Buku catatan Gunawan mengubah segalanya. Untuk pertama kali ada suara dari kubur — bukti tertulis tangan korban sendiri, mendokumentasikan tekanan, ancaman Salim, dan inisial "Pak W", berakhir tiga hari sebelum kematiannya. Digabung dengan kesaksian Tito yang kini bersedia naik mimbar, dengan rekaman suara Wirananta, dengan kesaksian Sutardjo, kasus ini berubah dari tumpukan dokumen keuangan menjadi rangkaian pembunuhan terencana yang bisa diadili.
Jaksa kubu bersih bergerak cepat. Buku Gunawan diserahkan resmi sebagai barang bukti, dicatat, disegel, dimasukkan ke gudang penyimpanan barang bukti kepolisian bersama puluhan bukti fisik lain dari kasus Cakrawala: hard disk Damar yang asli, flashdisk Tito, dokumen cetak yang dulu dibawa Damar ke gudang blok C, semuanya.
Damar sempat ragu. "Apa di sana aman, Pak?"
"Itu prosedur resmi," kata Pak Rusdi. "Barang bukti harus disimpan di tempat resmi agar sah di persidangan. Tidak bisa kita simpan sendiri, nanti pengacara mereka bilang sudah dimanipulasi."
Damar mengangguk, tapi sesuatu di dalamnya tak tenang. Insting analis yang sama yang menyelamatkannya dari Bayu. Malam itu, sebelum buku Gunawan diserahkan ke gudang, ia melakukan satu hal diam-diam: ia memotret setiap halaman buku itu, satu per satu, dengan kamera resolusi tinggi, lalu mengenkripsi salinannya. Bukan karena ia tak percaya prosedur. Karena ia tak lagi percaya bahwa apa pun di negeri ini benar-benar di luar jangkauan jaringan.
Instingnya benar.
Sepuluh hari kemudian, pagi-pagi, Pak Rusdi datang ke rumah aman dengan wajah kelabu. Ia tidak duduk. Ia hanya berdiri, dan kalimat pertamanya menjatuhkan ruangan.
"Sebagian barang bukti hilang dari gudang penyimpanan."
Hening membeku.
"Apa maksudnya hilang?" suara Arini tajam.
"Hilang. Lenyap." Rusdi menggosok wajahnya. "Ada audit mendadak setelah laporan kebocoran. Tiga kotak bukti Cakrawala tidak sesuai catatan. Hard disk asli Damar — raib. Beberapa dokumen cetak — raib. Dan—" ia menatap Damar, dan Damar sudah tahu sebelum kalimatnya selesai "—buku catatan Gunawan. Tidak ada. Segelnya ada di buku registrasi, tapi kotaknya kosong."
Damar merasa darahnya turun ke kaki. Buku Gunawan. Bukti tertulis tangan korban. Yang dijaga Tito bertahun-tahun dengan nyawanya, lenyap dalam sepuluh hari setelah masuk ke tangan negara.
"Bagaimana mungkin?" Damar berdiri. "Itu gudang kepolisian. Terkunci. Tercatat. Ada petugas."
"Justru itu." Rusdi tertawa pahit, tawa orang yang sistemnya sendiri mengkhianatinya. "Tidak ada pembobolan. Tidak ada paksaan. Pintunya dibuka dengan kunci yang sah, oleh tangan yang punya akses sah. Ini bukan pencurian, Damar. Ini orang dalam, lagi. Di tubuh penanganan perkara itu sendiri. Seseorang dengan wewenang resmi mengeluarkan kotak itu dan tidak pernah mengembalikannya. Korupsi penanganan perkara — busuk sampai ke ruang penyimpanan bukti."
Damar terduduk. Sejenak ia merasakan keputusasaan yang nyaris menelannya. Sejak awal ia melawan kebohongan dengan bukti. Bukti adalah satu-satunya senjatanya yang membumi, satu-satunya yang membedakan dirinya dari sekadar penuduh. Dan sekarang jaringan menunjukkan bahwa mereka bisa menjangkau bahkan ke jantung sistem yang seharusnya menjaga bukti itu.
Arini berlutut di sampingnya, suaranya pelan tapi keras. "Damar. Mereka tidak akan repot-repot mencuri bukti yang tidak mematikan. Mereka mencuri buku Gunawan karena buku itu bisa menggantung mereka. Hilangnya buku itu adalah pengakuan betapa pentingnya buku itu."
Damar mengangkat kepala. Di kepalanya, di balik kabut keputusasaan, satu hal mulai menyala. Sesuatu yang ia simpan diam-diam di malam terakhir sebelum buku itu diserahkan.
"Pak Rusdi," katanya, suaranya mulai tegak kembali. "Mereka mencuri bukunya. Bukan isinya."
Rusdi mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Damar berdiri, berjalan ke laptop, jarinya bergerak cepat membuka folder terenkripsi. Di layar, satu per satu, muncul halaman buku catatan Gunawan — terang, tajam, terbaca: tanggal, angka, inisial "Pak W", dan entri terakhir tentang ancaman Salim, tiga hari sebelum mobil masuk jurang.
"Mereka membakar mayatnya," kata Damar, menatap layar tempat tulisan tangan orang mati itu bersinar. "Tapi aku punya bayangannya."
Arini berdiri di sampingnya, dan untuk pertama kali sejak pagi yang kelabu itu, ia tersenyum tipis — senyum orang yang baru saja melihat lawan melakukan kesalahan fatal.
"Mereka pikir mereka menghapus bukti," katanya. "Yang mereka lakukan sebenarnya membuktikan satu hal lagi: ada tangan kotor di dalam kepolisian sendiri. Dan kali ini, kita tahu di mana harus mencari." Ia menatap Damar. "Pertanyaannya cuma — siapa yang punya kunci sah ke gudang itu. Dan berapa harga diamnya."
Di luar jendela rumah aman, hujan mulai turun, membasahi pagar tinggi yang menjaga mereka. Di dalam, di layar laptop, seorang auditor yang sudah mati terus bicara — lewat salinan bayangan yang tak bisa mereka curi.