Kabar itu sampai ke rumah aman lewat telepon Arini, pukul sebelas malam. Sebagian barang bukti fisik raib dari gudang penyimpanan kepolisian — flashdisk asli Tito, hard disk yang Damar serahkan di gudang blok C, bahkan amplop berisi dokumen cetak yang sudah diberi nomor register perkara. Hilang. Seperti uap.
Damar duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang masih menyala. Di luar jendela, hujan turun pelan, membasahi pagar beton rumah aman di pinggiran kota.
"Kamu dengar aku?" suara Arini terdengar tegang. "Mereka bilang ada kekeliruan pencatatan. Kekeliruan. Tiga kotak bukti."
"Aku dengar," kata Damar. Anehnya, ia tidak panik. Sesuatu di dadanya justru mengeras, dingin dan tenang. "Mereka pikir kalau bukti fisiknya hilang, kasusnya ikut hilang."
"Memang begitu cara kerjanya, Damar. Tanpa barang bukti, pengacara Salim akan bilang semuanya rekayasa."
Damar menutup matanya sebentar. Ia teringat malam di perpustakaan kota tua, berbulan-bulan lalu, ketika ia menyalin isi flashdisk Tito ke komputer publik dan mengirim versi terenkripsi ke email anonim cadangan. Saat itu ia hanya bertindak karena takut. Ia tidak tahu kebiasaan paranoid itu akan menyelamatkan seluruh perkara.
"Arini," katanya, "aku punya salinan bayangan."
Hening sejenak di seberang.
"Apa maksudmu?"
"Setiap kali aku memegang bukti penting, aku selalu bikin dua salinan terenkripsi. Satu di email anonim, satu lagi di server cadangan yang aku sewa pakai uang tunai, atas nama palsu. Email pengakuan Salim soal Gunawan, tabel angka riil versus angka publikasi, daftar pemegang saham pejabat — semua ada. Lengkap. Dengan metadata aslinya."
Ia mendengar Arini menarik napas. "Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?"
"Karena selama bukti fisik masih aman, salinan bayangan itu cuma cadangan. Sekarang dia bukan cadangan lagi. Dia satu-satunya yang tersisa."
Pagi berikutnya, sebelum matahari benar-benar naik, Damar dan Arini bertemu pendamping hukum dari lembaga antikorupsi internasional di sebuah kantor notaris di pusat kota. Pendamping itu, perempuan bernama Maharani, sudah menyiapkan prosedurnya semalaman.
"Kita tidak bisa mengandalkan satu pintu lagi," kata Maharani sambil membuka laptopnya. "Sekali bukti masuk lewat satu pintu, satu pintu bisa membocorkannya, menghilangkannya, atau memalsukannya. Jadi kita buka banyak pintu sekaligus."
Rencananya sederhana tapi rapat. Damar akan men-decrypt salinan bayangan di hadapan notaris. Notaris membuat berita acara: tanggal, jam, isi, nilai hash digital tiap berkas — sidik jari matematis yang membuktikan file tidak diubah sejak hari ia dibuat. Salinan itu lalu dipecah: satu set diserahkan ke kantor notaris untuk disimpan, satu set ke lembaga antikorupsi internasional, satu set ke konsorsium jurnalis lintas negara yang sudah bekerja sama dengan Arini.
"Begitu hash-nya dicatat dan disebar," kata Maharani, "tidak ada lagi yang bisa bilang ini palsu. Kalau ada yang mencoba mengubah satu angka pun, hash-nya berubah, dan semua orang langsung tahu."
Damar mengetik kata sandi panjang yang sudah ia hafal di luar kepala, kata sandi yang tidak pernah ia tulis di mana pun. Layar memuat folder demi folder. Email Salim — Soal Gunawan sudah saya tangani — muncul lengkap dengan kepala surat, waktu kirim, alamat server. Tabel selisih ratusan miliar. Daftar nama yang membuat Maharani sampai berhenti membaca dan menatap Damar.
"Kamu sadar apa yang kamu pegang?" tanya Maharani pelan.
"Aku sadar sejak malam pertama," jawab Damar.
Notaris membubuhkan stempel pada berita acara. Pena bergerak di atas kertas, lambat, formal, dan dalam kelambanan itu Damar merasakan sesuatu yang nyaris seperti kemenangan kecil. Bukan kemenangan yang gemerlap. Hanya sebuah dokumen, sebuah stempel, sebuah catatan resmi bahwa kebenaran ini sekarang ada di tujuh tempat sekaligus dan tidak bisa dilenyapkan dari salah satunya tanpa ketahuan.
Maharani menutup laptopnya. "Sore ini saya kirim ke Den Haag dan ke tiga redaksi. Begitu mendarat di sana, perkara ini sudah di luar jangkauan siapa pun di negeri ini yang mau menguburnya."
Di mobil, dalam perjalanan kembali, Arini bersandar di kursi dan menutup matanya. "Mereka mencuri kotak yang salah," gumamnya. "Mereka pikir mereka mencuri jantungnya. Padahal jantungnya ada di kepalamu."
Damar menatap jalanan basah di luar jendela. Ia tidak tersenyum. Ia tahu, di suatu tempat, ada orang yang baru saja menyadari bahwa pencurian semalam itu sia-sia — dan orang seperti itu tidak akan diam. Mereka akan mencoba cara lain. Cara yang lebih kotor.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Maharani: Sidang perdana dipercepat. Lusa. Salim didakwa pertama.
Damar membaca dua kali. Lalu ia menyimpan ponselnya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ujung dari semua ini mulai terlihat — masih jauh, masih berbahaya, tapi terlihat.