudah lihat apa yang terjadi pada keluarga orang yang bicara. Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu."
"Itu bisa kami jamin," kata Pak Rusdi dari sudut ruangan. "Perlindungan saksi penuh. Lembaga internasional yang pegang, bukan aparat lokal."
Tito mengangguk perlahan, lalu merogoh tas usang di pangkuannya. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik yang dibalut berlapis-lapis, dijaga seperti barang paling berharga di dunia. Di dalamnya: sebuah buku catatan tua, lembarannya menguning.
"Ini milik Pak Gunawan," kata Tito, suaranya hampir berbisik. "Dia titipkan padaku seminggu sebelum dia... sebelum mobilnya masuk jurang. Dia bilang, 'Kalau aku kenapa-kenapa, ini bukti bahwa aku tidak gila.' Aku menyimpannya selama ini. Aku terlalu takut menyerahkannya. Aku pikir, selama benda ini ada padaku dan tak ada yang tahu, aku aman." Ia mendorong bungkusan itu ke arah Damar dengan tangan gemetar. "Tapi aku lelah jadi aman dengan cara mati pelan-pelan."
Damar membuka buku itu. Halaman demi halaman tulisan tangan rapi seorang auditor: tanggal, angka, nama pertemuan, dan di beberapa tempat, satu inisial yang berulang seperti cap kematian — "Pak W". Catatan Gunawan tentang tekanan yang ia terima untuk memalsukan angka, hari demi hari, sampai entri terakhir yang membuat tengkuk Damar dingin: tanggal, dan satu baris — "Salim datang lagi. Mengatakan agar aku 'berpikir tentang keselamatan keluarga'. Aku akan tetap melapor."
Tiga hari kemudian, Gunawan mati.
Damar menutup buku itu pelan, seolah menutup mata orang yang sudah lama tiada.
"Terima kasih, Mas Tito," katanya. Suaranya tercekat. "Pak Gunawan tidak mati sia-sia. Aku janji."